Overdosis Chloroquine Bisa Picu Gangguan Penglihatan

Presiden Joko Widodo menyatakan telah memesan Avigan dan Chloroquine untuk mengatasi coronavirus disease-2019 (Covid-19). Bersamaan dengan pengumuman itu, dua obat tersebut kini menjadi buruan masyarakat. Jawa Pos kemarin menelusuri apotek-apotek yang menyediakan dua obat itu.

Seorang apoteker perempuan di Kelurahan Pondok Petir, Kota Depok, mengatakan bahwa beberapa hari terakhir banyak pembeli yang menanyakan obat itu. Khususnya Chloroquine. Seperti diketahui, Kota Depok ditetapkan menjadi salah satu kota merah kasus korona oleh Pemprov Jawa Barat. Namun, apotek tersebut tidak menjual obat Chloroquine maupun Avigan. Dia menegaskan, kalaupun menjual obat itu, pembelinya wajib menunjukkan resep dokter. Dia tidak melayani pembelian tanpa resep dokter.

Berapa harga Chloroquine? Ternyata sangat murah. Hanya Rp 10 ribu untuk satu setrip berisi 10 butir. Harga itu dijelaskan apoteker yang bekerja di Apotek RX dan Apotek KW di Pamulang, Tangerang Selatan. Apoteker di dua apotek itu kompak mengatakan bahwa tempatnya bekerja tidak punya stok obat Chloroquine. Apoteker di Apotek KW mengatakan sejak beberapa hari terakhir tidak mendapatkan stok. ’’Mungkin sudah distop (pendistribusiannya, Red) sama pemerintah. Kami tidak dikirimi distributornya,’’ katanya.

Harga yang sangat murah itu berbanding terbalik dengan harga di aplikasi online. Di Tokopedia, misalnya. Ada yang menjual 10 tablet Chloroquine 250 mg seharga Rp 200 ribu. Di aplikasi Shopee, ada pelapak yang menjual Chloroquine 150 mg dengan harga Rp 350 ribu untuk satu setrip berisi 10 butir.

Dekan Fakultas Kedokteran Ari Fahrial Syam mengatakan, ada Chloroquine dalam kemasan botol dan setrip. ’’Avigan dan Chloroquine harus resep dokter. Pasien tidak boleh mengonsumsi secara mandiri,’’ katanya. Dia menyarankan pemerintah melakukan uji klinis bersamaan dengan rencana pemberian obat itu kepada pasien korona.

Guru besar farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati Apt menyatakan bahwa obat untuk Covid-19 itu belum teruji secara klinis. Sebab, penyakit tersebut merupakan jenis baru. Dengan demikian, pengobatannya menggunakan obat-obat yang sebelumnya dipakai untuk mengatasi penyakit sejenis. ”Mereka belajar dari flu unta, SARS, dan yang lainnya,” ucap dia.

Uji klinis diperlukan untuk melihat reaksi obat terhadap penyakit. Termasuk efek samping yang ditimbulkan. Untuk bisa disebut efektif menyembuhkan, uji klinis harus melibatkan subjek setidaknya 1.000 orang.

Sementara itu, pemerintah Tiongkok dan AS menyebut bahwa Avigan dan Chloroquine cukup efektif mengatasi korona. Meski demikian, menurut Zullies, ada catatan mengenai penggunaan obat tersebut pada kasus Covid. Pemerintah Jepang sudah menyatakan bahwa Avigan tidak cocok digunakan bagi kasus Covid-19 yang parah. Sebab, ditengarai tidak memberikan dampak.

Di sisi lain, obat itu juga memiliki sejarah keberhasilan. Misalnya, pada kasus flu burung beberapa waktu lalu, Avigan digunakan untuk mengatasinya

Sementara itu, Chloroquine memiliki fungsi untuk mengatasi Covid-19 karena kandungan yang dimilikinya mampu mempersempit ruang gerak virus. Virus tersebut masuk ke tubuh melalui angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). ”Obat ini bisa mengikat enzim tersebut,” tutur Zullies.

Selanjutnya, sifat basa pada Chloroquine juga memengaruhi virus tersebut. Zullies mengatakan, sifat basa bisa masuk ke sel dan membuat sel menjadi basa. Dengan begitu, replikasi virus atau pembentukan virus biologis selama proses infeksi di sel yang akan menjadi inangnya akan terhambat.

Meski demikian, Zullies melarang masyarakat membeli tanpa resep dokter. Sebab, obat tersebut tergolong obat keras. Takaran dan dosisnya harus terpantau. ”Ada efek samping. Misalnya, detak jantung tidak beraturan. Bisa juga menyebabkan gangguan penglihatan,” ungkapnya.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan bahwa masyarakat dilarang menyimpan Chloroquine. ”Tidak dibenarkan kita simpan sendiri atau kita minum dengan konteks pencegahan. Sebab, secara keilmuan, tidak ada upaya pencegahan dengan meminum obat tertentu,” jelasnya. Mengurangi dan menghindari kontak, kata Yuri, adalah pencegahan terbaik, selain menjaga imunitas tubuh. ”Agar tetap sehat, perlu melakukan aktivitas ringan di rumah. Bukan berarti sama sekali tidak melakukan aktivitas fisik. Ini juga bisa menurunkan imunitas tubuh,” katanya.

Peneliti Kimia Medisinal Pusat Penelitian Kimia LIPI Marissa Angelina menegaskan, Chloroquine dan Avigan adalah obat keras. Dia menuturkan efek samping dari penggunakan obat itu. Menurutnya, selama tidak over dosis (OD), efek yang mungkin timbul hanya diare dan mual. Namun, kalau sampai OD, efeknya bisa lebih parah. Seperti menyebabkan kebutaan, telinga tidak dapat mendengar, dan kulit melepuh merah. Dengan risiko efek samping seperti itu, dia meminta masyarakat jangan sampai bisa membeli obat itu secara bebas.

Sementara itu, untuk Avigan, dia mengatakan memang sebagai antivirus influenza. Namun, bukan seperti obat flu yang dijual bebas di Indonesia.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : wan/lyn/tau/agf/c10/oni

Read Previous

Cegah Virus Corona, PLN Kalbar Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Lingkungan Kantor

Read Next

Delapan Tenaga Medis yang Sempat Kontak Dengan PDP Positif Dinyatakan Negatif Covid-19

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *