Dikeluhkan Pasien Isolasi Mandiri
Obat Antivirus Covid-19 Langka

ILUSTRASI/ REUTERS

PONTIANAK – Obat antivirus untuk terapi Covid-19 semakin sulit ditemukan. Di Puskesmas keberadaannya kian langka. Begitu juga dengan di apotek-apotek. Kondisi ini dikeluhkan oleh pasien Covid-19 yang tengah melakukan isolasi mandiri (isoman). “Berkeliling nyari Oseltamivir, nggak ada apotek yang jual,” ungkap Rina, warga Pontianak, Selasa (13/7).

Oseltamivir merupakan salah satu obat anti virus untuk terapi Covid-19. Rina mencari obat tersebut lantaran sang ayah positif Covid-19. Ia mendapatkan resep tersebut dari dokter. Semula ia berharap obat tersebut bisa diperoleh dari Puskesmas. Namun dari informasi yang didapat, stok obat tersebut habis. Ia pun tambah kecewa karena di apotek pun tak menemukan obat tersebut. “Gimana mau nyuruh masyarakat cepat sembuh, kalau antivirus susah didapat,” keluhnya.

Kelangkaan obat antivirus ini diakui oleh pengusaha di bidang farmasi. Owner Apotek Agung, Sukamto mengatakan, stok obat anti virus untuk covid-19 masih dalam keadaan kosong. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar satu minggu.

“Sangat banyak (permintaan obat), lebih dari 50 pasien per hari,” ungkap Sukamto saat ditanyai media ini soal seberapa besar permintaan onat antivirus clterapi Covid-19 saat ini, Selasa (13/7).

Menurutnya ada 11 jenis obat anti virus berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan dan telah diatur Harga Eceran Tertinggi (HET). Dari kesebelas obat tersebut, obat Oseltamivir dan Favipiravir yang banyak dicari oleh masyarakat. Saat ini hanya ada satu item yang tersisa, namun tidak semua apotek punya.

“Yang masih ada stok saat ini hanya Azytromicin 500mg tablet, itupun sudah banyak apotek yang kosong juga,” kata Penasehat Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Kalbar ini.

Dia menilai, selama ini statemen dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut stok antivirus cukup dan aman, namun nyatanya semua distributor di Kalbar menyatakan bahwa stok dalam kondisi kosong. Hal ini menurutnya membuat masyarakat beranggapan bahwa pihak apotek sengaja menahan obat, padahal kenyatanya tidak.

Dirinya menduga, kekosongan ini lebih dikarenakan kebutuhan yang teramat tinggi sehingga pabrik tidak mampu melayani permintaan dari distributor. Adapun kemungkinan adanya penimbunan obat oleh pihak pedagang besar farmasi ataupun apotek, dia menilai sangat kecil. Hal Ini dikarenakan komoditas obat-obatan tercatat sangat ketat, sehingga sangat mudah dilakukan penelusuran. “Sangat mudah ditelusuri dan pihak kami tidak bisa menaikan harga jual eceran tertinggi obat tanpa mengetahui Kemenkes,” katanya.

Di sisi lain, pihaknya mengakui ada apotek yang menahan obat antivirus ini lantaran harga beli mereka lebih tinggi dari pada HET yang baru-baru ini ditetapkan oleh Kemenkes. Gubernur Kalbar, menurutnya sudah mengetahui hal Ini, dan meminta penegak hukum untuk memberikan toleransi terhadap harga jual obat di apotek yang melebihi HET.

“Apotek diberikan batas waktu menjual dengan margin yang wajar. Apa yang disampaikan Pak Gubernur ada benarnya juga itu (harga jual di atas HET, red) menjadi salah satu faktor kelangkaan juga, namun faktor utama saat ini adalah permintaan lebih besar dari pada produksi sehingga obat jadi langka,” tuturnya.

Namun, tambahnya, dikarenakan stok obat sebelum penetapan HET sudah semakin sedikit di pasaran, maka hal ini sudah tidak terlalu menjadi hambatan. Pabrik obat menurutnya sudah menyesuaikan harga dengan ketentuan HET dari pemerintah.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson menilai hilangnya obat terapi Covid-19 dari pasaran karena salah kebijakan Menteri Kesehatan. Menurutnya, apotek atau pedagang besar farmasi itu sudah membeli obat-obatan Covid-19 sesuai dengan hukum pasar. Kondisi permintaan yang banyak namun suplai sedikit, membuat harga obat naik.

“Mereka telah terlanjur membeli dengan harga mahal untuk dijual ke masyarakat. Namun tiba-tiba menteri kesehatan membuat kebijakan penetapan harga obat dimana harus di bawah harga modal apotek atau pedagang besar farmasi,” katanya.

Dengan keputusan menteri terkait HET, lanjutnya, pihak yang berwenang mendatangi apotek, meminta agar mereka mengikuti ketetapan. Namun, menurutnya, mereka tidak mau menjual dengan harga sesuai HET karena mereka akan merugi.

“Untuk itulah sekarang menurut dugaan saya, obat-obat itu mereka (apotek, red) simpan tidak mereka jual. Akibatnya obat kosong di pasaran,” tuturnya.

Seharusnya, Harisson melanjutkan, begitu harga naik, maka pemerintah mesti memproduksi obat tersebut secara besar-besaran dan segera mendistribusikannya di pasar, sehingga harganya murah. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Permintaan obat Covid-19 meningkat, harga naik, malah dipatok harga di bawah harga pasar, ya hilanglah obatnya. Sekarang kita pusing, obat hilang dari pasaran, dinkes tidak bisa beli, sementara Kemenkes mensuplai obat ke daerah ngiprit-ngiprit (dikit-dikit, red),” ujarnya.

Dikatakan Harisson, adanya satgas pengendalian oksigen dan obat lantaran obat sekarang susah dicari. “Seminggu kita bisa memastikan bahwa obat aman, tapi minggu depannya obat hilang dari pasaran. Kita mengira dengan penetapan harga oleh menkes, selanjutnya harga akan aman, karena menteri selanjutnya menghujani pasar dengan obat-obatan tersebut. Namun ternyata sebaliknya, obat diitetapkan harganya di bawah harga pasar, tapi tidak disuplai barangnya ke pasar, ya hilanglah obat itu,” pungkas dia.

Seperti diketahui pada 2 Juli 2021, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) obat dalam masa pandemi Covid-19. Di mana ada sebelas jenis obat yang harganya diatur dalam keputusan tersebut. Seperti obat remedesivir, oseltamivir, ivermectin dan lain sebagainya. “Dengan keputusan menteri itu pihak yang berwenang mendatangi apotek, meminta agar apotek mengikuti harga (HET) menteri kesehatan,” tambahnya.  (sti)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!