Munzalan Sebut Sudah Transparan

BERIKAN SIKAP: Pimpinan Yayasan Baitulmaal Munzalan Indonesia memberikan klarifikasi atas pemberitaan media di depan para jurnalis. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Yayasan Baitulmaal Munzalan Indonesia (YBMI) mengklaim selama ini sudah transparan dalam pengelolaan dana. Tudingan sejumlah pihak yang menganggap bahwa yayasan ini tidak transparan dinilai menyesatkan.

“Justru karena transparanlah maka Munzalan bisa berkembang sampai seperti ini,” ungkap Muhammad Lutfi, Kepala Divisi Humas YBMI Kalbar dalam keterangan persnya, kemarin. Menurutnya, aktivitas Munzalan berkembang terbagi menjadi dua fase. Fase pertama saat berada di bawah legalitas lembaga Masjid Munzalan Mubarakan tahun 2014-2018. Fase kedua saat berbadan hukum berbentuk yayasan dengan nama Yayasan Baitulmaal Munzalan Indonesia pada tahun 2018-2019.

“Dalam pengelolaan dan penyaluran keuangan pada seluruh fase dilakukan secara transparan. Maka kemudian Munzalan dapat berkembang hingga hampir seluruh provinsi di Indonesia,” katanya.
Lutfi juga menyebutkan, perkembangan pesat Munzalan tidak hanya dalam pengelolaan dan penyaluran dana tetapi juga dalam bidang dakwah. Jika semula anggotanya cuma belasan orang, kini sudah mencapai 500-an orang di Kalbar dan lebih dari 1.800 orang di seluruh Indonesia. Demikian pula peserta pengajian, gerakan infak beras, orang tua asuh atau donatur. Pendistribusian bantuan beras yang semula hanya tiga pondok pesantren di Pontianak dan Kubu Raya, kini sudah menjadi ratusan pondok/panti asuhan di Kalbar.

Selain itu, lanjut Lutfi, ada sekitar 70 ribu anak yatim dan penghafal Alquran di seluruh Indonesia yang merasakan beras terbaik setiap bulannya dari YBMI. Begitu juga penerima sumbangan infak. Dari yang sebelumnya Rp300an juta, kini mencapai Rp2 miliar di seluruh Indonesia.

Bahkan, sambung Lutfi, jumlah aset wakaf yang awalnya diperkirakan sekitar Rp500 juta, kemudian berkembang menjadi Rp15 miliar. Nilai aset itu diketahui berdasarkan hasil audit. Ia menjelaskan, YBMI saat ini juga mengelola setidaknya delapan unit usaha atau bisnis yang mulai produktif, serta beberapa lembaga pendidikan, mulai dari KB/TK PAS AY, SD PAS AY, MBS, BTQ, dan Munzalan Academy.

“Jadi, tanpa pengelolaan keuangan yang transparan, baik dan cerdas, tak mungkin Munzalan yang hanya bermodalkan dua buah masjid bisa berkembang hingga seperti ini,” tandasnya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa tudingan beberapa orang yang mempermasalahkan transparansi pengelolaan keuangan di Munzalan tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya. “Tudingan itu sungguh tidaklah benar dan menjurus pada sebuah fitnah yang sangat kejam,” katanya.

Lutfi juga mengatakan, berdasarkan hasil audit dari akuntan publik, YBMI telah mendapatkan wajar tanpa pengecualian (WTP). “Artinya, dengan demikian pengelolaan keuangan di yayasan kami telah dinyatakan baik, benar dan tidak ada masalah apapun,” terangnya.

Dia juga menjelaskan, sejak awal pendirian, seluruh lembaga yang bernaung di lembaga Masjid Munzalan Mubarakan telah melakukan pengelolaan dana yang transparan dengan cara melaporkan segala penerimaan dana dan penyaluran langsung kepada jemaah serta donatur.

Setelah berdirinya yayasan, lanjut Lutfi, pihaknya juga sudah mempublikasikan penerimaan dan penyaluran hasil sumbangan masyarakat secara terbuka melalui media sosial. Proses pelaporan itu dilakukan berdasarkan lembaga dan karakter dari donatur masing-masing. Secara teknis, jika penerimaan berasal dari jemaah masjid maka dilaporkan kepada jemaah masjid, penerimaan dari donatur infak beras dilaporkan kepada donatur, dan penerimaan dari zakat serta wakaf sudah mulai disampaikan kepada instasi terkait.

“Saat ini YBMI telah memiliki SOP (standard operating procedure) yang sudah semakin rapi terkait dengan penerimaan, pengelolaan dan penyaluran sumbangan dari masyarakat. Dengan SOP itu, penerimaan infak beras misalnya, hanya bisa dipergunakan untuk membeli dan menyalurkan beras serta tak boleh digunakan untuk keperluan lain,” paparnya.

Sementara itu, saat wartawan meminta copy hasil audit yang dilakukan akuntan publik terhadap YBMI, pihaknya belum bersedia memberikan. Alasannya karena audit tersebut untuk mengkonsolidasi aset dan belum dilakukan kajian internal.

“Bukan kami tidak mau memberikan, tapi belum ada kajian dari internal. Untuk itu kami belum berani mem-publish. Nanti malah menjadi masalah. Mungkin akhir tahun ini akan kami publish,” timpal Beni Sulistyo, salah satu pimpinan di YBMI. Dalam keterangan pers yang dilakukan YBMI tersebut juga dihadiri seluruh jajaran pimpinan YBMI, dan peserta kajian. (arf)

Read Previous

Atap Terbang Seperti Layangan

Read Next

Bandara Hongkong Tetap Menghitam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *