NTP Desember Paling Tinggi

ilustrasi

Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Barat pada Desember 2019 mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. NTP bulan Desember, juga menjadi yang tertinggi di tahun 2019. Kenaikan ini sebagai dampak dari membaiknya sejumlah harga komoditas strategis di sektor perkebunan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, Pitono mengatakan, NTP Kalimantan Barat Desember 2019 sebesar 95,58 poin, naik 1,83 persen dibanding NTP bulan November 2019 yaitu 93,86 poin. “Hal ini disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani naik 1,96 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,12 persen,” ungkap dia, Kamis (2/1).

Dikatakan dia, NTP hampir seluruh sub sektor mengalami kenaikan kecuali NTP Hortikultura (NTPH). Adapun NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) mengalami kenaikan yang paling tinggi, yakni 91,79 poin naik 4,74 persen dibanding NTP bulan November 2019 87,63 poin. “NTP bulan ini paling besar didongkrak oleh NTP Tanaman Perkebunan Rakyat, seiring dengan membaiknya harga komoditas seperti kelapa sawit dan karet,” kata dia.

Adapun menurut data BPS Kalbar, NTP Tanaman Padi dan Palawija (NTPP) Desember 2019 sebesar 96,64 poin, NTP Hortikultura (NTPH) sebesar 101,29 poin, NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 91,79, NTP Peternakan (NTPT) 95,45 poin, NTP Perikanan (NTPN) 109,83 poin. Namun bila dilihat, NTPR masih menjadi yang paling rendah bila dibandingkan dengan sub sektor lainnya.

Sementara itu, bila dibandingkan dengan NTP Nasional, Kalimantan Barat masih kalah jauh. Pitono menyebut, pada Desember 2019 NTP Nasional tercatat sebesar 104,46 poin naik 0,35 persen dibanding NTP November 2019 sebesar 104,10 poin. Angka ini jauh dari NTP Kalimantan Barat pada Desember 2019 yang hanya sebesar 95,58 poin.

Secara umum, lanjut Pitono, NTP di tahun 2019 mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2018. Menurutnya, bila dibandingkan secara tahun ke tahun di setiap bulan, NTP di tahun 2019 selalu lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2018. Dari 12 bulan itu, hanya ada satu bulan yang nilai NTP di tahun 2019 lebih besar dari 2018. “Baru bulan Desember yang NTP-nya di tahun 2019 lebih besar dari 2018, selebihnya NTP 2019 selalu di bawah 2018,” kata dia.

NTP sendiri, jelas Pitono, adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap

indeks harga yang dibayar petani (Ib). Dia mengatakan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. “NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani,” pungkas dia. (sti)