Mitigasi Maraknya Prostitusi Anak

PRAKTIK prostitusi online di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Fenomena ini bahkan tidak hanya dilakukan kalangan dewasa, tapi juga remaja. Lantas, bagaimana orang tua menghadapi permasalahan ini agar buah hati tercinta tidak terjerumus ke dalamnya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Desember 2020, masyarakat Pontianak dikejutkan dengan praktik prostitusi online. Mirisnya 10 dari 28 orang yang ditangkap adalah anak di bawah umur. Hal ini tentu membuat sebagian orang bertanya, bagaimana anak di bawah umur bisa terlibat dalam prostitusi online? Lantas, bagaimana psikolog melihat hal ini?

Psikolog Sarah, M.Psi mengatakan masalah prostitusi online ini sudah banyak dikaji secara ilmiah, salah satunya dalam penelitian psikologi. Merujuk ke beberapa sumber penelitian yang sudah pernah ia baca, prostitusi online erat kaitannya dengan kondisi ekonomi dan tuntutan gaya hidup.

Di samping itu ada faktor lain yang juga turut berperan, antara lain religiusitas (pemahaman dan penerapan ajaran agama). Serta, pergeseran nilai budaya dan kondisi keluarga. Berbicara mengenai dampak psikologis tentu saja ada. Dampak psikologis berhubungan dengan pemaknaan dari setiap orang.

“Jadi, walaupun situasi yang dialami sama, dampak psikologis bisa jadi berbeda,” ucapnya.

Dalam pandangan psikolog, untuk remaja yang berkaitan dengan prostitusi (baik online maupun offline), tentu perlu diberi pendampingan untuk memperkuat kondisi psikologis dan perilaku agar tidak mudah kembali ke arus prostitusinya.

“Serta, mampu menemukan pemecahan masalah yang efektif untuk dirinya,” sambung Sarah.

Psikolog di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPP-PA) Kalbar ini menuturkan orang tua berperan besar terhadap hal ini, apalagi jika anak sudah terlanjur terlibat. Diharapkan kerja sama dari orang tua dalam upaya pemulihan anaknya. Perlu ditanamkan dua hal bahwa, pertama tidak ada anak yang terlahir untuk melibatkan dirinya pada arus prostitusi (baik online maupun offline), sehingga perlu dikembalikan pada fitrahnya.

Kedua, ketika salah satu anggota keluarga mngalami hambatan, maka diperlukan kesediaan setiap anggota keluarga untuk turut berubah supaya fungsi keluarga dalam pembentukan karakter anak dapat kembali pada kondisi pengasuhan yang diharapkan.

Sarah berharap ada pembelajaran dan hikmah yang dipetik remaja yang terlibat dalam kasus prostitusi online ini. Tapi, seberapa dalam hikmah yang dipetik tersebut kembali lagi kepada pribadi masing-masing.

Setiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda. Untuk mengembalikan atau memulihkan kondisi psikis dan perilaku yang berkaitan dengan prostitusi (secara umum, bukan hanya pada remaja yang terkait kasus booking online) bukanlah hal yang mudah.

Perlu untuk ‘menginstal ulang’ pemahaman mengenai ajaran agama dan menata ulang tujuan yang ingin dicapai. Ibaratnya program komputer yang sudah diinstal, maka harus ‘dioperasikan’ dalam perilaku sehari-hari agar pemahaman bukan sekadar pengetahuan belaka tetapi menunjukkan perubahan perilaku yang positif.

Selain itu, juga memberikan penguat kepada keluarga agar kedepannya keluarga dapat menjadi faktor penguat untuk mencegah kembali terlibat dalam kasus prostitusi online.

Menghindarkan anak agar tidak terjerumus dalam kasus ini? Sarah menjawab dinamika keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak, seperti pengasuhan orang tua, relasi orang tua dan anak yang saling menumbuhkan rasa percaya, penanaman nilai agama dan norma sosial-budaya.

Jika kondisi keluarga kuat, dalam arti saling mendukung maka cobaan kehidupan seperti kesulitan ekonomi, gaya hidup hedonis, pergaulan bebas dan lainnya, tidak akan membuat remaja mudah untuk memilih prostitusi online sebagai jalan keluar untuk mendapatkan status ekonomi dan gaya hidup yang materialis.

Untuk mencegah anak terlibat dalam prostitusi (baik online maupun offline) berawal dari lingkungan keluarga sebagai masyarakat terkecil, yaitu pengasuhan orang tua terhadap anak. Kemudian memperkuat fondasi iman, orang tua mengenalkan dan mendampingi anak dalam pergaulan yang memiliki nilai positif, misalnya dalam hal menyalurkan hobi dan bakat, kelompok agama, kelompok belajar, kelompok olah raga dan lainnya.

“Serta, dapat juga mengajarkan anak sedari kecil pola hidup yang tidak hanya memandang segi materil saja,” pesannya.**

error: Content is protected !!