Milenial Bertani, Mengapa Tidak

milenial bertani
PETANI MILENIAL : Foto bersama asat kunjungan ke P4S Alam Cemerlang Sejahtera di Desa Sungai Kunyit. Kehadiran petani milenial sangat diharapakan dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan. HUMAS DISTAN TPH KALBAR

PONTIANAK – Salah satu tantangan terbesar pembangunan pertanian di Indonesia saat ini adalah minimnya minat generasi milenial untuk bertani. Jika hal ini terus berlanjut, maka di masa mendatang Indonesia akan kekurangan petani. Akibatnya, kedaulatan dan ketahanan pangan pun terancam.  Karena itulah, minat menjadi petani harus ditumbuhkan pada generasi milenial.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Heronimus Hero menuturkan, dengan semangat sumpah pemuda serta keinginan yang besar untuk ikut berkontribusi untuk negara, salah satunya adalah dengan menjadi petani milenial. Menurutnya, profesi tersebut, menjadi salah satu pilihan untuk mewujudkan generasi muda yang produktif.

“Saat ini Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Oleh kerena itu, penduduk usia produktif di Indonesia tersebut harus juga bisa produktif dalam berbagai hal dan satu di antaranya di sektor pertanian dengan menjadi petani milenial,” ujar dia, Senin (28/10).

Menurutnya, masa depan pertanian Indonesia pasti akan beralih ke generasi yang lebih muda. Saat ini, menurut data dari Survei Pertanian 2013, Badan Pusat Statistik mengungkapkan bahwa 57 persen petani di Indonesia berusia lebih dari 45 tahun. Sisanya petani yang berumur 45 tahun ke bawah. Kurangnya sumber daya manusia yang berminat bergerak di bidang ini, tentunya akan menjadi ancaman bagi keberlangsungannya di masa mendatang.

Dikatakan dia, anak muda adalah harapan bagi masa depan pertanian berkelanjutan di Indonesia. Karena itu, penyiapan mereka di bidang ini harus secara konsisten dilakukan sesuai dengan tuntutan zaman. “Anak muda  dituntut harus lebih menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta menerapkan teknologi informasi,” kata dia.

Hero mengatakan, saat ini terdapat sejumlah Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) yang bisa menjadi satu di antara mitra pemerintah dalam membentuk kemampuan SDM petani milenial. Pusat pelatihan tersebut, diharapkannya dapat mencetak petani milenial yang siap berkontribusi secara produktif di sektor penting ini. “Cukup banyak P4S di Kalbar yang siap menampung aktivitas magang baik untuk masyarakat umum, para pelajar serta mahasiswa,” kata dia.

Hero menyebut, beberapa pusat penilitian yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk belajar, di antaranya, P4S Alam Cemerlang Sejahtera di Desa Sungai Kunyit, P4S Purun Agro Lestari di Desa Purun, P4S Jas-B di Singkawang, serta P4S Gapoktan Sumber Makmur di Kuala Ambawang. Dia menilai, kerja praktek di P4S sangat efektif karena langsung terjun ke bidang agrobisnis secara nyata, sehingga dapat menjadi pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga bagi para petani milenial untuk membuka lapangan usaha sendiri di sektor ini.

Pihaknya saat ini juga memberikan perhatian pada regenerasi pengusaha tani di Kalbar, mengingat sektor pertanian memiliki peranan yang penting bagi kelangsungan hidup orang banyak. “Selama orang butuh makan pertanian dibutuhkan. Pertanian sangat strategis,” pungkas dia. (sti)

error: Content is protected !!