Minat Baca dan Kepekaan Sosial

Halidi, S.Pd.

Penulis Halidi, S.Pd.

KEBERADAAN gadget di zaman sekarang ini cenderung melenakan para guru untuk membaca buku dan peka terhadap teman sejawat. Dalam hitungan jam, entah berapa kali seorang guru memegang HP untuk sekedar membaca WA dan status terbaru Facebooknya. HP sudah menjadi teman setia, tidak jarang jika istirahat tiba, guru lebih memilih sendiri dari pada ngobrol santai bersama rekan se-profesinya. Senyum sendiri, kadang ketawa terbahak-bahak dan ada juga yang memilih diam seribu bahasa tapi jari jemari tetap lincah memainkan keyboard HP-nya. Ini bukan opini tetapi fakta yang sering terjadi dan sebisa mungkin agak dikurangi. Kebiasaan ini jika diteruskan akan menimbulkan suatu wabah yang bernama ketergantungan. Gadget sebenarnya banyak manfaatnya untuk kelangsungan hidup manusia. Tetapi jika waktu kita habis hanya untuk membaca status terbaru dan update status diri di Facebook ini sangat merugikan. Lain lagi dengan kesibukan membalas di grup WhatsApp yang kadang-kadang HP-nya bisa hampir error.

Lambat laun budaya itu akan berpengaruh pada budaya baca guru dan kepedulian terhadap sesama. Guru tidak lagi hobby membaca buku apalagi bertegur sapa dan sekadar bertanya kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan sehari hari rekan  sejawat atau keluarganya. Guru merasa lebih enjoy untuk terus gentayangan di dunia maya ketimbang mendalami isi bacaan sebuah buku. Tetapi jika keberadaan gadget digunakan untuk mendownload aplikasi yang meningkatkan mutu guru itu sangat baik. Karena dewasa ini ada fitur gadget yang bisa membuat aplikasi pembelajaran berbasis android.

Survey membuktikan bahwa ketika dalam suatu forum atau pertemuan jarang guru yang bertegur sapa, itu pun  jika ada hanya beberapa persen saja. Begitu dalam sebuah keluarga, semua sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Si ayah sibuk dengan membalas Whatsaff rekan kerjanya, sedangkan si ibu mengamati  perkembangan bunga keladi di FB dan Instagram,  si anak hobbi mengotak atik game terbarunya.

Memang benar jika penelitian mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Apa yang dikatakan UNESCO memang tidak dinafikan lagi kevalidannya.

Hal ini sangat berbeda dengan Negara Jepang. Di Negara Jepang minat baca sangat tinggi. Di dalam perjalanan saja mereka bisa menyelesaikan membaca satu buku. Guru dituntut untuk bisa mengarahkan siswanya membuat sebuah penemuan. Di Finlandia hampir setiap hari mereka berdiskusi merancang pembelajaran yang terbaik buat siswanya. Hal ini tentunya ide-ide mereka dapat dari banyak membaca buku dan searching tentang pendidikan di dunia maya. Bagaimana dengan kita?

Banyak diantara kita yang belum memahami betapa pentingnya membaca. Bagi seorang guru membaca adalah sebuah bekal jika bepergian. Jika kita tidak membawa uang apakah kita dapat membeli sesuatu. Begitu juga jika sebagai guru jika kita belum membaca maka tidak ada bekal kita untuk mengajar kepada peserta didik. Yang harus kita sadari bahwa kebiasaan membaca dan berburu buku tidak bisa dilaksanakan secara instan. Hanya mereka yang maju dan berpikir positif bisa melakukan kebiasaan ini.

Efek negatif ketergantungan gadget berpengaruh juga kepada hubungan sosial di masyarakat. Dewasa ini budaya silaturrahmi mulai usang. Banyak anak seumur SMP dan SMA tidak mengenal nama keluarganya. Ia malah mengenal nama-nama pemain sinetron, pesebakbola dan lain sebagainya . Mereka juga kadang tidak lagi mendengar perintah orang tuanya. Malah asyik bermain game dan lain lain. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengingatkan dan memantau penggunaan gadget mereka. Kita juga selalu mengajarkan bahwa pentingnya peka terhadap lingkungan keluarga dan menjaga etika  ketika di rumah,,sekolah dan lingkungan sosial masyarakat.

Mari kita ubah paradigma apatis kita bahwa guru tidak perlu lagi belajar. Ingat bahwa belajar itu tidak ada batasnya.  (long life education). Menjadi guru berarti menjadi manusia yang selalu haus dengan ilmu. Sesuai dengan hadits Rasulullah yang mengatakan.

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”.

Yang terpenting  juga kita sebagai guru harus peka terhadap sesuatu dan tidak terbuai oleh arus globalisasi, kecanggihan teknologi  sangat membantu kita tetapi tidak lupa kita, harus sadar bahwa teknologi  juga bisa menghalangi kita untuk menjauhkan kita dari kepekaan sosial, membuat lalai dan menghanyutkan. Semoga kita terhindar dari pengaruh negatif gadget.

*Guru SMKN 1 Jawai Selatan, Kab.Sambas.

error: Content is protected !!