Panji: Corona Bukan Aib

Panji, Bupati Melawi

Bupati Melawi Tertular Covid-19 dari Menantu

NANGA PINOH – Bupati Melawi, Panji saat mengetahui dirinya dan keluarga dinyatakan positif Covid-19, lekas mengonfirmasi hal tersebut dan mengumumkan ke masyarakat. Ayah dari Anggota DPR RI Yessy Melania ini menganggap informasi itu penting disampaikan ke publik. Covid-19 bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi.

“Saya menganggap ini bukan aib. Ini adalah risiko dari pekerjaan yang sudah kami emban,” tegasnya saat dihubungi Pontianak Post, kemarin. Saat dihubungi Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji pada 1 Juni 2020 kemarin, dirinya sudah mengetahui keenam anggota keluarganya positif Covid-19 berdasarkan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak.

Keenam anggota keluarga tersebut terdiri dari Panji beserta istrinya, ketiga anaknya yang bernama Wafi Kurnia Putra, Dimas Nurmansyah yang merupakan suami dari Dokter Candra Dewi, Ardi Armananda dan ibu mertua yang turut tinggal di Rumah Jabatan Bupati Melawi.

Panji juga menjawab terkait dengan kenapa dirinya dan keluarga bisa terpapar corona. Dia menjelaskan, menantunya Dokter Candra Dewi yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Melawi pada 24 Mei 2020 lalu telah dinyatakan positif Covid-19. Kendati tak tinggal satu rumah, dirinya kerap kontak dengan menantunya.

“Saya jelaskan, kami sekeluarga memang kontak langsung dengan Dokter Candra Dewi yang merupakan menantu saya. Ia bertugas di RSUD Melawi dan sudah dinyatakan positif berdasarkan hasil tes swab. Kemudian, beliau memang sering mengantarkan anaknya yang masih kecil ke rumah jabatan, sebelum ditinggal kerja. Itu sebab kami sering kontak langsung,” tutur Panji kepada Pontianak Post.

Dia menjelaskan, riwayat perjalanan menantunya ini pernah meminta izin cuti melahirkan di Jakarta pada November 2019 silam. Kemudian pulang ke Melawi pada Febuari 2020 dan kembali bekerja pada 1 April 2020 di RSUD Melawi.

“Kami sudah diskusikan sebelum ia kembali bekerja di rumah sakit kemarin. Apalagi anaknya masih kecil dan kita sedang menghadapi pandemi. Namun menantu saya ini berpikir dia sangat ingin kembali bekerja dan membantu petugas medis menangani pandemi di Melawi. Dia pun mengambil sikap dan kembali bekerja,” jelas Panji.

Lantaran kerap kontak langsung bersama menantunya tersebut, tepatnya pada 23 April 2020, keluarga Panji ikuti rapid test dan hasilnya negatif. Kemudian, pada 18 Mei, Dokter Candra Dewi merasa demam dan meminta untuk rapid test. Hasilnya reaktif. Sejak saat itu, dokter ini segera menjalani isolasi diri di rumah beserta suami dan anaknya yang belum genap setahun.

Tak sampai di situ, Panji beserta keluarga kembali lakukan tes swab PCR pada 26 Mei. Hasilnya baru keluar pada 1 Juni 2020 dan dinyatakan positif. Panji lantas mengumumkannnya ke masyarakat melalui rekaman video dan konferensi pers.

“Kami saat ini sudah mengisolasi diri di rumah dengan pengawasan dari dokter dan petugas medis terkait. Kami taat dan akan mengikuti segala prosedur,” tegasnya.

Dalam rekaman video tersebut, ia mengimbau seluruh masyarakat Melawi untuk tetap mengikuti anjuran pemerintah dan menerapkan pola hidup sehat sebagaimana yang sering dikampanyekan. Selain itu, masyarakat pun diminta tidak panik. Panji berpesan agar kasus corona yang dialaminya ini menjadi pembelajaran.

“Jika sebelumnya masyarakat kurang yakin bahwa Covid-19 itu ada, cuek atau tak acuh, sekarang lihatlah yang terjadi dengan kami. Jangan lagi menganggap remeh terhadap Covid-19,” imbuhnya.

Terakhir ia juga memohon didoakan agar dirinya beserta keluarga lekas sembuh. “Saya minta masyarakat Melawi tetap mengikuti anjuran pemerintah. Saya pun minta doa untuk keluarga kami supaya bisa cepat sembuh,” tandasnya.

Untuk diketahui, sejak menantu Bupati Melawi itu terkonfirmasi Covid-19, Bupati Melawi tak banyak melakukan aktivitas di luar. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Ajudan Bupati Melawi, Agau. Bahkan, ia mengaku tak pernah mendampingi Panji sejak dua pekan terakhir.

“Dua Minggu terakhir sudah tidak bersama beliau. Sejak menantu Pak Panji terkonfirmasi Covid-19,” ujarnya saat dihubungi Pontianak Post, Selasa (2/6).

Apresiasi Keterbukaan

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengapresiasi langkah Bupati Melawi Panji yang secara terbuka mengumumkan dirinya terkonfirmasi (positif) Covid-19. Seperti diketahui Bupati Panji dan enam anggota keluarganya menjadi bagian dari satu kluster penularan Covid-19 di Kabupaten Melawi.

“Saya apresiasi Pak Panji ya. Pak Panji ini satu keluarga. Beliau dengan sukarela menyampaikan secara terbuka (positif Covid-19),” kata Sutarmidji kepada awak media, Selasa (2/6).

Menurut Midji, sapaan akrabnya, adanya kasus ini membuktikan bahwa tidak perlu ada penilaian negatif terhadap mereka yang positif Covid-19. Penyakit ini bukanlah suatu aib. Apalagi mereka yang positif memiliki kesempatan besar untuk sembuh.

“Buktinya ada satu pasien kami di (RSUD) Soedarso umur 72 tahun dia masuk sempat koma tidak bisa komunikasi, hari ini sudah dinyatakan sembuh. Artinya tidak ada masalah, biasa saja. Nah, kalau Pak Bupati (Panji) menyampaikan secara terbuka itu bagus. Saya yakin 14 hari ke depan beliau sudah sembuh,” harapnya.

Orang nomor satu di Kalbar itu juga yakin tingkat kesembuhan Covid-19 di Kalbar cukup tinggi. Bahkan kemarin ia menyebut ada tambahan tujuh pasien lagi yang dinyatakan sembuh. “Ada juga wakil kepala daerah yang awalnya positif sekarang sudah sembuh. Dia, istrinya, wakil bupati ya, dia sudah sembuh total, dia OTG. Sama dengan Pak Bupati Melawi, seluruh keluarga OTG, tapi tidak ada masalah,” ungkapnya.

Melihat dari data yang ada, Midji menilai dari 196 kasus di Kalbar, separuhnya merupakan orang-orang yang memiliki pemahaman baik terkait Covid-19. Dokter atau paramedis misalnya. Ketika melayani pasien, mereka harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan baik supaya tetap terlindungi dan tidak terjangkit.

“Tapi ternyata banyak, perawat juga banyak (positif Covid-19). Kayak ASN harusnya paham, tapi mereka justru yang terpapar,” terangnya.

Hal ini membuktikan bahwa penyakit yang disebabkan virus tidak mengenal latar belakang apapun. Virus bisa menyebar dengan mudah dan semua berpotensi untuk terpapar. “Contoh misalnya tadi Pak Bupati, keterjangkitan awal itu kan anak (menantu) beliau yang dokter. Akhirnya kan dia kena, istrinya kena, suaminya kena kan begitu. Ini masalahnya kalau virus cepat menular. Bekas orang pegang, kita pegang bisa terjangkit, beda dengan bakteri,” ucapnya.

Meski kasus positif terus bertambah, Midji tetap optimistis secara bertahap kenormalan baru bisa dijalankan. Ke depan ia yakin angka keterjangkitan akan lebih rendah dari angka mereka yang sembuh. Kurvanya akan terus menurun.

“Karena di Pontianak ini, awalnya prediksi para pakar keterjangkitan pada 14 Mei itu 45 persen dari jumlah penduduk. Coba bayangkan itu kan 200 ribu orang. Kami harus siapkan 380 ICU dan ventilator. Ternyata itu tidak terjadi, karena kami jaga betul,” jelasnya.

Ia bahkan tidak mempedulikan masyarakat ada yang marah karena kebijakan yang diambil. Menurutnya semua dilakukan demi keselamatan masyarakat itu sendiri, bukan untuk kepentingan tertentu. Kenormalan baru akan dijalankan sesuai panduan pemerintah pusat. Pemerintah daerah hanya menambah kebijakan yang dirasa perlu sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

“Kalau masjid sudah ada (panduan pemerintah) nah diikuti. Tapi kalau untuk pendidikan, kalaupun masih zona hijau dan lain sebagainya, jangan. Tunggu hasil dari pemerintah pusat petunjuknya apa,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menyampaikan hal serupa. Ia mengaku bangga kepada Bupati Melawi yang sudah terbuka menyatakan diri positif Covid-19. “Orang yang sudah dinyatakan positif Covid-19 bukan suatu aib. Tidak ada orang yang mau terkena penyakit ini. Namun karena keadaan mungkin yang menyebabkan tertular,” katanya.

Mengenai kasus konfirmasi di Kabupaten Melawi sampai saat ini dikatakan memang ada tujuh orang, yakni Bupati Melawi beserta keluarga. Kasus konfirmasi pertama di Kabupaten Melawi yang lebih dulu diumumkan merupakan menantu dari Bupati Melawi. Dengan demikian semua kasus di Melawi merupakan satu kluster yang sama. “Kami perkirakan justru tertular dari rumah sakit (RS) karena menantu dari Bupati Melawi merupakan Dokter di RS Melawi,” jelasnya.

Selanjutnya karena merupakan satu keluarga besar, anggota keluarga yang lain juga ikut tertular. Meski diketahui kondisi dari pasien konfirmasi di Melawi semuanya merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG). Mereka dalam keadaan sehat dan secara klinis juga baik.

Untuk itu tidak perlu ada perawatan di rumah sakit. Bupati Panji dan keluarga cukup diisolasi mandiri dengan memperhatikan protokol kesehatan. Harisson berharap proses penyembuhannya bisa berjalan cepat hingga virus yang ada benar-benar hilang.

“Kami semua berdoa semoga Bupati Melawi beserta keluarga akan cepat mengalami proses penyembuhan. Mudahan dalam waktu dekat kami akan tes setelah dua minggu untuk melihat apakah virus masih ada di pasien kasus konfirmasi ini,” pungkasnya. (fds/bar)