Obat Molnupiravir, ‘Si Tukang Tipu’ yang Bikin Virus Covid-19 Error

Dunia kini punya harapan untuk melawan Covid-19 selain vaksinasi. Amerika Serikat kini menemukan kandidat kuat obat Covid-19 bernama Molnupiravir atau secara ilmiah dikenal dengan nucleoside analogue β-D-N4-hydroxycytidine (NHC). Peran obat ini ternyata bisa membuat virus salah langkah atau error ketika bereplikasi.

“Mengapa saya sebut Molnupiravir sebagai si tukang tipu, itu karena obat ini bisa menipu virus sehingga suatu virus berkembang biak replikasi malah virusnya menjadi mati. Jadi virus Korona ini memakai RNA Polimerase untuk mereplikasi. Nah ini yang kemudian menjadi target Molnupiravir merusak virusnya,” kata Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban seperti dilansir jawapos.com.

Menurutnya, Molnupuravir memengaruhi dan merusak replikasi dari berbagai virus termasuk Covid-19. Bedanya dengan Remdesivir, obat Molnupiravir bisa diminum secara oral.

“Jadi Molnupiravir berperan sebagai zat yang menyebabkan terjadinya virus error atau kesalahan yang amat berat pada virus saat bereplikasi, sehingga virusnya mati. Sehingga menipu virus,” ungkapnya.

Sejauh ini obat ini belum mendapatkan izin dari BPOM Amerika Serikat atau Food Drugs Administration (FDA). Datanya pun belum dipublikasi.

“Belum dapat izin dari FDA. Kita tunggu, FDA masih rapat untuk memberikan izin obat ini apakah izin penggunaan darurat atau izin edar biasa,” kata Prof Zubairi.

Mengenai efektivitasnya, dari data-data yang ada yang disampaikan sampai sekarang ini, kata dia, obat ini memang bisa bermanfaat untuk pasien yang ringan sedang. Sehingga cocok untuk pasien berobat jalan. “Bisa mencegah masuk RS sebesar 50 persen. Dan peran kurangi kematian juga diharapkan. Maka amat bermanfaat,” katanya.

Obat ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi Merck di Amerika Serikat dan Kanada, bersama dengan Ridgeback Biotherapeutics yang berbasis di Miami. Merck dikenal sebagai MSD di tempat lain di dunia. Dan saat ini masih menunggu izin dari FDA AS.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!