Optimalisasi Peran Keluarga Di Masa Pandemi

Endang Rusmini

PENDIDIKAN asih (rasa) sasaran utamanya adalah pembinaan kesadaran hidup sebagai proses pendewasaan dan pematangan. Pendidikan asah (cipta) sasaran utamanya adalah pembinaan anak untuk kelak mampu hidup kreatif, cakap, dan terampil sehingga mampu melangsungkan hidup. Sedangkan pendidikan asuh (karsa) sasaran utamanya adalah membimbing anak melalui pengarahan agar senantiasa berperilaku terkendali ke arah tujuan akhir kehidupan. Keluarga merupakan taman pendidikan pertama, terpenting dan terdekat yang bisa dinikmati oleh anak.

Suhartono (2013) mengemukakan bahwa tradisi pendidikan keluarga berlangsung menurut kerangka asih, asah, dan asuh. Tiga kerangka ini mengakar kuat pada tiga potensi kejiwaan berupa rasa, cipta, dan karsa. Masa pandemi, dengan sistem pembelajaran yang masih menggunakan jarak jauh (PJJ). Baik luring terstruktur maupun daring sesuai dengan kebijakan masing masing sekolah. Menuntut adanya banyak peran dalam mendukung siswa untuk konsisten dan tekun belajar. Peran sekolah, guru, orangtua dan lingkungan saling bersinergi untuk memaksimalkan kemampuan siswa dalam belajar. Sehingga siswa dapat belajar dengan baik.

Optimalisasi peran orangtua sebagai pendidik tentunya perlu disikapi sungguh–sungguh sejak sekarang dalam artian setiap keluarga berkewajiban membina kemampuan mendidik setiap anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang peduli pada pengembangan kualitas moral yang pada akhirnya menjadi generasi muda terdidik dan berbudaya di masa depan.

Terlebih dengan kemajuan perangkat teknologi, perkembangan anak tak lagi bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah yang tentu saja akan selalu mempunyai sisi positif dan negatif,  sehingga orangtua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. Teman sekaligus pesaing orangtua menjadi bertambah.

Peranan keluarga dalam pendidikan keluarga diharapkan mencerminkan pemikiran dan pandangan ke depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi yang akan dihadapi anak nantinya, ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan karena kehidupan berjalan ke depan.

Menurut Rousseau (Connel, dkk, 1969) bahwa manusia  (anak)  dibentuk  oleh  pendidikan, selanjutnya pendidikan itu datang dari alam, dari manusia, dan dari benda–benda sekitar, jika pengajaran mereka bermasalah, maka anak akan terdidik salah dan tidak akan pernah damai dengan dirinya.

Apabila pengajarannya selaras, anak akan terus dengan tujuannya, hidup damai dengan dirinya, dia terdidik dengan baik. alam menjaga, membina, dan mengembangkan kerangka dasar untuk mempertahankan eksistensi keunggulan moral anak usia dini sangat penting, karena ketika keluarga tidak lagi menempatkan prinsip–prinsip moralitas agung yang merupakan substitusi dari pengembangan spiritual anak sebagai basisnya. Untuk itu dalam menghadapi masa yang seperti ini, sebaiknya semua pihak berperan dan berfungsi secara maksimal. Berkolaborasi dalam mendidik dan membimbing semangat serta motivasi siswa dalam belajar.

(penulis adalah guru di SDN 18 Jeranai)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!