Musibah untuk Semua

Aswandi

Oleh: Aswandi*

HUKUM universal atau berlaku umum. Seseorang mendapatkan ganjaran (reward atau punishment) dari apa yang diperbuatnya. Jika ia berbuat baik, ia akan mendapat ganjaran (reward) dari kebaikannya. Demikian pula sebaliknya. Jika ia berbuat dosa atau kesalahan, ia pun mendapat hukuman (punishment) dari perbuatan jahat yang dilakukannya. Menjadi tidak adil, jika seseorang yang berbuat salah, namun orang lain yang harus bertanggung jawab terhadap perbuatan salah tersebut, demikian sebaliknya.

Faktanya, terkait musibah dan bencana yang datangnya atas izin Allah SWT, asumsi di atas tidak selalu demikian. Ketika musibah dan bencana alam terjadi, korbannya tidak selalu mereka yang berdosa atau bersalah. Tidak sedikit orang yang tidak bersalah atau orang baik/saleh/taat beribadah ikut menjadi korbannya. Tempat-tempat maksiat bersama rumah-rumah ibadah hancur rata dengan tanah.

Kilas balik ke tahun 2004 dimana terjadi bencana alam tsunami di Aceh, sangat dahsyat, mengerikan, merenggut ribuan nyawa manusia, baik mereka yang berdosa/bersalah maupun mereka yang tak berdosa atau orang baik/saleh. Semua menjadi korban musibah tersebut. Faktanya membuktikan bahwa bencana tersebut menghancurkan sebagian bumi serambi Mekah. Setelah itu, hingga sekarang ini musibah dan bencana silih berganti. Sebagai orang beriman, wajib percaya bahwa musibah demi musibah atau bencana demi bencana dikirim ke dunia ini atas izin Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, dikutip dari QS. At-Tagabun (64):11. Dan bagi Allah SWT sangat mudah menghentikan musibah dan bencana tersebut.

Diyakini bahwa musibah yang dialami kita semua, seperti wabah Covid-19 dan bencana alam terjadi secara massif belakangan ini disebabkan oleh banyak faktor (maksiat, zalim. khianat, rakus, kafir nikmat, orang baik/memiliki kekuatan dan kekuasaan namun diam). Semua itu bermuara pada perbuatan tangan manusia atau kesalahan diri kita sendiri sebagaimana Allah Swt berfirman,

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”, dikutip dari Ar- Rum (30) : 41. Di ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak dari kesalahanmu”, dikutip dari QS. Sy-Syura (42): 40.

Namun sangat disayangkan, tidak banyak di antara kita yang berusaha mencari jawaban atas musibah dan bencana tersebut dari sudut pandang agama. Ada yang mencoba melihat fenomena musibah dan bencana dari prespektif agama, namun dinilai kurang tepat atau salah. Namun demikian, izinkan penulis melihat persoalan ini dari dua hal yang sangat sederhana (simple) ini sesuai kemampuan penulis.

Musibah bencana itu terjadi sebagai dampak dari perilaku rakus manusia.   

Allah Swt berfirman, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami). Kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu”, dikutip dari QS. Al- Isra’ (17) : 16.

Para ahli qir’at menafsirkan ayat di atas, “Allah telah memerintahkan mereka berbuat ketaatan, namun mereka malah melakukan perbuatan yang keji sehingga mereka layak mendapat siksaan.” Ibnu Abbas berkata, “Kami jadikan orang-orang jahat di negeri itu berkuasa sehingga mereka berbuat durhaka di negeri tersebut. dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir (2016).

Sikap rakus manusia ini sempat disampaikan Muhammad Yunus, ketika beliau menyampaikan pidato Penerimaan Hadiah Nobel, 10 Desember 2006 di Oslo, Beliau menegaskan bahwa “bencana atau musibah kemiskinan adalah penyangkalan seluruh Hak Asasi Manusia dan menjadi ancaman bagi perdamaian.

Distribusi pendapatan dan kekayaan dunia tidak merata, pendapatan dan kekayaan dunia hanya milik sedikit orang. Sembilan puluh empat persen (94%) pendapatan dunia dimiliki oleh 40% penduduk dunia. Sementara 60% penduduk dunia sisanya hidup hanya dengan 6% pendapatan dunia. Saya percaya bahwa menggunakan sumber daya untuk meningkatkan kehidupan kaum miskin adalah strategi yang lebih baik ketimbang membelanjakannya buat senjata.”

Selain sikap rakus manusia, musibah bersama ini terjadi karena semua kita bersikap diam, bahkan melegalkan kemaksiatan di muka bumi ini terjadi.

Allah Swt berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu, Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya”, dikutip dari QS Al-Anfal (8) : 25.

Imam Ibnu Katsir (2016) dalam kitabnya “Tafsir Ibnu Katsir” mengutip sabda  Rasulullah Saw. “Apabila kemaksiatan telah tampak merajalela pada umatku, maka Allah akan mengirim azab dari sisi-Nya secara umum”. Ummu Salamah, isterinya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila pada hari itu terdapat orang yang saleh?”, beliau menjawab, “Benar”, mereka akan ikut tertimpa sebagaimana orang lainnya tertimpa”. Di hadits lain dari Imam Ahmad berkata, Rasulullah Saw bersabda “Tidaklah suatu kaum berbuat maksiat, sementara di tengah-tengah mereka ada seorang laki-laki yang lebih kuat dari mereka dan lebih disegani, namun orang yang lebih kuat dan disegani itu tidak mau (bersikap diam) mengubah kemaksiatan orang-orang, kecuali Allah akan meratakan siksa-Nya kepada mereka semua, Allah akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka”,

Tafsir ayat tersebut di atas secara terang benderang menjelaskan bahwa musibah yang menimpa kita secara terus menerus, silih berganti dan tidak tahu kapan berhenti ini, seperti wabah virus Covid-19 dan bencana alam lainnya. Boleh jadi hukuman Allah SWT atas sikap kita yang selama ini DIAM atau membiarkan, bahkan melegalkan maksiat itu.

Mengakhiri opini ini, penulis ingin mengatakan ketika ada musibah berarti ada sesuatu yang salah dari fungsi kekhalifan kita selama ini. Selama kita tidak mau belajar, tidak menyadari, tidak memahami dan tidak menyikapi dengan baik musibah tersebut, maka tidak menutup kemungkinan musibah tersebut tidak berhenti dan akan terulang kembali. Oleh karena diperlukan muhasabah atau introspeksi. Setelah kita merasakan pahitnya penderitaan akibat musibah ini, bangunkan kesadaran kolektif masyarakat dipimpin oleh pemilik kekuasaan yang berpengaruh di masyarakat untuk kembali ke jalan yang benar. Sebagaimana firman Allah SWT, “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanyalah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”, dikutip dari QS Al-Baqarah (2) : 156-157. Di ayat lain Allah Swt berfirmal, “Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk agar mereka kembali kepada kebenaran”, dikutip dari QS Al-A’raf (7):168.

*Dosen FKIP Untan

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!