Modul Membimbing Siswa Belajar di Masa Pandemi

Musyahadah

Oleh: Musyahadah

DI masa pandemi yang belum tahu kapan akan berlalu, menghambat berbagai aktivitas manusia salah satunya dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah terpaksa ditutup untuk tidak melakukan pembelajaran tatap muka. Hal ini menghambat siswa menuntut ilmu di sekolah. Juga membebani para orang tua menggantikan peran guru di sekolah untuk membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi orang tua yang tidak ada waktu untuk mengajari anaknya karena sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Sehingga anak akan sulit untuk belajar sendiri tanpa bimbingan orang tua.

Daring merupakan cara belajar di masa pandemi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka di sekolah. Seperti belajar daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting, Google Classroom, dan aplikasi pembelajaran daring lainnya yang mendukung. Siswa dengan mudah mengakses internet sebagai sarana pembelajaran. Itu semua dapat berjalan dengan lancar jika anak di rumah memiliki gawai dan laptop yang disiapkan orang tua.

Pada umumnya hanya sekolah tertentu saja yang ekonomi orang tuanya menengah ke atas yang dapat memfasilitasi semua kebutuhan anak belajar daring. Sehingga mempermudah guru dan siswa dalam proses belajar mengajar jarak jauh. Bagi sekolah yang rata-rata orang tuanya ekonomi kelas bawah, gawai dan laptop menjadi barang langka untuk anaknya.

Terutama sekolah pinggiran kota atau perkampungan, siswa yang punya gawai dan laptop bisa dihitung dengan jari. Sehingga belajar daring tidak berjalan dengan semestinya. Ini merupakan masalah bersama para guru maupun siswa. Buku paket yang dibagikan ke siswa merupakan solusi agar mereka dapat belajar di rumah karena tidak memiliki gawai untuk belajar daring.

Namun tidak semua sekolah bisa mencukupi kebutuhan buku paket untuk siswa. Contohnya jumlah buku tidak sebanyak jumlah siswa. Penyebabnya karena kurangnya dana operasional sekolah yang tidak bisa membeli banyak buku paket. Bisa juga karena jumlah siswa sekarang lebih banyak dari jumlah siswa terdahulu, sehingga buku paketnya kurang.

Seperti yang dialami guru-guru SDN 66 Pontianak Kota menyambut tahun ajaran baru 2020/2021, memiliki masalah yaitu keterbatasan siswa yang sedikit saja mempunyai gawai pribadi, sehingga belajar daring tidak berjalan lancar. Guru mengambil inisiatif untuk membagikan buku paket ke siswa agar mudah belajar di rumah. Tetapi terdapat kendala, yaitu jumlah buku paket yang akan dibagikan kurang, karena jumlah siswa yang lebih banyak dari sebelumnya.

Selain itu siswa kelas III dan VI baru tahun ini belajar kurikulum 2013, sehingga buku paket baru di pesan bersamaan dengan pesanan buku yang kurang. Maka guru harus menunggu pesanan buku yang datang. Buku yang dipesan ternyata belum datang sampai waktu yang ditentukan. Sehingga semua siswa sementara waktu tidak bisa belajar menggunakan buku paket.

Hal ini tentunya menjadi kendala bagi guru dan siswa untuk memulai proses belajar mengajar jarak jauh. Untuk mengatasi keterlambatan buku yang datang dan belum tahu pasti kapan bukunya datang, guru memiliki solusi. Masalah tersebut dapat diatasi dengan dibuatnya modul pembelajaran oleh guru.

Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh siswa (Depdiknas, 2008: 3). Modul disebut juga media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Artinya, siswa dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran guru secara langsung. Bahasa, pola, dan sifat kelengkapan lainnya yang terdapat dalam modul ini diatur seolah-olah merupakan “bahasa pengajar” atau bahasa guru yang sedang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya secara tidak langsung.

Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal (Mulyasa, 2003: 44). Tidaknya hanya di sekolah, siswa juga mudah belajar sendiri di rumah dengan modul.

Guru harus mampu membuat modul pembelajaran yang baik dan menarik untuk siswa belajar. Modul dapat dikatakan baik dan menarik jika memenuhi kriteria bentuk dan tampilan modul sebagai berikut (Depdiknas, 2008: 3-5); 1) Format, modul hendaknya menggunakan format kolom, format kertas, format pengetikan dan tanda-tanda penekanan yang proposional dan konsisten; 2) Organisasi, modul hendaknya menggunakan organisasi yang mudah diikuti baik dari tampilan peta konsep, susunan materi dan alur materi; 3) Daya Tarik, modul hendaknya memiliki daya tarik dari segi penampilan sampul modul, gambar dan ilustrasi, penempatan bentuk huruf dan kombinasi warna, dan pengemasan tugas serta latihan; 4) Ukuran Huruf, modul hendaknya menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca, proposional, dan tepat dalam penggunaan huruf capital; 5) Bahasa, bahasa dalam modul hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku, komunikatif, kalimat yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda dan mudah dipahami; 6) Konsistensi, modul hendaknya menggunakan jarak spasi yang rapi antar bagiannya serta bentuk dan ukuran huruf yang konsisten dari halaman ke halaman.

Dapat disimpulkan modul pembelajaran merupakan salah satu solusi terbaik bagi sekolah yang memiliki masalah kekurangan buku paket. Terutama sekolah-sekolah di daerah terpencil yang memiliki keterbasan dana untuk membeli buku paket. Guru dapat membuat modul pembelajaran yang praktis dan mudah dipahami siswa dengan menyusun kerangka modul terlebih dahulu. Kemudian tulis program secara terperinci meliputi pembuatan semua unsur modul, yaitu petunjuk guru, lembar kegiatan murid, lembar kerja murid, lembar jawaban, lembar penilaian (tes), dan lembar jawaban tes.

Jadi, modul pembelajaran dapat digunakan di berbagai situasi seperti belajar tatap muka maupun belajar jarak jauh. Apalagi di masa pandemi sekarang, modul sangat membantu siswa secara mandiri belajar di rumah.**

*Penulis, Guru SDN 66 Pontianak Kota.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!