Muspika Hentikan Penambangan Pasir

AKTIVITAS PENAMBANGAN: Aktivitas penambangan pasir di bibir pantai Dusun Sungai Gayam, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, untuk sementara dihentikan jajaran Muspika Kendawangan. ISTIMEWA

Tunggu CV. KQP Tunjukkan Izin

KETAPANG – Pengerukan pasir di bibir pantai Dusun Sungai Gayam, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan oleh CV. Kendawangan Quarindo Perkasa (KQP), akhirnya dihentikan oleh pihak Muspika Kendawangan. Penambangan pasir tersebut dihentikan mereka hingga pihak pengelola bisa menunjukkan izin.

Penghentian aktivitas penambangan pasir tersebut dibenarkan oleh Kapolsek Kendawangan, AKP. Frits Orlando Siagian. Dia mengatakan terkait pengerukan pasir di bibir pantai oleh CV. Kendawangan Quarindo Perkasa (KQP), pihaknya telah mengetahuinya. Bahkan, pengerukan pasir tersebut juga telah dihentikan operasinya oleh pihak Muspika Kendawangan.

“Tadi siang (kemarin, Red) kami dari Muspika sudah rapat membahas tentang tambang pasir tersebut. Untuk penertiban sudah dilaksanakan dan tambang tersebut sudah tidak beroperasi lagi, sampai dengan pihak Muspika berkoordinasi dengan pihak yang mempunyai perizinan,” kata Frits, kemarin (2/12) sore.

Terkait apakah pihak pengelola memiliki izin untuk melakukan aktivitas penambangan di bibir pantai tersebut, pihak Muspika juga akan melakukan pengecekan ke kantor pelayanan terpadu di Ketapang. “Dari Muspika juga sudah koordinasi dengan pelayanan perizinan untuk mengecek izin tambang pasir tersebut,” jelasnya.

Frits mengungkapkan bahwa pihaknya tidak melakukan penyegelan lokasi tambang tersebut. Hanya saja operasional diberhentikan mereka sampai adanya status yang jelas. Mereka mempertanyakan apakah penambangan pasir di bibir pantai tersebut memiliki izin atau tidak? “Kalau penyegelan belum dilakukan, karena dari Muspika koordinasi dengan Kantor Pelayanan Perizinan Kabupaten Ketapang. Untuk sementara waktu diberhentikan sampai perizinan tersebut bisa ditunjukkan kepada kami,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan jika CV. KQP melakukan pengerukan pasir di bibir pantai di Dusun Sungai Gayam, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan. Di lokasi ini terdapat alat berat berupa eksavator yang sedang melakukan pengerukan pasir. Pasir dikeruk kemudian ditumpuk untuk selanjutnya dinaikkan ke truk.

Lokasi pengerukan hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai. Pengerukan pasir tersebut sudah berjalan sudah cukup lama. Hal ini terlihat dari lubang yang terbentuk sudah cukup lebar dan dalam. Lubang galian dengan panjang sekitar 100×100 meter terlihat jelas menganga tepat di belakang bukit. Selain alat berat, terlihat juga mesin penyedot pasir di tengah galian dan tumpukan pasir.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari seorang warga, Julkipli, aktivitas pengerukan pasir tersebut dilakukan oleh CV. KQP. “Katanya itu punya Pak Budi, kepala Bank BNI Ketapang,” kata Julkipli kepada Pontianak Post saat ditemui di lokasi pengerukan pasir belum lama ini.

Dia mengaku tidak tahu pasti apakah perusahaan tersebut memiliki izin atau tidak, untuk melakukan pengambilan pasir di lokasi tersebut. Namun yang jelas, lokasi pengerukan pasir oleh CV. KQP berdampingan dengan lahan miliknya, yang juga sedang digali untuk dijadikan tambak ikan. “Kemarin juga ada dua anggota Polda Kalbar datang, tapi saya suruh pulang, karena ini lahan pribadi saya,” ungkapnya.

Direktur CV. KQP, R. Taurus Budi Santoso, mengaku jika yang menjalankan operasional usaha ini adalah bawahannya. “Yang menjalankan CV tersebut Pak Meclaen didampingi Pak Yani. Saya akan panggil mereka untuk kejelasannya,” kata Budi, 26 November lalu.

Saat ditanya apakah dirinya mengetahui perusahaan miliknya digunakan untuk mengeruk pasir di Dusun Sunga Gayam, Desa Mekar Utama, Kepala BNI Cabang Ketapang ini, belum memberikan jawaban. “Saya sedang panggil Meclean belum datang. Yang bersangkutan di Pagar Mentimun,” ungkapnya.

Sementara itu, tenaga lapangan CV. KQP, Meclean, membenarkan jika perusahaan tersebut melakukan pengerukan pasir di bibit pantai, tepatnya di Dusun Sungai Gayam, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan. “Iya, benar. Kita join dengan CV. Lia, sebagai pemilik lahan. Tapi itu masih dalam lokasi izin kita,” kata Meclean.

Dia menjelaskan, pasir yang dikeruk tersebut dijual ke pihak-pihak yang membutuhkan. “Siapa yang minta kita berikan, karena memang kebutuhan pasir ini cukup tinggi di Kendawangan,” ungkapnya.

Berdasarkan surat izin yang dimiliki oleh CV. KQP, perusahaan tersebut hanya mengeksplorasi tanah urug. Perusahaan tersebut juga memiliki luas izin 87,31 hektare yang terletak di Desa Mekar Utama Kecamatan Kendawangan. (afi)

Read Previous

Gelar Uji Coba UAS Berbasis Online, Lebih Efektif serta Hemat

Read Next

Topan Kammuri Dekati Manila, Sepak Takraw Dibatalkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *