Mutiara dari Gang Angket; Doni Chairullah Hapus Stigma Lewat Yayasan Pendidikan

Upaya Doni Chairullah untuk melawan stigma negatif masyarakat terhadap warga Gang Angket patut diapresiasi. Dengan mendirikan Yayasan Sekitar Project, ia berusaha mempersiapkan anak-anak di sana agar mampu menguasai bahasa Inggris dan memiliki sikap kritis.

Adong Eko, Pontianak

Nama Gang Angket memang sudah terkenal. Kawasan yang bertetangga dengan Kelurahan Kampung Dalam Bugis (Beting) itu, kerap dianggap sebagai tempat bagi peredaran narkoba.

Pandangan itu memang tidak salah. Bukti bahwa permukiman yang berada di Jalan Tritura, Kelurahan Tanjung Hilir, Kecamatan Pontianak Timur itu bisa dilihat dengan maraknya pemberitaan penangkapan terhadap pengedar atau pemakai narkoba yang dilakukan kepolisian.

Sebagai contoh misalnya, pada 31 Maret 2020 lalu, jajaran Direktorat Narkoba Polda Kalbar melakukan penggerebakan di salah satu rumah di Gang Angket. Lima orang ditangkap dan polisi menyita barang bukti berupa paket sabu seberat 50gram dan beberapa butir pil ekstasi.

Begitulah fakta situasi di Gang Angket. ishak misalnya, pria yang aktif bekerja sebagai relawan di rumah rehabilitasi berbasis masyarakat itu, menilai Gang Angket adalah kawasan yang sama dengan Beting.

“Di sana ada pengedar dan penjual narkoba,” kata Ishak, ketika saya memintanya untuk menjelaskan bagaimana pandangannya terhadap Gang Angket.

Menurut Ishak, banyak pecandu narkoba yang datang ke Gang Angket, untuk membeli dan mengkonsumi sabu atau obat terlarang lainnya.

“Kami sempat menangani pasien rehabilitasi narkoba dari Gang Angket. Dan mereka ada yang pulih bahkan ada pula yang kembali menggunakan,” tutur Ishak.

Tetapi stigma dan maraknya pengungkapan peredaran narkoba di sana, tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk menyamaratakan semua warga di Gang Angket terlibat dan mengambil keuntungan dari bisnis haram tersebut.

Doni Chairullah misalnya. Pemuda asli kelahiran Gang Angket, 8 Mei 1996 ini tidak boleh dipandang sebelah mata dan tidak boleh dianggap sama dengan orang-orang yang terpaksa terjerumus dalam jaringan narkoba atau tindak kriminalitas.

Doni sama sekali tak mau menyentuh barang haram itu apalagi terlibat pada jaringannya. Baginya hidup itu pilihan. Ketika memilih untuk menjadi baik, maka harus berusaha dan bertanggungjawab dengan pilihannya.

“Kalau pandangan orang luar terhadap kami warga Gang Angket cendrung negatif. Karena memang di sini ada tempatnya penjahat dan peredaran narkoba,” kata Doni, ketika saya menemuinya di kediamannya, Jumat (28/11).

Bagi Doni pandangan buruk itu tidak pula boleh disalahkan. Pasalnya dirinya sendiri saja, sejak kecil sudah terbiasa melihat bagaimana ada warga yang ditangkap polisi karena melakukan pencurian atau menjual sabu dan ekstasi.

Bahkan sampai saat ini, ia masih ingat bagaimana satu demi satu kawan seumurannya harus mendekam di jeruji besi atau meninggal karena ikut terlibat di bisnis narkoba.

“Begitulah kondisinya. Jadi saya dan mungkin warga lainnya sudah terbiasa dengan situasi di sini. Hanya saja, itu semua tidak seharusnya menjadi pembenaran bagi masyarakat luar untuk menyamaratakan semua warga Gang Angket adalah penjahat,” ucap mahasiswa IAIN Pontianak itu.

Stigma negatif itu sangat membahayakan. Dan dampaknya sudah banyak warga Gang Angket merasakan. Misalnya, ketika ada warga yang mengajukan kredit kendaraan, pinjaman uang di bank ditolak hanya karena di KTP tertulis Gang Angket, Kelurahan Tanjung Hilir, Kecamatan Pontianak Timur.

Bahkan Doni sendiri telah merasakan dampak dari stigma negatif itu. Bagaimana ketika lamaran pekerjaannya di tolak oleh sebuah perusahaan, karena dirinya merupakan warga Gang Angket. Pihak perusahaan menolak, karena trauma. Lantaran sebelumnya ada karyawan mereka dari Gang Angket, melakukan tindakan melanggar hukum.

“Sakit sih dianggap buruk. Tapi bagaimana lagi, mereka punya pengalaman. Begitu juga dengan abang saya, pernah merasakan hal serupa. Mengajukan kredit motor tapi ditolak,” cerita Doni.

Pandangan buruk itu seyogyanya harus dihapuskan. Ia tak boleh terus melekat dalam pikiran. Karena akan sangat membahayakan. Bagaimana ketika warga Gang Angket, sulit mencari kerja hanya karena stigma buruk. Dampaknya akan muncul masalah baru yakni. Ketika kemiskinan itu terjadi dan tidak ada pilihan, mereka akhirnya dipaksa untuk masuk ke dalam lubang kegelapan.

Doni berusaha melawan stigma negatif itu. Ia ingin membuktikan kepada masyarakat di luar sana, bahwa ada generasi-generasi Gang Angket yang dapat berprestasi dan layak untuk mendapatkan tempat.

Doni membuktikan itu, pada 2018, ia adalah satu dari 18 mahasiswa seluruh Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan Teknologi Education dan Desain di Malaysia. Kemudian dari sana Ia diundang untuk bekerjasama dengan PBB dan Indonesia Untuk Kemanusian untuk membuat film dokumenter tentang kehidupan anak-anak dan masyarakat di beberapa daerah di Sulawesi Tengah untuk membangun daerahnya setelah konflik dan gempa.

Dari Sulawesi Tengah, Doni kemudian kembali diajak bekerjasama oleh Kedutaan Amerika Serikat yang ada di Indonesia bersama Wahid Fondation untuk memberikan materi atau berbagai cerita tentang pengalaman hidupnya kepada anak-anak seluruh Indonesia yang mendapatkan beasiswa. Dari sanalah pulah ia akhirnya mendapat undangan dari Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) untuk mengikuti pendidikan menebarkan semangat anti korupsi kepada anak-anak muda Indonesia.

“Saya bahkan waktu itu diundang untuk bertemu langsung dengan keluarga Bung Hatta di Depok,” kata Doni.

Prestasi Doni tak berhenti. Pada 2019 ia mengikuti kompetisi esai dengan tema keberegaman yang diselenggarakan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Tulisan esai yang ia tulis, mengantarkannya menjadi satu dari 19 mahasiswa seluruh Indonesia yang dipilih untuk mengikuti Sekolah Pengelolaan Keberagaman (SPK).

Dengan torehan prestasi itu, Doni tak melupakan jati dirinya sebagai putra Gang Angket. Kerja kerasnya sudah terbukti dan ia telah merasakannya. Bahwa tidak ada yang bisa menolak, meski ia tinggal di tempat berstigma negatif tetapi memiliki kualitas.

“Alhamdulilah dari pengalaman-pengalaman itu, kini saya sudah dikontrak bekerja sebagai konten kreator,” ungkap Doni.

Kini Doni ingin melahirkan Doni-Doni baru di Gang Angket. Dia tak mau apa yang telah diraihnya, hanya ia sendiri yang menikmati. Baginya generasi Gang Angket yang akan datang akan jauh lebih baik jika dipersiapkan dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan.

Tentu untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik, harus ada gerakan yang dilakukan. Bukan hanya sekedar wacana. Untuk melakukan perubahan, tentu harus ada gerakan yang dilakukan dari saat ini. Doni akhirnya memutuskan untuk mendirikan Yayasan Sekitar Project, yang bergerak memberikan pendidikan tambahan berupa belajar berbahasa Inggris dan materi critical thinking (sikap kritis) kepada anak-anak di Gang Angket dan Beting.

“Yayasan kecil ini saya dirikan satu bulan yang lalu. Dan memang tidak mudah untuk melakukannya. Saya tahu tidak akan bisa menyelamatkan seluruh generasi di sini. tetapi setidaknya saya berbuat dengan cara yang saya bisa,” tutur Doni.

Tidak mudah bagi Doni untuk menjalankan misi yayasan yang didirikannya. Tentu akan banyak orang yang beranggapan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah cuma-cuma. Tetapi ia tidak menyerah. Targetnya memberikan bekal kepada anak-anak harus dilakukan agar mereka siap menghadapi masa depan.

Oktober 2020, Doni mulai menjalankan strateginya untuk merangkul anak-anak agar mau ikut belajar di yayasannya. Ia mengubah dirinya dari seorang pria dewasa menjadi anak-anak.

Anak-anak kecil usai sekolah dasar yang memang kerap bermain di belakang rumahnya ia dekati. Ketika anak-anak itu bermain masak-masakan, Doni ikut bermain. Menjadi koki bahkan menjadi pembeli ia lakoni agar anak-anak menerima kehadirannya.

Strategi itu terus dilakukan Doni, ketika hari hujan, misalnya ia mandi bersama anak-anak. Mengikuti kecerian mereka menikmati air yang turun dari langit. Begitu pula ketika air pasang, Doni ikut menceburkan diri ke dalam parit untuk berenang bersama anak-anak.

“Strateginya masuk ke dunia mereka. Itu harus dilakukan agar mereka menerima saya. Jujur lucu, tapi mau tidak mau-mau. Karena anak-anak ini harus disiapkan agar tidak terjerumus,” kata Doni.

Dari sana Doni pun mulai menyisihkan penghasilannya untuk membeli buku-buku bacaan anak-anak. Buku-buku yang dibeli ia pinjamkan. Dengan tujuan agar anak-anak punya mainan alternatif selain bermain di alam.

Kerja keras yang dilakukannya itu pada akhirnya membuahkan hasil. Ketika anak-anak di Gang Angket dan Kampung Beting merasa dekat, di sanalah Doni memulai misinya, ia mengajak anak-anak di sana untuk mau mengikuti pembelajaran tambahan di yayasan yang didirikannya.

“Alhamdulillah ketika saya ajak untuk belajar bahasa Inggris mereka mau. Sekarang sudah ada sepuluh anak-anak yang ikut belajar,” ungkap Doni dengan senyum lebar dari bibirnya.

Ya, Yayasan Sekitar Project itu didirikan Doni di rumahnya. Memanfaatkan ruangan belakang rumah, setiap Sabtu dan Minggu anak-anak akan berkumpul di sana untuk mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dan critical thinking. Dan Doni sendirilah yang menjadi pengajarnya.

Setiap Sabtu sejak pukul 16.00, anak-anak akan mengikuti pembelajaran bahasa Inggris. Mereka diajak untuk menyebut nama-nama hewan dengan bahasa Inggris. Atau menyebutkan perabotan rumah tangga dengan bahasa Inggris. Sementara pada Minggu, anak-anak akan diberi materi critical thinking.

Dua materi yang diberikan kepada anak-anak itu, bukan tanpa alasan. Bagi Doni kedua materi pembelajaran itu sangat penting dikuasai anak-anak. Bahasa Inggris misalnya merupakan kemampuan dasar yang harus menjadi syarat minimal bagi mereka untuk aktif di dunia luar. Sehingga anak-anak di Gang Angket dan Kampung Beting, harus menguasai itu agar memiliki jalan untuk menggapai cita-cita. Dengan kemampuan bahasa Inggris, mereka bisa menguasi dunianya.

Sementara materi berfikir kritis diajarkan bertujuan agar anak-anak dapat menentukan pilihannya dan bertanggungjawab. Sebagai contoh mengapa mereka harus sekolah, mengapa harus belajar, mengapa harus mengenakan pakaian warna putih atau merah. Anak-anak harus tahu alasannya. Dengan begitu mereka memiliki kesadaran atas pilihannya dan mampu mempertanggungjawabkan pilihannya. Itulah tujuannya.

“Harapan saya, mereka adalah generasi bangsa. Mereka harus punya bekal. Ketika mereka punya pendidikan yang bagus, memiliki keterampilan berbahasa dan punya sikap kritis, maka mereka akan memiliki mental yang kuat,” harap Doni.

Najwa Khairiah (9), merasa senang mengikuti pelajaran tambahan bahasa Inggris dan critical thinking itu.

Menurut dia, dengan adanya pelajaran tambahan itu, ia tidak hanya sibuk bermain di luar rumah atau hanya bermain telepon genggam.

“Sekarang oleh bang Doni masih diajarkan untuk mengucapkan nama-nama hewan dengan bahasa Inggris. Misalnya kucing bahasa Inggrisnya cat,” kata Najwa yang saat ini duduk di kelas lima sekolah dasar.

Najwa berharap ketika dirinya besar nanti, dia bisa menggapi mimpinya menjadi seorang bidan.

“Cita-citanya ingin jadi bidan seperti ibu,” tutur gadis kecil itu.

Pengamat Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura (Fisip Untan), Dr Syarifah Ema Rahmaniah, menilai stigma negatif itu merupakan bentukan sosial atau pemahaman warga pada kasus yang terjadi. Dan itu Lebih kepada penggiringan opini. Seakan kasus narkoba banyak terjadi di satu daerah saja padahal kasusnya tersebar di banyak tempat.

Menurut Ema, bisa saja daerah yang tidak pernah masuk dalam radar pantauan warga dan kepolisian, ternyata juga menjadi titik sebaran narkoba.

“Saya pribadi tidak sepakat jika terus menerus meliput dan mengkaitkan Gang Angket dengan narkoba. Kasus yang yang dilakukan sekelompok orang harusnya jangan digeneralisir dan kemudian terkonktruksi,” kata Ema.

Menurut Ema, stigma negatif yang melekat pada Gang Angket akan membawa dampak kepada warga sekitarnya, terutama anak mudanya. Kasus yang terjadi di sana bisa saja terjadi di daerah lain.

Menurut Ema, fokus masalahnya bukan pada stigma atau label yang melekat. Tetapi bagaimana mendorong warga lebih kritis pada kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Karena jika stigma negatif itu terus dibiarkan itu akan berdampak bagi perkembangan anak-anak. Anak-anak tanpa pendampingan, bisa saja membuat mereia ikut menjadi pelaku atau korban bahkan bisa lebih dari itu. Anak-anak bisa kehilangan jati diri dan dedikasi sebagai anak bangsa yang berhak bermimpi ikut membangun negeri.

“Disinilah diperlukan vaksin sosial agar kejahatan tidak tersebar dan terulang kembali,” terangnya.

Ema menerangkan, vaksin sosial yang ia maksud adalah sebuah gerakan dan inisiatif komunitas untuk melakukan edukasi dnn advokasi agar warga peduli untuk mencegah sebaran narkoba, tidak menjadi pelaku dan korbannya. Vaksin sosial itu adalah gerakan yang membangun karakter kepedulian dan kepekaan pada masalah sosial masyarakat dengan upaya pencegahan dan penguatan kapasitas.

“Apa yang dilakukan Doni Chairullah dengan mendirikan Yayasan Sekitar Project dengan melakukan pendampingan kepada anak-anak merupakan bagian dari peran anak muda yang telah melakukan vaksin sosial itu,” pungkas Ema. **

error: Content is protected !!