Open Mind for Competence

opini pontianak post

Oleh: Prof. Dr. Ir. Hj. Nurmala, MM

Menurut UUD No. 13/2003 tentang ketenagakerjaan pasal 1 (10), “Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standart yang ditetapkan.”

Menurut UUD No. 14 tahun 2015 tentang Guru dan Dosen disebutkan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, kesimpulan dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanankan tugas keprofesionalan.

Apabila bicara tentang kompetensi adalah sangat berhubungan dengan persiapan diri bekerja pada bidang–bidang sesuai dengan keahlian masing–masing. Sekarang masalah kemampuan bekerja menjadi masalah besar, karena belasan tahun generasi kita cenderung kehilangan dari beberapa jenis pengembangan diri yang belum maksimun dan dipahami, serta tidak melekat dibenak generasi muda kita. Misalnya, kemampuan (skill), attitude (sikap prilaku), understanding (pemahaman), knowledge (pengetahuan), interest (minat).

Tapi, demi waktu yang tak bisa digeser mundur, begitu pulalah pertumbuhan generasi kita. Apapun jenis pendidikan yang mereka alami, mereka telah terbentuk. Seperti kita telah melihat pertumbuhan tanaman yang dibentuk dan dirawat setiap hari, ia akan terbentuk sesuai dengan tujuan, namun yang dibiarkan, ia akan bergerak sendiri dan terbentuk tanpa jelas hasil akhirnya bagaimana, mungkin bisa tak sesuai antara harapan dan kenyataan. Karena memang tak ada membentuknya.

Akhirnya ketika dilevel mendekati garis akhir, dimana disaat mereka harus siap dilepas ke masyarakat, dimana ia harusnya bisa mengembangkan diri bekerja dan kompeten dalam berbagai situasi, ia belum siap. Terbukti masyarakat mungkin masih meragukan kemampuan mereka untuk mengemban tanggung jawab besar. Kalaupun ada hanya turun dilevel bawahnya.

Jadi jika pola pendidikan sejak level dasar, menengah tidak dibenahi, maka siap-siap beban terberat ada pada level Pendidikan yang diharap menjadi garis akhir yaitu smk/politeknik/perguruan tinggi. Jika dilevel akhir ini masih tak peduli pada kompetensi maka yang akan keluar dari lembaga-lembaga ini hanyalah tumpahan masalah pengangguran dan beban masyarakat karena dengan perkembangan organ tubuh yang kuat sebagai generasi muda namun tak memiliki kompetensi skill dan attitude yang tepat. Akhirnya bisa jadi tidak terarah dan bisa jadi melakukan hal-hal yang kurang terpuji.

Saatnya kita menyadari pentingnya membangun pola pendidikan yang selalu menyatukan skill, knowledge, attitude dalam setiap pengetahuan yang dituangkan pada mereka (peserta didik). Pendidikan Kompetensi pun harus dilengkapi dengan Uji Kompetensi. Tidak hanya sekejar menguji “hapalan” atau pengetahuan namun skill dan perilaku harus pula diutamakan.

Tidak perlu menunggu menjadi sarjana/master/bekerja pengalaman bertahun-tahun baru bisa kompeten. Di setiap tahapan usia setiap manusia, dia harus memiliki kompetensi dan kompeten mengerjakan apapun yang dibutuhkan untuk hidup yang bekualitas bagi diri maupun masyarakatnya.

Untuk bisa mengevaluasi dan merubah pola pendidikan kita, tentunya kita harus melihat negeri tercinta kita indonesia yang telah merdeka lebih dari 70 tahun, tapi apa yang terjadi pada generasi dan negeri ini. Kita harus belajar dari negara seperti jepang, malaysia dll yang begitu cepat bangkit dan unggul. Kita harus sama-sama mempersiapkan sistem pendidikan yang profesional.

Demikian pula kita selaku tenaga pendidik harus bisa berkolaborasi, bekerjasama, memproses informasi secara kritis dan kemampuan berempati, mampu berinovasi. Selain itu tenaga pendidik juga harus mampu menerepkan teaching industry ditingkat politeknik, serta tenaga pedidik harus mempunyai kemampuan marketing, human realation kemampuan bahasa inggris dan mandarin, tak kalah penting tenaga pendidik harus mempunyai sertifikat kompetensi.**

*Penulis adalah Guru Besar Politeknik Negeri Pontianak

loading...