Motivasi Belajar saat Pandemi Covid–19

Rachmad Iman Santoso

Oleh: Rachmad Iman Santoso. *

DI masa Pandemi Covid–19, hakekatnya, belajar tidak sekedar mentransfer pengetahuan. Ada sisi humanistik yang harus terus dirawat. Dalam kondisi yang serba sulit, akibat perubahan yang harus dilakukan dan karena keterbatasan medium, guru harus kreatif menciptakan suasana diskusi bagi siswanya. Apabila hubungan interaktif tercipta maka akan ada saluran–saluran positif bagi ilmu pengetahuan.

Lebih dari 80 persen siswa yang berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak memiliki fasilitas praktik penunjang belajar yang memadai. Strategi yang telah dilakukan oleh guru yaitu dengan menjalin komunikasi persuasive dengan siswa baik secara berkelompok maupun pribadi, mampu meningkatkan motivasi belajar dan membuat karya pada siswa.

Terdapat peningkatan respon dalam WhatsApp group dan penyerahan tugas–tugas secara langsung maupun di unggah melalui laman media social pribadi masing–masing. Implikasinya dalam penerapan model pembelajaran dengan strategi komunikasi persuasive dalam proses belajar jarak jauh adalah terjadi adanya proses interaksi antara siswa dengan guru dan lingkungan belajar yang bertujuan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku, perubahan yang awalnya malas merespon, menjadi merespon dengan positif. Dan melakukan skenario pembelajaran yang telah disepakati bersama di dalam kelas.

Adanya proses pembelajaran dari rumah, menjadi sebuah kesempatan berharga dimana murid atau siswa menentukan kunci dalam proses pembelajaran. Banyak alasan yang terdapat didalamnya.  Sebagai contoh, dengan sukarela siswa akan belajar di rumah secara mandiri tanpa harus bertemu guru. Siswa dapat memanejemen waktunya sendiri secara bijak. Melalui kerjasama dan kolaborasi dengan orangtua.

Peran orangtua yang kompeten dalam memberikan waktu dan perhatian anak dalam mengerjakan tugas dan juga ujian online yang diberikan oleh guru masing–masing anak. Kesibukan masing–masing sudah pasti. Maka di sinilah terbangun kolaborasi dan hubungan baik dalam keluarga untuk menunjang proses belajar mengajar mandiri.

Motivasi belajar adalah dorongan atau hasrat yang timbul pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu perubahan pemahaman, pengetahuan, sikap dan tingkah laku, kecakapan kebiasaan, keterampilan serta perubahan aspek–aspek yang lain secara internal dan eksternal pada peserta didik untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan menurut Kartono (2017), motivasi belajar adalah suatu dorongan yang ada pada seseorang berhubungan dengan prestasi, yaitu dorongan untuk menguasai, memanipulasi serta mengatur lingkungan social maupun fisik, mengatasi rintangan–rintangan dan memelihara kualitas kerja yang tinggi, bersaing melalui usaha–usaha untuk melebihi perbuatan di masa lalu serta untuk mengungguli perbuatan orang lain.

Sejalan dengan Masfiah dan Putri (2019) siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi merupakan siswa yang memiliki konsentrasi belajar yang tinggi, tekun dalam belajar, fokus di bidang sekolah dan juga memiliki perhatian lebih dari orangtua sebagai bentuk dukungan untuk anak sehingga anak memiliki motivasi belajar.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan motivasi belajar adalah suatu dorongan dan kemauan yang menimbulkan seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Dengan adanya wabah Covid–19 ini, akan mempengaruhi perubahan–perubahan dan pembaharuan kebijakan untuk diterapkan. Kebijakan baru juga terjadi di dunia pendidikan merubah pembelajaran yang harus dating ke kelas menjadi cukup di rumah saja. Anjuran pemerintah untuk stay at home dan phsycal and social distancing harus diikuti dengan perubahan belajar tatap muka menjadi online.

Menurut Sardiman (2018), belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Harusnya kondisi yang ada, menjadikan belajar merupakan perubahan kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola–pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, sikap dan kecakapan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tingkah laku yang membuat seseorang menjadi tahu sesuatu yang dipelajari.

Pada saat kondisi Pandemi Covid–19 seperti ini, untuk mendapatkan pengetahuan dilakukan dengan berbagai cara metode kegiatan pembelajaran online seperti melalui aplikasi whatsapp, aplikasi Google Class Room,  aplikasi Zoom, aplikasi Instagram, dan lain–lain.

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan, maka semakin rendah motivasi belajar dan sebaliknya semakin rendah kecemasan maka semakin tinggi motivasi belajar. Ada hubungan negatif antara kecemasan dengan motivasi belajar. Peserta didik yang tidak memiliki perasaan cemas berlebihan, akan mampu mengatasi situasi pembelajaran yang sulit dengan mempersiapkan diri melalui kegiatan belajar. Sebaliknya, peserta didik yang mengalami perasaan cemas berlebihan akan cenderung memiliki persepsi negatif sehingga tidak memiliki motivasi dan gairah belajar.

Sebagai motivator yang dekat dengan peserta didik, guru memiliki kewajiban untuk memberikan penguatan setiap saat. Dengan sistem pembelajaran yang memungkinkan tingkat kebosanan lebih besar, seharusnya guru memiliki strategi khusus yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan sekolah, juga sarana dan prasarana mendukung belajar. Adanya Pandemi Covid–19 juga memberikan hikmah yang lainnya. Pembelajaran yang dilakukan di rumah, dapat membuat orangtua lebih mudah dalam memonitoring atau mengawasi terhadap perkembangan belajar anak secara langsung. Orangtua lebih mudah dalam membimbing dan mengawasi belajar anak di rumah. Hal tersebut akan menimbulkan komunikasi yang lebih intensif dan akan menimbulkan hubungan kedekatan yang lebih erat antara anak dan orangtua.

Guru, lingkungan dan orangtua dapat melakukan pembimbingan secara langsung kepada anak mengenai materi pembelajaran yang belum dimengerti oleh anak. Dimana sebenarnya orangtua adalah institusi pertama dalam pendidikan anak. Dalam kegiatan pembelajaran secara online yang diberikan oleh guru, maka orangtua dapat memantau sejauhmana kompetensi dan kemampuan anaknya. Kemudian ketidakjelasan dari materi yang diberikan oleh guru, membuat komunikasi antara orangtua dengan anak semakin terjalin dengan baik. Orangtua dapat membantu kesulitan materi yang dihadapi anak. Bekerjasama dan berkolaborasi membangkitkan motivasi agar peserta didik konsisten dalam pembelajaran.

*)Penulis : Guru di SMP Negeri 1 Balai.

error: Content is protected !!