Mitos dan Fakta Seputar Tidur dan Olahraga

Ilustrasi

Berolahraga dan istirahat yang cukup penting diterapkan, terlebih di saat ini, tengah berlangsung pandemi Covid-19. Namun, tahukah anda banyak hal yang dianggap fakta dalam berolahraga dan tidur ternyata mitos.

Ramses Tobing, Pontianak

Berolahraga secara teratur sangat penting. Apalagi saat pandemi Covid-19. “Tubuh harus terus aktif bergerak, karena itu penting untuk menjaga fisik agar tetap sehat,” kata Rendy Dijaya Muliaya, Health dan Nutrition Science Nutrifoof saat Webinar Kupas Tuntas Mitos dan Fakta Tidur serta Olahraga, Kerjasama Nutrifood dan Aliansi Jurnalis Independen, Senin (8/2).

Rendy mengatakan banyak informasi yang berkaitan olahraga tersebar luas dan diyakini kebenarannya. Namun ternyata itu mitos. Sebagai contoh, masyarakat meyakini olahraga harus dilakukan setiap hari.

Faktanya hanya cukup dilakukan 150 menit per minggu. Kurun waktunya pun bisa dibagi. Jika melakukan olahraga aerobik dan dilakukan dalam lima hari, maka hanya cukup 30 menit per hari.

Sebaliknya jika melakukan olahraga berat maka cukup 75 menit per minggu. Bisa juga dibagi menjadi 25 menit setiap hari dalam kurun waktu tiga hari. “Olahraga tiap hari itu bukan keharusan, otot tetap butuh istirahat untuk pemulihan, paling tidak satu hari,” kata Rendy.

Begitu juga dengan waktu. Olahraga sore hari dianggap lebih bermanfaat dibandingkan pagi hari adalah mitos. Menurutnya belum ada penelitian waktu tertentu untuk berolahraga memberikan manfaat yang lebih bagi tubuh.

Justru ketika konsisten berolahraga dalam waktu tertentu dan dilakukan dengan bahagia memberikan dampak yang baik bagi tubuh. Namun tidak hanya olahraga yang harus dilakukan secara konsisten tapi juga istirahat dan nutrisi yang cukup. Jangan lupa juga, dalam berolahraga harus enjoy dan bahagia.
“Dua hal ini bisa menunjang manfaat olahraga agar lebih maksimal,” imbuhnya.

Dalam berolahraga diyakini semakin banyak berkeringat yang keluar menandakan olahraga yang dilakukan itu semakin baik. “Sebenarnya itu mitos,” kata Rendy.
Setiap orang berbeda pengeluaran keringatnya. Kondisi itu dipengaruhi, jenis kelamin, kebugaran tubuh, genetik, luas permukaan tubuh, berat badan, jenis pakaian hingga lingkungan.

Seberapa banyak keringat yang keluar itu tidak bisa menjadi indikator seberapa baik olahraga yang telah dilakukan. Bila seseorang berolahraga dan mengeluarkan banyak keringat, bisa saja disebabkan kondisi fisik, jenis olahraga, hidrasi suhu hingga kelembaban lingkungan.
“Jadi yang terpenting, olahraga dengan cara yang tepat, waktu yang cukup maka mendapatkan hasil yang maksimal,” jelas dia.

Dalam berolahraga pun diyakni kurang efektif jika tidak merasa nyeri atau pegal setelah berolahraga. Padahal jika merasa nyeri atau pegal, berarti ada yang salah dalam olahraga. Bisa saja teknik berolahraganya salah atau terlalu berlebihan.

Kondisi itu dialami jika mencoba olahraga baru atau mengubah durasi dan intensitas menjadi lebih berat secara tiba-tiba. Pada dasarnya, olahraga tidak menyebabkan rasa nyeri.

Sebagai contoh olahraga jalan santai, bersepeda, atau jogging yang dapat memberikan manfaat kesehatan, selama memenuhi standar. “Jadi sebenarnya anggapan itu adalah mitos,” kata Rendy.

Begitu juga dengan anggapan wanita jangan angkat beban karena bisa membuat ototnya menjadi besar. Menurut Rendy itu mitos. Wanita dan pria berbeda secara fisiologis.

Dalam membentuk otot, pria memiliki hormone testosterone yang lebih banyak, sehingga lebih mudah dan cepat membentuk otot dibandingkan wanita.

Justru olahraga angkat beban memiliki manfaat. Antara lain tulang lebih kuat, meningkatkan kekuatan, membantu pembakaran lemah dan mencapai body goal yang lebih ideal.

Hal lain yang dipercaya masyarakat ialah, meminum minuman berenergi baik untuk memulihkan kondisi tubuh. Sebenarnya untuk memulihkan kondisi tubuh usat berolahraga, selain air adalah susu. Susu mengandung karbohidrat dan protein untuk memulihkan tenaga maupun recovery otot.
“Jadi minuman energi bukan untuk memulihkan kondisi tubuh, melainkan meningkatkan performa olahraga sehingga itu adalah mitos,” jelas dia.
Olahraga diyakini dapat memulihkan stamina tubuh saat sakit. Anggapan ini sebenarnya mitos. Sebab olahraga ringan bukan memulihkan stamina tubuh, tetapi meringankan gejala sakit.

Sebagai contoh, jika gejala batuk, pilek atau sakit tenggorokan, maka bisa dicoba untuk jogging selama 10 menit. Olahraga bisa dilanjutkan ke tingkat moderat jika tidak ada keluhan. Sebaliknya dihentikan jika memang ada gejala yang tidak nyaman.
“Beda halnya jika mengalami kram perut, sesak napas, atau gejala demam dan pegal otot, tidak dianjurkan berolahraga. Dalam kondisi itu sebaiknya beristirahat yang cukup dan menjaga asupan gizi untuk tubuh,” jelas dia.

Lalu bagaimana mitos seputar tidur? Seseorang rela menghabiskan akhir pekannya dengan tidur, untuk mengganti kurang tidur di hari kerja. Padahal itu mitos.

Justru membayar kekurangan tidur dan melakukannya di akhir pekan tidak efektif dalam mencegah perubahan metabolisme yang terjadi akibat kurang tidur di hari kerja.

Dalam penelitian tahun 2019, menunjukkan tidur balas dendam dapat menurunkan sensitivitas insulin, meskipun ada penurunan asupan makanan di malam hari.
“Orang yang kurang tidur dan tidur balas dendam efek negatifnya sama saja. Lebih baik mengatur pola tidur agar cukup setiap hari dan lakukan secara konsisten,” kata dia.

Begitu juga dengan tidur siang. Faktanya memang lebih bermanfaat bagi tubuh. Meskipun durasinya tidak lama dan bukan merupakan keharusan. Namun mesti diketahui tidur siang tidak bisa mengganti kekurangan tidur malam.

Tidur siang terlalu lama dapat mengganggu fokus saat bangun dan waktu tidur di malam hari. Sehingga, durasi ideal untuk tidur siang adalah 20 menit.

Mendengkur adalah paling sering dialami saat tidur. Namun perlu diketahui juga bahwa mendengkur bukan berarti tidurnya pulas. Mendengkur disebabkban aliran udara pernapasan tenggorokan sehingga menyebabkan jaringan bergetar saat bernapas.

Mendengkur justru bisa mengganggu kualitas tidur, utamanya pada penderita sleep apnea. Bagi penderita, akan terbangun saat tidur karena kehabisan napas. Kondisi ini berdampak pada tubuh yang terasa tidak segar saat bangun pagi, sehingga terasa kantuk sepanjang hari.
“Jika dibiarkan berlarut-larut berbahaya bagi kesehatan, sehingga perlu dikonsultasikan ke dokter. Jadi ketika mengganggap mendengkur itu menandakan tidur lebih nyenyak adalah mitos,” jelas dia.

Lalu kondisi ruang tidur dengan cahaya yang remang-remang berkaitan dengan lebih tingginya risiko depresi pada lanjut usia apabila dibandingkan dengan kondisi gelap total. Ini berdasarkan sebuah penelitian di Jepang.

Namun bukan berarti tidur dalam kondisi gelap baik untuk semua orang. Sebab penelitian lain menyebutkan mereka yang sulit tidur ternyata lebih merasa tidak nyaman dan lebih mudah terkejut dalam kondisi gelap.

Oleh karena itu, kondisi ruang tidur tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. “Jadi, tidur dengan lampu temaram lebih baik dibandingkan gelap total adalah mitos,” sebut Rendy. Jadi itu mitos dan fakta tentang olahraga dan tidur. (*)

error: Content is protected !!