Paru-Paru Kami Penuh Asap

kabut asap

GENERASI ASAP: Seorang balita harus menggunakan masker saat digendong ibunya beraktivitas di luar rumah Jalan Raya Kakap, Selasa (17/9). Ancaman infeksi saluran pernafasan menghantui balita dan anak-anak saat musim kabut asap. HARYADI/PONTIANAKPOST

Rumah Oksigen Beroperasi 24 jam

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menuturkan, perkembangan udara dari hasil laporan Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Selasa pagi masih menunjukkan kategori tidak sehat. Rumah oksigen yang ditempatkan Dinas Kesehatan pada enam titik mesti dimaksimalkan dengan layanan hingga 24 jam.

“Udara masih tidak sehat. Antisipasi ISPA, kami sudah menempatkan rumah oksigen di enam puskesmas kecamatan dan satu lagi di Dinas Kesehatan,” ungkap Edi usia melihat kesiapan petugas Puskesmas Alianyang dalam pelayanan rumah oksigen, kemarin.

Dijelaskan dia, rumah oksigen disediakan bagi masyarakat yang terpapar ISPA. Layanan ini diberikan selama 24 jam. Dengan demikian, masyarakat yang terdapat gejala ISPA dapat langsung melakukan pengecekan ke puskesmas terdekat.

Selain tindakan cepat antisipasi ISPA, soal libur sekolah juga disinggung Edi. Apabila udara masih pekat oleh kabut asap. Tidak menutup kemungkinan libur akan diperpanjang hingga Kamis.

Untuk surat resminya belum diedarkan. Karena Edi masih melakukan pemantauan kategori udara di Pontianak. Jika masih buruk, maka surat akan segera diedarkan dan dikirim pada kepala sekolah untuk segera menyampaikan ke orang tua murid. “Biasanya pengumuman libur kami sampaikan melalui pesan WA atau di media sosial. Namun surat resminya tetap kami buat,” ungkapnya.

Kondisi udara seperti ini, para orang tua juga mengawasi anak-anaknya. Imbauannya jangan ada yang bermain di luar rumah. “Tapi kenyataan, masih ada anak-anak berkeliaran. Ini bahaya bagi paru-paru. Orang tua harusnya mengawasi,” tegasnya.

Akibat kabut asap, penyelenggaraan even bisa berjalan tidak maksimal. Bahkan kabarnya ada tiga tim peserta dari negara tetangga yang kemungkinan tidak ikut pada pelaksanaan dragon boat level internasional waktu dekat ini. “Ada tiga peserta yaitu negara Myanmar, Singapura dan Thailand terancam batal ke sini. Mereka tidak diizinkan Pemerintahnya untuk datang ke sini karena Kalimantan tengah diselimuti asap,” ucapnya.

Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat penderita infeksi saluran pernapasan akut di kota ini mencapai 1.100 orang. Angka itu tercatat hingga pekan ke-37 tahun 2019. Jumlah penderita ISPA meningkat dibandingkan minggu ke-36 tahun 2019. Jumlah yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Pontianak sebanyak 1.090 penderita ISPA.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengakui terjadi peningkatan jumlah penderita dampak dari kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan. Pada kondisi normal kunjungan pasien ke puskesmas akibat ISPA berkisar antara 600-900 orang.

“Adanya dampak asap ini meningkat sekitar 200 penderita ISPA. Jadi peningkatannya belum sampai dua kali lipat,” jelas Sidiq saat mendampingi Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ketika meninjau rumah oksigen di Puskesmas Ali Anyang Kecamatan Pontianak Kota Jalan Pangeran Natakusuma, siang kemarin.

Diakui Sidiq ISPA merupakan penyakit yang banyak dideritanya sehingga dalam kondisi normal jumlah masyarakat yang berkunjung ke puskesmas untuk berobat mencapai 900 orang.

Sidiq mengakui bahwa data itu hanya sebagian kecil terkait jumlah masyarakat yang menderita ISPA. Pihaknya belum menerima laporan terkait warga yang berobat fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti klinik maupun dokter praktik.

“Jadi masih dari laporan fasilitas kesehatan milik pemerintah. Untuk praktik swasta tentu yang berobat bisa warga dari mana saja dan tidak ada pembedaan wilayah asal pasein,” ujar Sidiq.

“Jadi yang terpantau itu hanya faskes milik pemerintah, tetapi yang bisa diambil kesimpulan bahwa kasus ini meningkat,” sambung Sidiq.

Begitu juga dengan masyarakat yang harus dirujuk ke rumah sakit dikarenakan menderita ISPA. Meski demikian, lanjut Sidiq, pihaknya sudah berkoordinasi dengan rumah sakit. Bila ada warga yang harus mendapat perawatan karena sakit akibat terdampak asap maka semestinya dilaporkan ke Dinas Kesehatan. “Sampai hari ini masih nihil dari laporan dari rumah sakit,” kata dia.

Sementara itu terkait dengan laporan kunjungan pasien untuk berobat ISPA ke puskesmas diterima Dinas Kesehatan setiap hari. Laporan itu mulai diterima sekitar pukul 15.00. Jika dihitung rata-rata, per hari kunjungan pasien yang berobat karena ISPA berkisar pada angka 100-150 orang. Angka itu tak jauh berbeda dengan kondisi normal.

Sidiq menjelaskan penderita ISPA pun tidak murni karena terpapar asap. Bisa jadi dikarenakan memang sudah menderita asma dan asap menjadi pemicu kambuh penyakit ISPA yang dideritanya.

Dilanjutkan Sidiq penderita ISPA yang terdata saat ini didominasi anak-anak. Usianya di bawah 15 tahun. Sementara untuk setiap puskesmas, kunjungan penderita ISPA jumlahnya relatif sama.

Kepala Puskesmas Pontianak Kota, Nunuk Utari menyebutkan kunjungan pasien ISPA saat kabut asap melanda pernah tercatat sebanyak 21 kasus dalam satu hari. Itulah adalah pasien baru yang terdata di Puskesmas. Peningkatan kunjungan itu terjadi pada bulan September.

“Biasanya hanya enam hingga tujuh per hati. Sekarang dalam kondisi pekatnya kabut asap, jika dihitung rata-rata sekitar 15 pasien per hari,” kata dia.

Untuk Puskesmas Kota, kunjungan pasien yang berobat ISPA didominasi orang dewasa. Pengobatannya masih dilakukan di tingkat puskesmas dan belum harus dirujuk ke rumah sakit. “Masih di puskesmas, dengan gejala batu dan pilek. Tidak ada ke arah lain seperti pnemonia,” sebut Nunuk. (mse/iza)

Read Previous

Karhutla Bikin Negara Tekor

Read Next

Prestige Syndrome di Dunia Film

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *