Nuklir, No Clear !!!

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh Hendrikus Adam

Kebutuhan energi listrik dewasa ini disadari penting dan diperlukan. Selain menjadi ‘penanda’ kian bergulirnya perkembangan peradaban manusia, ia juga menjadi pendukung keberlangsungan kehidupan. Namun demikian, pemenuhan kebutuhan energi tersebut memerlukan keberanian dalam memastikan penggunaan jenis sumber energi ramah yang selaras aspek keselamatan jangka panjang dan keberlanjutan bagi kehidupan manusia maupun lingkungan hidup. Karena itu, memilih mengoptimalkan sumber energi listrik yang bersih untuk masa depan harusnya dapat menjadi terobosan pilihan sadar.

Penggunaan energi fosil dominan saat ini diyakini banyak pihak telah menjadi bagian penting penyebab meningkatnya emisi penyebab pemanasan global dan pada gilirannya akan habis dengan daya rusak yang ekstrim. Karena itu, pengembangan energi (baru) terbarukan yang bersumber dari alam seperti panas bumi (geothermal), biomasa, air (mikrohydro), tenaga surya, angin, gelombang dan lainnya merupakan sejumlah jenis sumber energi masa depan yang perlu dan mendesak dikembangkan termasuk untuk diprioritaskan sebagai sumber energi nasional dari saat ini.

Selama ini harus diakui, energi terbarukan masih belum menjadi fokus serius untuk dikembangkan pemerintah, termasuk di Kalimantan Barat. Padahal, penggunaan energi ini akan lebih baik, ramah dan aman karena memiliki potensi resiko yang kecil bila dibandingkan penggunaan energi fosil maupun penggunaan sumber energi berbahaya melalui pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), terlebih bila kemudian terjadi gagal tekhnologi dan kecelakaan vatal yang kemudian dialami.

Sesat Pikir Nuklir

Saat memberi kuliah umum kepada mahasiswa di Universitas Hankuk Seoul, Korea Selatan Selasa (10/9/2018), Presiden Jokowi menegaskan bahwa ancaman nuklir merupakan salah satu dari beberapa tantangan yang sedang dihadapi dunia saat ini (www.republika.co.id). Pernyataan ini menyiratkan pesan bahwa energi nuklir disadari berbahaya dan menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Pernyataan bahaya nuklir tersebut sejalan dengan pendapat Pakar Nuklir asal Indonesia, (alm) Iwan Kurniawan – bahwa PLTN bagi bangsa Indonesia masih berat sebab menurutnya, tidak ada teknologi yang 100 persen sempurna terhadap radiasi. Selanjutnya dikatakan, PLTN sangat berbahaya dan teknologi ini tidak mungkin dianggap main-main karena penggunaan energi ini bukan alih teknologi, namun lebih berorientais proyek. Pandangan jujur ini merupakan sebuah sinyal bahwa pakar memiliki pandangan yang rasional dan realistis di tengah potensi energi terbarukan yang berlimpah namun belum dioptimalkan.

Pernyataan promotor PLTN pada media mengenai sikap warga yang dikatakan dominan memberi dukungan atas rencana pendirian pembangkit listrik berbahan uranium di Kalimantan Barat akhir-akhir ini mengingatkan penulis pada pernyataan pihak Kementrian Energi Sumberdaya Mineral empat tahun lalu yang menyatakan secara sepihak bahwa tidak ada penolakan warga atas agenda pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat. Padahal jauh sebelum itu, berkali-kali sikap penolakan atas rencana keberadaan PLTN telah dinyatakan dengan tegas agar pemerintah tidak memaksakan pembangunan PLTN di Kalimantan Barat. Karenanya, pernyataan mengenai ‘tidak adanya penolakan warga’ tersebut hanya klaim sepihak yang gegabah dan tidak mendasar sehingga pernyataan Rida Mulyana selaku Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM kala itu merupakan bentuk kebohongan publik yang justeru dapat berdampak kontraproduktif dan menyesatkan.

Selain memiliki potensi risiko negatif terhadap kondisi sosial masyarakat Kalimantan Barat, kebohongan publik juga dapat menimbulkan presenden buruk terhadap kinerja pemerintah yang faktanya belum mampu mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan yang aman, bersih dan berkelanjutan sebagai sumber listrik. Memaksakan pembangunan PLTN dengan menganggapnya sebagai solusi terhadap situasi listrik saat ini di Kalimantan Barat pada akhirnya justru dikhwatirkan dapat dimaknai membuka aib rezim pemerintah selama ini yang tidak mampu menjadikan sumber energi terbarukan sebagai solusi pemenuhan energi alternatif di Indonesia.

Argumentasi yang menyatakan saatnya Kalimantan Barat menggunakan energi lokal dengan dasar pikir memiliki potensi bahan baku uranium tidak cukup dan bukanlah hal mendasar. Sebab, bukankah potensi sumber energi terbarukan yang ada di daerah ini juga berlimpah namun belum optimal dimanfaatkan? Hal mendasar lainnya selama ini, rencana pembangunan PLTN di Kalimantan Barat maupun di Indonesia pada umumnya tidak diinformasikan dengan jujur, utuh dan berimbang kepada publik. Bahkan informasi yang disampaikan BATAN dan para promotor PLTN lainnya justeru mengandung sesat pikir juga kebohongan publik.

Ancaman krisis energi di masa depan mestinya dapat diatasi dengan memanfaatkan secara maksimal potensi energi terbarukan yang dimiliki disertai efisiensi energi di segala lini. Sesat pikir paling krusial juga terlihat ketika energi nuklir dianggap sebagai bagian dari energi terbarukan oleh promotor PLTN.

PLTN Bukan Pilihan

Energi listrik merupakan kebutuhan bersama yang penting ada dan energi juga perlu terus ada untuk mendukung perkembangan kelangsungan kehidupan. Seperti halnya makanan, sumber energi nuklir berbahan uranium bukan satu-satunya pilihan menu santapan yang harus dinikmati. Ada banyak pilihan makanan yang lebih prioritas, lebih baik, aman, sehat dan berkelanjutan dari alam yang perlu dikelola dan optimalkan. Karenanya, PLTN mestinya bukan pilihan mendesak di tengah alpanya upaya untuk mengoptimalkan sumber energi terbarukan yang melimpah.

Bahkan, alih-alih akan mengoptimalkan potensi energi terbarukan, bahan mentah sumber energi listrik seperti batubara misalnya, lebih banyak yang diekspor ketimbang dipakai sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sehingga tidak heran bila industri keruk sumberdaya alam terus terjadi yang diringi dengan potensi risiko sosial dan lingkungannya yang kerap tidak diperhitungkan.

Harusnya kita dapat belajar banyak dari sejumlah bencana reaktor nuklir (PLTN) buruk yang berdampak luas bagi kemanusiaan dan infrastruktur di sejumlah negara seperti bencana nuklir PLTN Fukusihima Daiici, Bencana Chernobyl, bencana nuklir di Three Mile Island, dan sebagainya. Bahkan sejumlah negara maju malah mengurangi dan mulai berhenti menggunakan PLTN. Potensi destruktif dari resiko penggunaan energi berbahaya PLTN sebagaimana pembelajaran dari bencana di berbagai tempat seperti disebutkan jangan sampai terjadi.

Jika tetap dipaksakan, pilihannya nyelenhnya adalah silakan dirikan di samping rumah tinggal para promotor PLTN, atau jika tidak, hentikan rencana ini agar tidak melahirkan potensi risiko bencana dan momok bagi generasi mendatang!!!

Penulis, Kepala Divisi Kajian, Dokumentasi dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat

Read Previous

SMP 14 Juara Festival Saprahan

Read Next

Rumah Jabatan Fathan Disegel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *