Panen Raya Kepiting Bakau di Batu Ampar

PANEN: Warga mengumpulkan hasil panen raya kepiting bakau di keramba KUPS Kelompok I Budidaya Silvofishery Kepiting Bakau, Desa Batu Ampar, Rabu (18/12). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Perkuat Ekonomi Warga, Jaga Kelestarian Mangrove

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menghadiri panen raya kepiting bakau di Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (18/12). Masyarakat berhasil membuktikan bahwa kepiting bakau bisa menjadi komoditi bernilai ekonomi tinggi.   

IDIL AQSA AKBARY, Sungai Raya

PANEN raya kepiting yang pertama kali digelar ini berlangsung di keramba Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kelompok I Budidaya Silvofishery Kepiting Bakau. Sejak pagi, masyarakat yang tergabung dalam kelompok berjumlah 40 orang anggota itu antusias menyambut para pejabat yang hadir.

Hadir Gubernur Kalbar Sutarmidji, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, Kapolda Kalbar Didi Haryono, Danlantamal XII Pontianak Agus Hariadi serta unsur Forkopimda dan para pejabat dari instansi terkait lainnya.

Sebelum panen berlangsung, terlebih dahulu dipasang puluhan bubu sebagai tempat untuk menangkap kepiting. Di lokasi tersebut memiliki potensi hasil kepiting bakau mencapai 2,5 ton.

Dimana para pejabat yang hadir berkesempatan mengangkat langsung bubu-bubu hasil panen kepiting dengan berat rata-rata per kepiting mencapai 350 gram. “Alhamdulillah tadi kami langsung buka open sale tercatat 266 kilogram yang itu dipesan hanya dalam waktu 30 menit,” ungkap Direktur SAMPAN Kalimantan Dede Purwansyah.

Dede menjelaskan hasil dari panen tersebut sudah memiliki pembeli pasti. Selain 266 kilogram yang dibeli secara spontan oleh para pejabat yang hadir, ada 500 kilogram lagi yang dijual untuk pembeli asal Jakarta dan Bali. “Di sini potensinya 2,5 ton, khusus kelompok I dan ini sudah ada pembelinya,” terangnya.

Untuk potensi kepiting bakau secara keseluruhan di Desa Batu Ampar menurutnya cukup besar. Karena selain kelompok I, ada dua KUPS lagi yang lokasi kerambanya berbeda. Yakni Kelompok II dan Seruat II. “Potensinya ada 103 keramba total keseluruhan, dengan potensi 400 ekor per keramba, berat per ekor rata-rata 350 gram,” jelas Dede.

Ia mengatakan sejak tahun 2017, SAMPAN Kalimantan dengan dukungan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) memfasilitasi masyarakat di Bentang Pesisir Padang Tikar untuk meningkatkan produktifitas kepiting bakau melalui budidaya sistim silvofishery ini.

Pengembangan ini merupakan salah satu program strategis untuk pengembangan Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar (HD BBPT). Sebagaimana telah tertuang dalam Rencana Pengelolaan Hutan Desa (RPHD) Bentang Pesisir Padang Tikar periode 2018-2028.

“Harapan kami dengan mengundang Pak Gubernur dan Bupati, ingin menunjukkan bahwa produk hasil hutan bukan kayu dari silvofishery kepiting juga punya nilai komoditi yang unggul,” katanya.

Ia berharap usaha masayarakat dengan tetap menjaga kelestarian alam ini bisa terus berkembang. Dan ke depan pihaknya bakal mulai mengembangkan konsep ekowisata dan edukasi. Karena sudah terbukti cukup banyak pengunjung atau wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang tertarik datang ke sana.

“Kami tidak akan berbangga hati dengan pencapaian sekarang, tetapi lebih akan meningkatkan semangat bagi kawan-kawan anggota KUPS untuk terus melakukan inovasi dan kemandirian,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Kalbar Sutarmidji menyambut baik adanya konsep KUPS untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. “Yang jelas budidaya kepiting bakau ini, pertama tujuannya untuk menjaga hutan mangrove supaya tetap lestari, itu yang paling penting,” tegasnya.

Kemudian dapat juga menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan bakau. Dengan harapan ketika sudah memiliki penghasilan dari budidaya kepiting ini, otomatis masyarakat akan melestarikan hutan bakau dengan baik. “Pemprov akan melihat model bantuan untuk masyarakat ini seperti apa. Apakah subsidi bunga, modal, KUR atau apa, kami sedang kaji yang pas yang mana,” katanya.

Pemerintah secara umum siap membantu pengembangan kelompok-kelompok nelayan, khususnya budidaya kepiting ini. Selain juga pengembangan potensi hutan mangrove lainnya, seperti madu kelulut dan komoditas potensial yang lain. “Itu bisa dikembangkan terus dan semoga bisa berkembang,” harapnya.

Terkait status Desa Batu Ampar menurutnya saat ini masih dalam tahap berkembang. Dan memang wilayah desa ini terbilang cukup luas, sehingga butuh waktu dalam menyelesaikan indikator-indikator desa mandiri. “Kami berharap dua tahun ke depan ini (Desa Batu Ampar) bisa menjadi desa mandiri,” pungkasnya.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengaku senang atas keberhasilan masyarakat melakukan budidaya kepiting bakau. Usaha ini bisa menjadi alternatif peningkatan ekonomi warga sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

“Menghindari agar mangrove tidak dibakar, karena selama ini kan mangrove dijadikan arang. Dengan budidaya ini pelan-pelan masyarakat semakin memahami mangrove perlu dipelihara dan dilestarikan,” ungkapnya.

Ke depan menurutnya tinggal dicarikan inovasi-inovasi agar usaha ini tetap bisa berjalan dengan baik. Dari sisi praktik pengelolaan secara umum dinilainya sudah cukup profesional. Hanya saja karena memang budidaya dilakukan di alam terbuka secara langsung, tentu masih banyak tantangan yang harus dihadapi. “Termasuk urusan pembenihan tadi, ke depan kami akan cari inovasi,” katanya.

Pemkab Kubu Raya akan merumuskan bersama Pemprov Kalbar, bagaimana langkah-langkah untuk memperkuat pemberdayan di hutan desa ini. Sebab peluang di sana sangat luar biasa, sekaligus dapat mempercepat kemandirian desa. “Ini perlu kerja keroyokoan karena bentang pantai Kubu Raya adalah kekayaan yang luar biasa,” tutupnya.(*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!