Nuril: Amnesti Hadiah untuk Anak Saya

Mantan guru honorer SMAN 7 Mataram terpidana kasus ITE Baiq Nuril memegangi kepalanya saat audiensi dengan Komisi III DPR di Gedung NUsantara III, Senayan, Jakarta, (23/7/19). Pertemuan tersebut membahas surat pertimbangan amnesti Baiq Nuril dari Presiden Joko Widodo FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

JAKARTA – Terpidana Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Baiq Nuril Maknun, masih terus memperjuangkan amnesti dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Perjuangan Nuril semakin mendekati keberhasilan. Komisi III DPR, Rabu (24/7), hari ini akan membahas permintaan pertimbangan presiden dalam memberikan amnesti kepada Nuril.

Komisi yang dipimpin Aziz Syamsuddin itu akan meminta pandangan detail Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) serta fraksi yang ada di DPR, baru kemudian memutuskan apakah pemberian amnesti itu disetujui atau tidak.

“Jadi, kami akan mengundang Kemenkumham untuk mendengar masukan dan pertimbangan hukum dari pemerintah. Selanjutnya akan diambil keputusan dalam forum rapat kerja Komisi III,” kata Aziz Syamsudin saat rapat kerja Komisi III DPR yang menghadirkan Baiq Nuril, Selasa (23/7).

Sebelum rapat dengan Kemenkumham dan mendengar pandangan fraksi, Komisi III DPR menggelar raker meminta masukan Nuril. Awalnya, Komisi III DPR menggelar rapat pleno tertutup selama 15 menit. Setelah itu, rapat digelar terbuka menghadirkan Nuril. “Hasil rapat pleno kami adalah meminta penjelasan langsung dari Ibu Nuril,” ujar politikus Partai Golkar itu.

Baiq Nuril pun masuk ke gedung DPR membawa anaknya, R, serta didampingi pengacaranya. Nuril sengaja membawa R karena bertepatan dengan momen Hari Anak Nasional. “Jadi (amnesti), mungkin hadiah buat anak saya,” kata Nuril di gedung DPR, Jakarta.

Saat rapat, Nuril tidak kuasa menutupi kesedihannya. Saat diberikan kesempatan berbicara, Nuril terbata-bata. Beberapa kalimat meluncur dari mulutnya. Namun, terhenti karena menahan tangis. Berulang kali Nuril terlihat menahan tangis. Sembari terus berusaha melanjutkan penjelasannya.

Nuril mengaku sudah beberapa pekan bertahan di Jakarta. Tidak pulang ke rumahnya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Nuril menunggu hasil dari pemberian amnesti. Dia berharap DPR memberikan keputusan terbaik.

“Mudahan kabar bahagia bisa saya berikan ke anak saya bahwa permohonan amnesti yang saya ajukan dipertimbangkan bapak ibu (anggota DPR) dengan baik,” kata Nuril yang mengenakan jilbab warna merah itu.

R tetap mendampingi Nuril. Dia duduk di sebelah kiri ibunya. Mantan tenaga honorer di salah satu SMA di Mataram, itu sangat berharap kepada wakil rakyat untuk memperjuangkan pengampunannya.

“Saya tidak tahu mau ke mana lagi. DPR adalah wakil rakyat yang bisa menolong rakyat. Saya cuma rakyat kecil, yang punya harapan ingin membesarkan, dan mendidik anak saya menjadi orang yang lebih berguna,” ujar Nuril. Dia meyakini kebenaran dan keadilan masih berpihak kepadanya. “Karena saya berdiri di atas kebenaran, dan saya yakin itu,” ujar Nuril sembari menahan tangis.

Sementara itu, Aziz Syamsudin berjanji bahwa apa yang akan diputuskan Komisi III DPR hari ini akan memberikan kemanfaatan bagi bangsa dan negara. “Nanti kami lihat dari sisi pertimbangan hukum dan dalil-dalilnya, dan lebih bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara,” ungkap mantan ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR itu.

Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka mengatakan, Nuril selama ini memang stand by di Jakarta untuk memantau perkembangan pemberian amnesti kepadanya. Rieke meyakini Komisi III DPR menyetujui pemberian amnesti untuk Nuril. “Insyaallah, insyaallah karena sebetulnya ini bukan persoalan partai politik,” kata Rieke yang kemarin di-BKO-kan Fraksi PDI Perjuangan dari Komisi VI ke Komisi III DPR.

Rieke yakin bahwa bukan hanya Komisi III saja, melainkan seluruh anggota DPR juga berjuang bersama Nuril. Menurut dia, hal ini karena apa yang diperjuangkan Nuril merupakan persoalan keadilan dan kemanusiaan. “Sudah menjadi kewajiban kami anggota DPR untuk bisa memperjuangkannya,” ungkap Rieke.

Menurut dia lagi, persoalan ini bukan hanya soal Nuril, tetapi juga untuk anak-anak maupun perempuan-perempuan Indonesia lainnya. “Intinya ini soal masa depan Indonesia yang lebih baik, dan supaya peristiwa ini tidak terulang lagi,” ungkap Rieke. (ody)

Read Previous

Siapkan Pergub Sanksi Pembakar Lahan

Read Next

Kekerasan terhadap Anak dan Penyelesaiannya

Tinggalkan Balasan

Most Popular