Nurul Keluar Lewat Jendela

RUSAK PARAH: Seorang warga terlihat tengah melihat kondisi rumah yang rusak akibat bencana tanah longsor di Dusun Teratai, Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, kemarin. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Tiga Kali Longsor, Kali Ini Paling Parah

PENIRAMAN – Nurul Hasanah, satu dari puluhan orang yang selamat atas bencana tanah longsor yang terjadi di dusunnya, itu masih terlihat shok. Ia selamat, setelah berhasil keluar rumah melalui jendela saat runtuhan tanah itu menerjang rumahnya, Selasa (14/7) sore.

“Waktu itu saya sedang berada di dapur. Beberes, karena baru selesai acara pengajian. Suami saya sudah meminta saya keluar saat tanah mulai runtuh. Tapi saya tidak langsung keluar. Akhirnya saya lompat dari jendela,” katanya saat ditemui Pontianak Post, Rabu (15/7).

​Runtuhan tanah dan batu menimbun sebagian rumah miliknya. Bangunan bagian samping, roboh. Ia dan suaminya Abas, tidak sempat lagi menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka. ​“Kami tak kepikiran lagi untuk menyelamatkan barang-barang. Yang penting kami semua selamat,” katanya.

Saat ini, Nurul dan keluarganya menumpang sementara di rumah sanak saudaranya, karena rumah miliknya rusak parah.

​Nurul mengaku, sebelum longsor sempat terdengar suara gemuruh dari atas bukit. Selang beberapa menit kemudian, tanah runtuh dan menerjang rumahnya. “Beruntung saat kejadian, pengajian sudah selesai, tinggal saya sendiri sedang beres-beres di dapur,” katanya.

​Longsoran tanah bekas tambang galian C itu tidak hanya merobohkan rumahnya, tetapi juga menimbulkan kerusakan pada rumah warga lain, yakni rumah milik Alpari.

Runtuhan tanah itu menerjang bagian depan rumahnya. Meskipun tidak mengalami kerusakan seperti rumah Nurul, namun rumah milik Alpari tidak bisa ditempati. Halaman dan lantai rumahnya tertimbun lumpur.

​Alpari mengaku, saat peristiwa terjadi, ia sedang tidak berada di rumah. Ia baru mengetahui kejadian itu setelah dihubungi oleh salah satu saudaranya.  ​“Waktu itu saya sedang bekerja. Saya dihubungi bibi. Katanya lagi ada longsor. Karena dulu pernah juga kejadian seperti ini, saya awalnya biasa saja. Tapi ternyata seperti ini,” katanya.

​Menurutnya, tanah longsor sudah beberapa kali terjadi di Desa Peniraman. Namun, peristiwa kali ini yang terparah. ​“Memang sudah beberapa kali longsor di sini. Tapi ini yang terparah,” lanjutnya.

Jarak kedua rumah yang mengalami kerusakan akibat longsoran tanah dengan bukit hanya sekitar 50 meter.

Untuk mengantisipasi terjadinya longsor susulan, sebagian warga yang berada dekat dengan lokasi longsor terpaksa mengungsi sementara ke rumah sanak saudara mereka. “Setidaknya ada 15 kepala keluarga yang mengungsi,” kata Kepala Dusun Teratai, Desa Peniraman Muhammad Hayat.

Saat ini pihaknya bersama pemerintah desa dan BPBD Kabupaten Mempawah mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada. “Kami hanya bisa mengimbau, karena tidak mungkinmelakukan relokasi,” bebernya.

Hayat tidak menepis bahwa di Bukit Peniraman, tidak hanya warga yang bekerja secara swadaya sebagai penggalibatu dan tanah, juga ada perusahaan besar yang bekerja dengan alat berat di sisi lain bukit.

Hayat mengakui, saat ini setidaknya sudah tiga kali longsor di Bukit Peniraman, dua di antaranya longsor besar seperti ini sampai kena rumah warga, ada lagi sekali hanya longsor kecil tidak separah ini.

Bencana Ekologis

Bukit Peniraman sebelumnya merupakan kawasan hutanyang memiliki kekayaan sumber daya alam. Hutan inisebelumnya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untukmemenuhi kebutuhan mereka.

Desa Peniraman sendiri teridiri lima dusun, salah satunya adalah Dusun Teratai yang memiliki potensi alam yang besarkhususnya sumber daya alam Galian C (batu dan tanah).

Aktivitas penambangan Galian C di Bukit Peniraman, Desa Peniraman sudah berlangsung sejak tahun 1960 sampai sekarang.

Pada awalnya kegiatan penambangan Galian C dilakukan oleh masyarakat setempat yang bertujuan untuk pembangunan infrastruktur bangunan pribadi (pembangunan rumah masyarakat) atau kebutuhan pembangunan infrastruktur di Desa Peniraman.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas penambangan galian C tidak hanya dilakukan oleh masyarakat lokal, tetapi dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan alat berat seperti exsavator, looder dan alat angkut mobil truk.

“Di sini dulunya hutan. Tapi kemudian dijadikan areal penambangan galian C,” kata M. Sodit, Ketua RT 01/01, Dusun Satu, Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh.

Menurut Sodit, setidaknya ada dua perusahaan yang melakukan operasi dekat di lokasi, satu di antaranya CV. Restu Bumi.

Sementara itu, Hendrikus Adam, Kepala Divisi Kajian, Dokumentasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar mengatakan, tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur Kalimantan Barat saat ini riskan melahirkan bencana ekologis seperti, angin kencang, banjir dan longsor. Terutama pada sejumlah tempat akibat praktik eksploitatif, seperti yang terjadi di daerah Peniraman, Kabupaten Mempawah.

Menurut Adam, bencana ekologis banjir, tanah longsor dan lainnya itu terjadi tidak pilih kasih. Tidak peduli orang baik atau jahat, peduli atau tidak terhadap lingkungan, kaya maupun miskin dan apapun suku maupun warna kulit.

Hanya saja, kata Adam, cara setiap orang saja yang pasti berbeda dalam merespon bencana yang dialami. “Tindakan eksploitatif yang terus menerus akan pada gilirannya menjadi bom waktu yang siap meledak,”katanya.

Sejumlah kejadian bencana ekologis yang terus terulang, kata Adam, seharusnya menggugah dan membangkitkan kesadaran bersama termasuk pembuat kebijakan untuk dapat meminimalisir terjadinya bencana tersebut.

“Menghentikan tindakan eksploitatif dan mulai memulihkan kondisi lingkungan serta melakukan evaluasi serius terhadap aturan juga kebijakan rakus lahan pentingmenjadi langkah serius bersama,” pungkasnya. (arf)

loading...