Nammong, Minuman Berkhasiat Khas Sambas yang Melegenda dan Kian Langka

Nammong, merupakan minuman tradisional yang pembuatannya memerlukan waktu cukup lama saat proses pengeringan dan perendaman. Sekarang minuman ini mulai sulit ditemukan. Hanya beberapa warung yang masih menjualnya, salah satunya Warung Kopi Acin di Jalan Lumbang Sambas.

FAHROZI – Sambas

“MINTA nammong,” teriak pembeli saat masuk ke Warung Kopi Acin. Su Chin sang pemilik pun menjawab, “lagi kosong”. Nammong masih dalam proses perendaman air garam. Jadi harus menunggu beberapa hari lagi baru bisa diseduh air agar bisa diminum.

Ya, nammong di tengah banyaknya jenis minuman di era sekarang ini, tetap memiliki “penggemar”. Terutama mereka yang sudah pernah merasakan kenikmatan dan khasiat minuman ini, yakni bisa meringankan gejala demam, batuk dan flu. “Nammong yang diminum hangat, bisa meringankan flu, batuk hingga menurunkan panas,” kata Su Chin.

Ia kemudian menceritakan sejak sepuluh tahun lalu dirinya sudah menjual nammong. Dulunya yang mengajari resep adalah ibu mertuanya. “Tahu dari ibu mertua, untuk pembuatan nammong. Mulai dari mencari jeruk hingga menjual dalam bentuk minuman di warung kopi,” katanya.

Su Chin dalam mempersiapkan pembuatan nammong diawali dengan membeli jeruk nipis di pasar. Harganya biasa Rp8 ribu per kilogram jika lagi musim. Namun bisa mencapai Rp25 ribu jika tak lagi musim jeruk di Sambas.

Setelah mendapatkan jeruk, Su Chin yang biasanya ditemani istrinya mencuci jeruk-jeruk tersebut sampai bersih. Kemudian ditiriskan untuk selanjutnya dijemur sampai kering. “Kalau cuaca sedang panas ini biasanya (penjemuran) memerlukan waktu paling tidak tiga minggu,” katanya. Selama proses pengeringan ini, Su Chin harus selalu memantau agar kekeringan jeruk sesuai dengan yang diharapkan.

Jeruk yang sudah dikeringkan tadi, selanjutnya direndam dalam air yang sudah dicampur garam. “Air garam untuk merendam jeruk kering ini juga harus direbus terlebih dahulu. Setelah masak, dinginkan sampai benar-benar dingin kemudian masukkan jeruk,” katanya. Su Chin biasanya dalam proses penggaraman ini menggunakan wadah toples kaca berukuran sedang.

Tahapan ini juga rentan, karena akan menentukan citarasa nammong. Di antaranya tak boleh terkena air dingin. Jika sampai terkena akan bermunculan jamur bahkan jeruk-jeruk akan berubah menjadi hitam sehingga aroma dan rasanya berubah.

Proses penggaraman atau perendaman jeruk di air garam juga memerlukan waktu cukup lama, yakni satu bulan. “Selama satu bulan inilah, rendaman jeruk di air garam juga harus dijemur,” katanya.

Setelah proses yang memakan waktu tiga minggu untuk penjemuran dan satu bulan penggaraman, nammong bisa disajikan menjadi minuman yang digemari. Su Chin menjual per gelas dengan harga Rp6 ribu. “Satu gelas, berisi satu jeruk plus air gula ditambah air hangat atau sejuk. Biasanya kalau yang suka masam, ditambah perasan jeruk nipis mentah,” katanya.

Selain bisa mengurangi gejala demam, batuk dan flu, nammong ini biasa dipakai untuk tambahan bumbu memasak ayam ataupun itik. Dengan menambah jeruk nammong, aroma daging ayam atau itik akan lebih sedap.

Su Chin, dulunya biasanya menjual nammong hingga ke Pontianak. Namun karena lamanya proses pengerjaan, nammong buatannya dibuat untuk jualan minuman bersama kopi dan minuman lain warungnya.

Nammong saat ini penjualnya tak seramai dulu sehingga agak sulit untuk mendapatkan minuman ini. Bahkan, bisa jadi di beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Barat sudah tak ada lagi yang jualan. Tapi di Sambas masih ada. Silakan datang ke Warung Kopi Acin di Jalan Lumbang atau tepatnya di depan Kelenteng Lian Thing.(*)

 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!