Omzet Turun 80 persen, Nasib Warkop dan Kafe Kian Tak Menentu

SEPI PENGUNJUNG: Warung kopi di Jalan S Parman terlihat sepi pengunjung pasca merebaknya pandemi virus corona. Ratusan warung kopi di Pontianak terpaksa tutup atau hanya melayani pembelian untuk dibawa pulang. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Pandemi Covid-19 yang melanda Kalimantan Barat tidak hanya menghentikan detak jantung para penderitanya, tetapi juga menggerogoti sumber perekonomian masyarakat. Salah satunya warung kopi (warkop). Sejak dikeluarkannya surat edaran dan imbauan pemerintah tentang larangan berkumpul, kontan pendapatan bisnis warkop turun drastis. Pengunjung sepi. Bahkan, tidak sedikit warkop yang memilih tutup.

Salah satunya adalah Warkop Winny, yang terletak di Jalah Gajah Mada, Pontianak. Di hari biasanya, Warkop Winny tidak pernah sepi pengunjung. Namun dengan merebaknya virus corona, warkop yang berdiri sejak tahun 2000an ini sepi pengunjung, dan akhirnya memilih untuk menghentikan operasionalnya.

“Awal-awal kami masih buka. Tapi, belakangan setelah dapat surat imbauan, kami lebih baik tutup,” ujar pemilik Warkop Winny, Heriwanoto kepada Pontianak Post, kemarin. Menurutnya, wabah corona sangat berdampak pada pendapatannya. Saat ini ia harus menghentikan bisnisnya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Dampaknya sangat jelas. Kami, warung kopi hanya diperbolehkan untuk buka pukul 08.00-21.00 WIB. Itu pun tidak boleh diminum di tempat. Harus dibungkus. Dengan sistem seperti itu, jelas omzet tidak cukup untuk menutup gaji karyawan. Belum lagi beban lain,” keluhnya.

Warkop Winny memiliki 8-10 karyawan yang harus digaji setiap hari dan bulanan. “Kalau sudah tutup seperti ini, otomatis karyawan kami pulangkan. Tapi kami masih punya beban untuk membayar gaji pokok mereka, terutama yang gaji bulanan. Yang harian, otomatis berhenti sementara,” bebernya.

Belum lagi soal cicilan bank yang juga harus dibayar setiap bulan. Padahal, kata Heri, Presiden Joko Widodo sudah mengeluarkan keputusan untuk memberikan kelonggaran pembayaran bunga atau angsuran.

“Tapi nyatanya bank yang memberikan pinjaman KUR belum ada keputusan. Kami khawatir, jika ini berlanjut, bisnis tidak akan jalan dan tengkurap,” katanya.

Dampak berkurangnya omzet juga dialami oleh Aming Coffee. Bahkan beberapa outlet di luar Kota Pontianak terpaksa harus ditutup. Di antaranya Aming Coffee di Singkawang, Transmart Kubu Raya, dan Bogor.

“Ada beberapa yang terpaksa harus tutup. Sementara yang masih buka, seperti outlet di Pontianak hanya melayani pesanan take away,” kata Aming, pemilik Aming Coffee.

Menurutnya, dampak wabah corona yang terjadi saat ini terus menggerus omzet bisnis setiap harinya. Bahkan penurunan omzet hingga 80 persen dari hari biasanya. Outlet di Bandara Supadio Pontianak misalnya. Omzet Aming Coffee di sana hanya tinggal belasan persen.

Namun demikian, dia tidak punya banyak pilihan selain harus mematuhi imbauan pemerintah. “Kalau untuk menutupi biaya operasional sangat tidak menutup. Tapi bagaimana pun harus tetap buka, dan karyawan harus tetap survive. Jangan sampai ada karyawan yang dipulangkan,” katanya.

Meski tetap membuka beberapa outletnya, Aming mengaku sangat ketat terhadap pengunjung. Mereka harus melewati bilik disinfektan dan harus mencuci tangannya dengan hand sanitizer untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

“Untuk pengunjung kami siapkan bilik disinfektan dan hand sanitizer, agar penyebaran virus tidak meluas,” paparnya. Warkop lain yang masih beroperasional adalah Warkop Winer di Jalan Gajah Mada. Warkop ini buka dari pagi hingga sore.

Pemiliknya juga mengakui bahwa wabah corona sangat memengaruhi pendapatannya. Namun, ia mengaku tidak punya pilihan. “Sangat berpengaruh. Tapi mau gimana lagi. Mau tutup atau buka pun sama saja,” katanya. (arf)

error: Content is protected !!