Paradigma Teori Belajar Humanistik

Siti Khasanah, S.Pd

OLEH: SITI KHASANAH     

DALAM proses pembelajaran di kelas, ada lima komponen penting yang membentuk satu kesatuan lingkungan pembelajaran, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, materi, dan evaluasi. Dari kelima komponen tersebut, pendidik merupakan penggerak aktif agar pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien (Widyaningrum dan Rahmanumeta, 2016). Oleh sebab itu untuk menjalankan kelima komponen di atas guru sebagai tenaga pendidik perlu menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif dalam menentukan keberhasilan dan perubahan tingkah laku peserta didik.

Strategi pembelajaran inovatif diterapkan dalam penyampaian materi dengan menghubungkan fenomena yang dialami peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (Sarwi, Supriyadi, dan Sudarmin, 2013). Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi, dan lingkungan yang akan dihadapi. Pemilihan strategi pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Pentingnya paradigma teori belajar humanistik dalam mengimplementasikan pembelajaran inovatif di sekolah.

Dalam mengembangkan potensi peserta didik seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal ini karena keberhasilan pendidikan ditentukan oleh bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Sekolah sebagai sistem penyelenggara pendidikan harus memberdayakan seluruh komponen yang ada di dalamnya secara terpadu dan saling berkaitan antara satu dengan yang lain sehingga mendorong tercapainya tujuan pendidik.

Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang bertujuan meningkatkan perilaku kreatif, menggerakkan potensi kreativitas peserta didik terhadap hal-hal yang baru. Pembelajaran inovatif mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembelajaran tersebut dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belajar.

Pembelajaran inovatif digunakan guru bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik pada proses perubahan perilaku. Untuk mengubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik dibutuhkan teori belajar humanistik dalam pembelajaran inovatif di sekolah. Pembelajaran humanistik merupakan salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan sikap saling menghargai dan mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didik.

Dalam konsep belajar teori humanistik tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi mengajak untuk menghayati, menyelami, dan memahami berbagai bentuk potensi yang ada pada peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran inovatif dimanfaatkan sebagai kegiatan pembelajaran dalam proses pendidikan.

Menurut Yasin (2017) teori humanistik memandang proses belajar ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, teori belajar  humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan apa yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri.

Teori belajar humanistik lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Teori belajar humanistik merupakan sebuah teori yang masuk ke dalam ruang lingkup pendidikan yang dijadikan sebagai materi untuk mengembangkan potensi yang ada peserta didik. Tujuan belajar menurut aliran humanistik untuk memanusiakan manusia.

Dalam arti yang sesungguhnya adalah segala sesuatu dalam proses pengajaran dan pembelajaran harus bisa menghargai orang lain sebagai individu yang bermakna. Oleh karenanya guru sebagai motivator dan fasilitator di sekolah harusnya paham dengan kondisi siswa dengan kunci bisa memahami dengan baik. Semua potensi peserta didik yang berbeda dan beragam sesuai degan talenta masing-masing. Proses belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami lingkungan dan dirinya sendiri.

Di dalam teori belajar humanistik guru berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik, guru memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Oleh sebab itu dibutuhkan teori belajar humanistik dalam pembelajaran inovatif untuk merubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik. Pembelajaran inovatif dilahirkan dengan mempetimbangkan karakteristik peserta didik, kondisi lingkungan peserta didik, dan sarana-prasarana yang tersedia bagi peserta didik itu sendiri, sehingga lebih menantang dan menumbuhkembangkan semangat peserta didik untuk belajar secara mandiri yang mempermudah pencapaian tujuan belajar.

Bisa memahami dan memberi ruang tersendiri hadirnya siswa dengan keberagaman potensi. Sebagai guru harus bisa memanusiakan. Peserta didik juga memiliki rasa untuk dihargai agar tercipta pembelajaran yang kondusif. Pembelajaran kondusif dan inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembelajaran tersebut dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belaja. Konsep pemikiran adanya teori humanistic menjadi dasar agar semua ekosistem sekolah memiliki semangat untuk menjadikan peserta didik sebagaimana yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Memilik perlakuan adil dan tak berat sebelah dalam memberikan kebutuhan akan pendidikan.

Dalam keberagaman yang akan selalu ada di lingkungan sekolah, menjadikan konsep yang wajib dalam menjunjung tinggi akan teori humanistik. Memanusiakan peserta didik dan memberikan kesempatan dalam menuangkan kreatifitas melalui pembelajaran inovatif yang dilakukan oleh guru. Kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan saat memperoleh pendidikan dan pengajaran disekolah menjadikan peserta didik merasa bahagia dalam menemukan jati diri untuk menemukan masa depannya. Sebab dari lingkungan sekolah, peserta didik akan menapaki jenjang kehidupannya dengan bisa menghargai orang lain. Dimana dan kapan dia berada.

Guru yang baik akan memberikan pendidikan terbaik untuk peserta didik, berkesan dan juga bermakna. Hingga memberikan pesan moral untuk dikenang sepanjang perjalanan hidup peserta didik. Jika memilih menjadi guru, maka jadilah guru terbaik yang akan selalu diingat seumur hidup peserta didik.**

*PENULIS, GURU SDN 19 TANJUNG PERIUK.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!