Padi Anti-Kekeringan Berhasil Panen

PONTIANAK – Padi varietas Tropiko berhasil panen di Desa Pesaguan, Matan Hilir, Kecamatan Ketapang. Padi dalam rangka program demplot penangkaran benih di lahan satu hektare ini terbukti mampu bertahan di tengah musim kemarau dan tanah kering. Tidak hanya itu, sawah ini mampu menghasilkan 6,5 ton gabah kering panen. Sawah memanjang itu kontras dengan sawah-sawah sekitar yang tak ditanami lantaran musim gadu atau kemarau panjang.

Adalah KPw Bank Indonesia Kalbar dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalbar, Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatah Hewan Kalbar, bersama Gapoktan Pematang Ubi Jaya yang menjalankan program ini. Ketua Gapoktan Pematang Ubi Jaya, Zainal Arifin menyebut pihaknya sangat senang dengan hasil yang didapat. “Kami awalnya pesimis. Karena di sini sudah dua bulan tidak turun hujan. Banyak petani di sini tidak menanam padi karena kemarau ini. Tapi ternyata sukses, bahkan hasilnya lumayan,” ujarnya.

Kepaka BPTP Kalbar, Akhmad Musyafak menjelaskan Tropiko adalah padi varietas baru yang diciptakan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Hasil perkawinan padi Jepang Khosihakari dengan IR 36, yang ditambahi sinar gama untuk menambah sifat pada benih “Tropiko terbukti tahan terhadap musik kemarau, serangan hama wereng batang coklat, dan blas. Hasilnya juga bagus di sini walaupun tanahnya sudah pecah-pecag,” ujarnya.

Kepala BI Kalbar Prijono mengatakan, salah satu tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga inflasi. Oleh karena itu pihaknya merasa perlu untuk ikut mendukung upaya tersebut sesuai dengan Tupoksi yang ada. Serta bersinergi dengan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar dengan meningkatkan kapabilitas Gapoktan pelaksana kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM).

Panen di Gapoktan Pematang Ubi Jaya ini merupakan panen ketiga setelah. Panen pertama dan kedua dilakukan pada bulan Juli 2019 lalu di Gapoktan Sari Agung, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sedahan KKU dengan varietas Inpari Muqibat dan di Gapoktan Meteor, Desa Gelik, Selakau Timur, Kabupaten Sambas. Di Gapoktan Meteor Berhasil panen varietas Inpari 42 Agritan GSR sebanyak 10.2 Ton/GKG dengan luasan 2 ha. Jumlah benih ini setidaknya mampu mencukupi kebutuhan benih untuk 200-400 hektar sawah di Selakau Timur.

Dia memuji keberhasilan Gapoktan Pematang Ubi Jaya. “Ini Musim Tanam 2, saat yg sulit, petani yg berhasil di musim ini adalah petani jempolan dan ini di buktikan oleh Gapoktan Pematang Ubi Jaya. Walaupun dua bulan terakhir tidak turun hujan mereka berhasil panen dengan baik.Di saat petani lainnya tidak menanam padi karena kemarau yg cukup panjang, demplot seluas 1 ha ini mampu bertahan dan menghasilkan panen di atas jumlah rata-rata dihasilkan petani setempat saat musim rendengan,” kata dia. Gapoktan Pematang Ubi Jaya ini sendiri sebelumnya menerima penghargaan sebagai Gapoktan berprestasi tingkat Provinsi pada peringatan 17 Agustus 2019.

Manager K3 BI Kalbar Djoko Juniwarto menambahkan, ada beberapa penyebab keberhasilan demplot ini. Pertama, pada lahan tersedia sumur bor sehingga pada saat tidak hujan dan dibutuhkan air tersedia. Kedua, antisipasi penyakit tanaman terutama jamur. Kalbar dengan suhu panas dan kelembaban udara yg tinggi membuat jamur mudah berkembang biak. Dengan penggunaan fungisida terjadwal terbukti mampu mengatasi hal itu. Ketiga, tentunya peranan benih padinya yang toleran dengan jamur dan kekeringan. Selain itu pendampingan intensif yg dilakukan oleh BI, Dinas Pangan dan BPTP serta peranan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ketepang serta penyuluh dan Gapoktan dalam mengawal demplot sejak mulai pembenihan hingga panen.

Hasil panen ini akan digunakan untuk musim tanam selanjutya. Dengan asumsi kebutuhan benih 25 Kg/ha, Hasil panen penangkaran benih sebanyak 6,5 ton ini telah mampu memenuhi kebutuhan lebih kurang 260 ha hektar lahan pertanian padi di Gapoktan Pematang Ubi Jaya dan sekitarnya.

“Disamping itu petani anggota Gapoktan tentunya dapat dengan mudah memperoleh benih berkualitas dengan harga yang murah produksi mereka sendiri. Hal ini tentunya sangat membantu dalam menekan salah satu komponen biaya mengingat harga benih berkualitas di pasaran relatif tinggi. Disisi lain dengan menggunakan benih berkualitas tentunya akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan nilai jual beras yg dihasilkan,” ujar Djoko.

Dengan model penguatan seperti ini Gapoktan diharapkan mampu secara mandiri menyediakan benih berkualitas dengan harga murah secara tepat waktu dan sesuai kebutuhan petani anggotanya. “Kedepan apabila program ini mampu direplikasi ke berbagai Gapoktan, dapat mengurangi beban pemerintah dalam menyediakan bantuan benih serta anggarannya dapat dialokasikan ke sektor lain yang lebih memerlukan,” pungkasnya. (ars)

Read Previous

Demi Meningkatkan Layanan kepada Konsumen, Hotel Orchardz Beralih Layanan Listrik Premium

Read Next

Masyarakat Tumpah Ruah di Festival Durian Bumi Khatulistiwa

Tinggalkan Balasan

Most Popular