Norsan Gugat Maman ke Mahkamah Partai 

FOTO BERSAMA: Panitia Musda X Partai Golkar Kalbar diabadikan bersama Gubernur Sutarmidji serta Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Azis Syamsudin. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Ria Norsan, sepertinya tidak puas dengan hasil musyawarah daerah (Musda) Golkar ke X, yang menetapkan Maman Abdurrahman sebagai ketua terpilih untuk periode 2020-2025.

Hasil final Musda Golkar itu, oleh Ria Norsan digugat ke Mahkamah Partai Golkar.

Dari bukti yang didapat Pontianak Post, Ria Norsan telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Partai Golkar pada, Rabu 11 Maret lalu dengan pokok permohonan perselisihan internal Golkar tentang Musda X.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Golkar Kabupaten Kayong Utara, Samad mengatakan, sepengetahuan dirinya Ria Norsan sudah mendukung Maman Abdurrahman, sebagai ketua Golkar terpilih untuk periode 2020-2025.

“Jadi sejauh ini saya belum mengetahui tentang adanya gugatan ke mahkamah partai,” kata Samad.

Namun  menurut dia, kalaupun gugatan ke mahkamah partai itu ada, itu adalah hak setiap Ria Norsan.

“Tetapi sebelum gugatan itu diajukan, bukankah Ria Norsan telah menyampaikan dukungannya kepada Maman Abdurrahman,” ucapnya.

Pengamat Politik Kalimantan Barat, Jumadi mengatakan, dinamika dalam menghadapi proses konsolidasi berbentuk musda memang sering terjadi. Namun, tak sedikit dinamika tersebut mencair. Karena, yang terpenting ditengah perbedaan itu saling menghargai.

Menurut dia, sikap tegas dan siap untuk menyikapi hasil musda itu harus ada dan menjadi yang terpenting. Karena yang dipegang orang adalah pernyataan. Tapi, jika di kemudian hari pernyataan itu berubah, tentu ada dasar argumentasinya.

“Kalau dianggap misalnya sebagai sebuah dinamika, terlepas puas atau tidak puas (terhadap hasil musda), kemudian ada satu pernyataan menerima (hasil musda), tentu ada argumentasinya. Yang jelas perbedaan harus selesai, jika berlarut, yang rugi juga partai,” kata Jumadi.

Menurut Jumadi, berubahnya sikap Norsan atas hasil Musda X itu sehingga mengajukan permohonan gugatan, tentu ada hal yang melandasinya. Barangkali  ada ketidakpuasan pendukung terhadap mekanisme tersebut.

“Saya melihat karena di belakang Norsan juga ada pendukung dan barangkali aspirasi para pendukung ini membuat Pak Norsan berubah pikiran,” tuturnya.

Menurut Akademisi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak itu, mahkamah partai dan DPP mempunyai penilaian sendiri. Biasanya, apapun laporan ke mahkamah partai itu pasti diproses. Tinggal keputusannya diterima atau tidak.

Terhadap Maman pun, kata Jumadi, tinggal menunggu proses. Karena pasti ada proses klarifikasi, baik terhadap Maman yang terpilih maupun pengurus DPP yang hadir dalam Musda.

Tidak bermaksud memilah, kata Jumadi, yang terpenting sekarang ini adalah siapa pun yang memimpin partai, mesti mampu menangkap perubahan perilaku pemilih.

“Tentu diperlukan strategi. Saat ini sudah memasuki era demokrasi digital, tak bisa lagi dilakukan secara konvensional cara politiknya,” tuturnya.

Yang tak kalah penting, sambung Jumadi, adalah kepanjangan partai di parlemen bisa atau tidak berbuat terbaik untuk rakyat. Sebagai anak muda, pasti ada energi baru Golkar kemudian secara dinamik itu mampu membangun konsolidasi yang baik. Sehingga mesin politik dan jaringan partai terbangun dengan baik.

Sementara itu, saat ditemui di kediamannya pada Jumat malam 13 Maret lalu untuk dimintai keterangan mengenai gugatan yang diajukan, Ria Norsan memilih bungkam dengan alasan hendak membesuk orang sakit di RS Soedarso. (adg)

loading...