Pakai Kantong Plastik Bekas Pisang, agar tidak Basah Kuyup

PELARI REKREASI: Peserta asal Kota Pontianak yang ikut meramaikan Kuching Marathon 2019 pada 18 Agustus lalu. DOK. PRIBADI

Cerita Pelari Rekreasi Pontianak di Kuching Marathon 2019

Ada 40 peserta pelari rekreasi yang ikut dalam ajang Kuching Marathon 2019. Satu di antaranya menorehkan prestasi gemilang. Lainnya punya cerita yang menarik.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PULUHAN orang malam itu, Kamis (22/8), berkumpul untuk berlari bersama. Rutenya kali itu adalah dari Gedung Grapari Telkomsel Pontianak ke Water Front Pontianak. Inilah aktivitas rutin yang dilaksanakan oleh komunitas Indorunners Pontianak.

“Kegiatan rutin kami lari bareng tiga kali dalam satu Minggu, Kamis malam, Sabtu pagi, dan Minggu pagi,” ungkap Robert, anggota Indorunners Pontianak, ketika itu.

Komunitas yang telah berdiri sejak lima tahun yang lalu itu, kini telah memiliki ratusan anggota dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda. Hanya mereka memiliki hobi yang sama, olahraga lari. Mereka menyebut diri mereka sebagai pelari rekreasi.

Meski hanya sekadar hobi, tidak sedikit dari mereka serius menekuni olahraga ini. Keseriusan itu, terlihat dari kesungguhan mereka mengikuti berbagai ajang kompetisi maraton internasional yang digelar di berbagai negara. Terakhir, ada 40 pelari dari komunitas tersebut, mengikuti Ajang Kuching Marathon 2019, 18 Agustus yang lalu.

Mereka menjadi bagian dari ribuan pelari dari berbagai negara, yang menjadi peserta dalam ajang tahunan tersebut.
Di kompetisi tersebut, satu orang pelari berhasil menorehkan prestasi dengan masuk dijajaran 10 besar. Dia adalah Susi (31). Ibu rumah tangga ini berhasil meraih posisi ke-10 kategori 42 kilometer putri, dengan mengalahkan ribuan peserta lainnya dari banyak negara. Ia menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia yang berhasil masuk di jajaran 10 besar di kategori tersebut.

“Lomba start-nya jam satu malam. 42 kilometer itu berhasil saya selesaikan dalam waktu 4 jam 8 menit,” ungkap Susi.

Menjadi peserta pada ajang Kuching Marathon merupakan tahun keduanya. Di tahun lalu, ibu dua anak ini berhasil mencatatkan torehan yang cukup baik. “Tahun lalu urutan 12,” kata dia.

Pelari lainnya yang ikut dalam ajang tersebut adalah Robert (36). Ayah dua anak ini hanya berhasil finish di urutan 96, pada kategori 42 kilometer putra. Diakuinya, pera pesaing pada kategori tersebut sangat kuat. “Saingannya kuat-kuat, terutama dari Kenya,” tutur dia.

Kesiapan para peserta kompetisi ini, boleh dikatakan tidak main-main. Bila komunitas punya jadwal rutin tiga kali dalam satu minggu, mereka yang berniat untuk ikut kompetisi maraton internasional, mesti menambah waktu latihannya. “Persiapan biasanya mulai 16 minggu sebelum hari H perlombaan. Minimal dalam satu minggu latihan larinya sampai 60 – 70 kilometer,” ucap dia.

Ada beberapa kejadian lucu yang dialami para peserta asal Kota Pontianak saat mengikuti ajang tersebut. Salah satunya yang dialami oleh Muhammad Agus (24), yang turun dalam kategori 21 kilometer putra. Agus tidak akan lupa kejadian di mana ia harus berjibaku dengan hujan saat harus menyelesaikan larinya hingga akhir. Lomba yang dimulai pukul tiga malam itu, harus dilaluinya dengan menerjang hujan yang turun cukup deras saat itu. Hanya saja, ia tak ingin kondisi itu menghambat peformanya. Karena itu, ia berupaya meminimalisir agar dirinya tidak terlampau basah kuyup.

“Waktu mulai turun hujan, saya cari cara bagaimana agar tidak terlalu basah kuyup. Tiba-tiba ada saja ide muncul untuk pakai plastik buat tutupi badan,” kata dia.

Agus menceritakan, bagaimana ia berupaya mencari kantong plastik besar yang dibutuhkankan agar terlindung dari hujan. Tak pikir panjang, saat menemukan sebuah tong sampah, ia pun mencari plastik yang mungkin berada di dalamnya. Betul saja, ada sebuah kantong plastik bekas sampah pisang yang ukurannya cukup besar, yang bisa ia manfaatkan. Sampah pisang ia buang, kemudian kantong plastik tersebut ia sulap menjadi rompi yang melindungi tubuhnya. “Ya, minimalkan ini (rompi plastik, Red) bisa meminimalkan dampak hujan, jadi gak basah kuyup,” tutur dia. (*)

Read Previous

Tingkatkan Pelayanan, Credit Union Keling Kumang Buka BO Baru

Read Next

Belajar Keuangan Syariah dari Republik Islam Iran

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *