Pasien Covid-19 Membaik

PELUANG SEMBUH: Perawatan terus diberikan petugas medis terhadap pasien pengidap Covid-19. Dari total kasus yang ada di seluruh dunia, peluang sembuh pasien cukup besar. AFP

Orang Dengan Kumorbit Lebih Rentan

JAKARTA – Para pasien coronavirus desease (Covid-19) menjalani perawatan dengan standar perawatan influenza. Isolasi terhadap mereka hanya berfungsi untuk mencegah penyebaran, bukan untuk menyembuhkan. Penyembuhannya sendiri adalah melalui penguatan imunitas. Kondisi keempat pasien terus membaik, meskipun SARS-Cov-2 masih bersarang di saluruan pernafasan mereka.

Kemarin (7/3), Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan sejumlah hal terkait perkembangan kondisi kasus 1, 2, 3, dan 4. Untuk kasus 1 dan 2, spesimennya sudah diambil Jumat (6/3) lalu. ’’Setahu saya hasilnya masih positif, tapi klinisnya sudah semakin baik,’’ terang Yuri.

Artinya, SARS-Cov-2 memang masih ada di tubuh. Namun, kondisi kesehatannya semakin membaik. Keduanya sudah tidak memiliki keluhan apapun. Meskipun demikian, mereka akan terus dipantau perkembangannya dan menjalani uji virus. ’’Kalau (dua kali pemeriksaan) negatif pasti akan dipulangkan,’’ lanjutnya.

Sementara, kasus 3 dan 4 kondisinya tidak jauh berbeda. Saat dinyatakan positif Covid-19, kondisi klinis mereka adalah influenza, namun bukan yang berat. Kini kondisinya klinisnya terus membaik. Sudah tidak lagi demam. Pileknya sudah tidak terlalu parah, dan batuk juga sudah berkurang.

Mereka akan menjalani uji virus lagi pada hari kelima yang jatuh besok (9/3). Sebagaimana kasus 1 dan 2 serta semua kasus positif di seluruh dunia, standarnya adalah dua kali pemeriksaan. Bila dalam dua kali pemeriksaan hasilnya negatif, mereka akan dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Sementara itu, hingga kemarin jumlah suspect masih tetap 11 orang. Lima orang di RSPI, satu  di RS Persahabatan, dan satu lagi di Bandung. Selebihnya, Yuri menolak untuk mempublikasikan lokasi perawatan empat orang lainnya. Kemudian, pasien dalam perawatan berjumlah 227 orang yang tersebar di berbagai provinsi.

Untuk Orang dalam Pemantauan (ODP), Yuri menyatakan tidak memiliki datanya. Karena jumlahnya akan terus bertambah setiap hari seiring masuknya WNA ke Indonesia atau WNI yang baru pulang dari negara-negara yang punya kasus positif Covid-19. Datanya ada di Ditjen Imigrasi.

Perlakuan terhadap suspect lebih intens dibandingkan pasien yang positif karena mereka akan menjalani uji virus berkali-kali sampai ada kepastian positif atau negatif. ’’Saya sudah mencontohkan Vietnam, itu tujuh kali pemeriksaan baru positif,’’ tutur Sekretaris Ditjen P2P Kementerian Kesehatan itu.

Sedangkan yang positif, perlakuannya hampir mirip seperti pasien dalam pengawasan (PDP). Mereka dirawat sampai flu-nya sembuh. Bedanya, pasien positif Covid-19 diisolasi sampai virusnya benar-benar hilang. Bila sudah tidak ada flu, namun virusnya masih ada, mereka tidak akan dinyatakan sembuh.

Kemudian, yang membedakan lagi, kasus 1-4 diantisipasi penularannya dengan menghubungi semua orang yang pernah kontak dengan mereka. Khususnya yang kontak dekat sejak mereka mulai mengalami gejala flu. Kepolisian dan BIN dikerahkan untuk menelusuri alamat mereka. Bila ada gejala flu akan langsung dirawat.

Selama perawatan itu mereka akan diwawancarai tentang seberapa dekat interaksi dengan kasus 1-4. Bila hasil wawancara menunjukkan mereka berisiko tertular, maka akan dinyatakan sebagai suspect. Semua protokol itu dilakukan untuk mencegah penyebaran.

Yuri memberikan catatan mengenai penularan Covid-19. ’’Virus ini ada di orang, bukan wilayah. Virus ini nggak mungkin hidup di luar orang,’’ tegasnya. Karena itu, menjadi penting untuk mengawasi orang yang positif Covid-19. Dia adalah sumber penularan. Orang-orang yang pernah kontak dengannya harus dicari karena berpotensi menjadi sumber penularan berikutnya bila positif.

Kemudian, ada kelompok yang harus ekstrahati-hati terkait penularan Covid-19 yakni orang dengan kumorbit. Kumorbit adalah penyakit kronis yang diderita dalam jangka waktu lama dan menurunkan tingkat ketahanan tubuh seperti jantung, diabetes, atau paru obstruksi menahun semacam asma, bronchitis kronis, TBC atau hipertensi.

Orang-orang tersebut memiliki basis daya tahan tubuh yang lemah sejak awal. Mereka bisa berasal dari kalangan manapun dan usia berapapun. ’’Akan terlalu besar risikonya manakala dia harus terinfeksi Covid-19 karena penyakit yang sejak awal diderita bisa memperburuk kondisi tubuh saat tertular Covid-19 ,’’ ucapnya.

Di luar itu, semua protokol pencegahan sesuai standar WHO dilakukan. Pemerintah sudah membatasi kedatangan semua orang yang berasal dari beberapa kota di Iran, Italia, dan Korea Selatan. Yakni, Tehran, Qom, dan Gilan (Iran); Lombardi, Veneto, Emilia Romagna, Marche dan Piedmont (Italia); Kota Daegu dan Provinsi Gyeongsangbuk-do (Korea Selatan).

Semua orang yang tinggal di daerah-daerah itu untuk sementara dilarang masuk ke Indonesia, termasuk WNI yang tinggal di daerah-daerah itu. Sementara untuk di luar daerah-daerah itu, mereka yang datang dari Italia, Korsel, dan Iran  boleh masuk asalkan mereka membawa sertifikat bebas Covid-19 yang dikeluarkan otoritas kesehatan negara masing-masing.

Sertifikat kesehatan itu adalah syarat untuk mendarat di Indonesia. Menjelang melewati pos imigrasi, mereka akan tetap menjalani prosedur pemeriksaan standar dan menjadi orang dalam pemantauan (ODP) karena datang dari negara yang sedang terjadi penularan.

 

Perkembangan Observasi ABK

 

Para ABK dari dua kapal, yakni World Dream dan Diamond Princess masih menjalani observasi di pulau Sebaru Kecil. Per hari ini, ABK World dream memasuki hari ke-9 observasi di Sebaru. Semua hasil tes virus mereka dinyatakan negatif. Observasi dilakukan untuk memastikan tidak ada kasus baru.

Observasi di Pulau Sebaru Kecil adalah masa 14 hari kedua. Pada 14 hari pertama, mereka berada di kapal dan sudah menjalani pemeriksaan di Hongkong maupun di klinik yang ada di kapal. Seluruhnya, 188 orang itu, negatif Covid-19 sebelum dipindah ke KRI Soeharso. Observasi kali ini adalah untuk mengantisipasi kemungkinan second wave Covid-19 yang gejalanya minim.

Saat di KRI Soeharso, mereka menjalani tes ulang ditambah tes darah. Spesimennya dikirim ke Jakarta. ’’Alhamdulillah hasilnya seluruhnya negatif, pemeriksaan darah juga dalam batas normal,’’ ujar Yuri. Setelah dipastikan normal itulah mereka bisa didaratkan ke pulau Sebaru Kecil. Mereka dilayani 35 tenaga kesehatan gabungan yang dipimpin oleh tim RS Persahabatan.

Mereka menyiapan ICU mini dan UGD di pulau Sebaru Kecil untuk mengantisipasi keadaan darurat. Pemerintah menyiapkan sejumlah dokter spesialis di pulau Sebaru Kecil. Seperti spesialis paru, penyakit dalam, jantung, anastesi, hingga patologi klinik beserta peralatan pendukung. Juga ditambah tim kesehatan TNI. Yakni Batalyon Kesehatan Marinir dan Kostrad.

Untuk ABK Diamod Princess, perlakuannya lebih khusus karena menjadi episentrum baru. Sembilan dari 78 ABK WNI dipindahkan ke RS di Jepang karena positif Covid-19. Menjelang 14 hari, pemerintah melakukan negosiasi untuk memulangkan 69 ABK di tengah negosiasi, satu orang yang tadinya positif Covid-19 dinyatakan sembuh. Dia ikut dipulangkan.

Rupanya, ada satu ABK yang menolak dipulangkan. Alasannya, dia adalah bagian tim inti yang menjalankan mesin kapal untuk kembali ke pangkalan di Seattle, Amerika Serikat. Akhirnya, yang dipulangkan tetap 69 orang via bandara Kertajati.

Setelah mendarat, mereka semua menjalani uji virus kembali. Sebanyak 68 dinyatakan negatif Covid-19. Meraka dan 188 ABK World Dream akan menjalani uji virus lagi di hari ke-14. Bila hasilnya negatif, mereka boleh pulang.

Sementara, satu dari 69 ABK Diamond Princess terpaksa dipindahkan ke RS Persahabatan di Jakarta. Dia bukan ABK yang baru sembuh. ’’Kami curigai dia tidak negatif, tapi belum bisa dikatakan positif (Covid-19),’’ tutur Yuri. Setelah beberapa kali pengambilan sampel secara berulang, akhirnya dia diputuskan menjadi suspect.

Kemudian, dari delapan orang yang tersisa di Jepang, tiga di antaranya sudah kembali ke Indonesia. Mereka tidak akan langsung pulang ke daerah asal. Melainkan diobservasi selama 14 hari ke depan di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes di Cikarang.

Di sisi lain, sejumlah daerah juga sudah melaksanakan protokol seperti yang dilakukan pemerintah pusat. Salah satunya yang dilakukan Pemprov Maluku Utara. Sejumlah perusahaan tambang di provinsi tersebut memiliki pekerja asal Tiongkok. Mereka sempat pulang saat Imlek dan masuk ke Indonesia sebelum penerbangan ditutup.

Pemprov pun langsung melaksanakan karantina bekerja sama dengan perusahaan yang mempekerjakan mereka. Para pekerja Tiongkok itu dipisah dari pekerja lain dan dikarantina selama 14 hari. Mereka diobservasi di sarana yang disiapkan oleh perusahaan. Observasi dilakukan oleh Dinkes setempat.

Kegiatan serupa dilaksanakan di tempat-tempat lain. Misalnya di pabrik semen di Lhoknga, Aceh, di mana terdapat 28 pekerja asal Tiongkok. Pada awal Februari lalu dilaksanakan karantina terhadap mereka. Setelah 14 hari karantinda dan hasil tes menyatakan negatif Covid-19. Mereka boleh bekerja lagi.

Demikian pula para mahasiswa asal NTT yang kuliah di Tiongkok namun di luar Wuhan. Mereka kembali ke tanah air, dan kemudian oleh dinas kesehatan provinsi mereka dikarantina untuk memastikan tidak ada virus yang dibawa. Setelah 14 hari dan dinyatakan negatif, mereka dipulangkan.

 

Antisipasi Segala Lini   

 

Pengetatan di pintu masuk negara dianggap penting untuk mencegah Covid-19. Bandara salah satu pintuk masuk tersebut. Untuk itu pengawasan harus terus dilakukan. Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto menyatakan bahwa  pemantauan secara langsung diperlukan.

Novie memastikan, pengisian Health Alert Card (HAC) dilakukan oleh penumpang secara benar dan proses pemeriksaan menggunakan thermal scanner terus dioptimalkan. “Saya juga sudah mengecek sendiri seluruh peralatan bekerja dengan baik. Kami rasa semua sudah mencukupi,” tambah Novie.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga meminta maskapai untuk memastikan setiap penumpang mengisi HAC secara benar dan menyerahkan kartu kewaspadaan kesehatan tersebut kepada petugas.  Selain itu meminta kru maskapai memeriksa sertifikat kesehatan terhadap penumpang yang akan melakukan perjalanan dari Italia, Korea Selatan, dan Iran pada saat check in.

Otoritas penerbangan pun mendukung langkah informasi Covid-19 kepada calon penumpang. PT Angkasa Pura II telah menyiapkan layanan Contact Center Airport 138 guna menjadi pusat informasi terkini kepada masyarakat mengenai pengaruh Corona (COVID-19)  terhadap perjalanan traveler. Layanan contact center tersebut diluncurkan kemarin.

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan melalui Contact Center Airport 138 diharapkan traveler dapat mengetahui informasi secara jelas mengenai Covid-19. “Keberadaan Contact Center Airport 138 merupakan upaya PT Angkasa Pura II menekan kebingungan. Misalnya mengenai jadwal penerbangan, kebijakan mengenai pembatasan perjalanan, atau prosedur pemeriksaan kesehatan di terminal kedatangan internasional,” ujar Awal.

Contact center tersebut berkolaborasi dengan stakeholder kebandarudaraan lainnya seperti Imigrasi, Bea dan Cukai, Karantina, maskapai, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan. “Jika jawaban membutuhkan konfirmasi dari instansi lain maka terlebih dahulu akan ditampung untuk kemudian penelepon akan kami hubungi kembali,” ucapnya.

Wabah Covid-19 sedikit banyak turut memengaruhi kondisi perekonomian dunia, tak terkecuali Indonesia. Guna membantu masyarakat miskin menghadapi situasi ini, pemerintah telah menyiapkan stimulus.

Menteri Sosial (mensos) Juliari Batubara menuturkan, bantuan sosial (bansos) tersebut akan disalurkan melalui program sembako. Ada tambahan sebesar Rp 50 ribu untuk masing-masing keluarga penerima manfaat (KPM). ”Dari Rp10 triliun instrumen fiscal yang disiapkan, Kementerian Sosial dapat Rp4,56 triliun untuk tambahan sembako,” ujarnya.

Dengan adanya tambahan ini, bantuan program sembako yang diterima menjadi Rp 200 ribu per KPM. Sebagai informasi, di awal tahun ini, Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) berubah menjadi Program Sembako, bersamaan dengan kenaikan besaran bantuan yang disalurkan. Yakni, dari Rp 110 ribu per bulan per KPM menjadi Rp 150 ribu per bulan per KPM.

”Tambahan bantuan ini akan disalurkan selama enam bulan, dari Maret sampai Agustus,” ungkap Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Juliari menambahkan, bantuan ini merupakan crash program. Diharapkan, konsumsi dan kebutuhan gizi di lapisan terbawah tidak terganggu oleh perlambatan ekonomi.

Menurut Dirjen Penanganan Fakir Miskin (PFM) Kementerian Sosial (Kemensos) Andi ZA Dulung, kenaikan bantuan itu diperlukan agar KPM bisa meningkatkan gizi keluarga mereka. Mengingat, dua per tiga anggaran rumah tangga dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari.

Nah, melengkapi kenaikan tersebut, Andi mengungkapkan, jika ada komoditas baru yang juga ditambahkan dalam program sembako ini. Diantaranya, untuk kategori karbohidrat ada jagung, singkong, ubi, sagu serta umbi-umbian lainnya; protein hewani ada daging ayam, daging, dan ikan; tahu, tempe dan kacang-kacangan untuk kategori protein nabati; dan vitamin mineral seperti sayuran dan buah-buahan.

”Disamping itu, kenaikan tersebut juga ditujukan untuk menekan angka kemiskinan di Indonesia,” katanya. Merujuk pada data BPS, tercatat bahwa persentase penduduk miskin kembali menurun keangka 9,22 persen dibulan September 2019 dari sebelumnya 9,41 persen para Maret 2019. ”Jika dilihat dari jumlah, maka sudah sekitar 360 ribu orang keluar dari jerat kemiskinan dari Maret 2019 ke September 2019,” sambungnya.

Tahun ini, Kemensos akan membidik penerima bantuan sebanyak 15,2 juta KPM. Program Sembako ini disalurkan melalui bank himpunan bank milik negara (himbara).

Berkaitan dengan dampak virus corona pada perekonomian, ekonom menilai salah satu fokus yang harus diperhatikan pemerintah adalah sektor pangan dan bahan pokok. Meski sampai sejauh ini stok dan suplai disebut masih relatif aman, pemerintah perlu memetakan lebih lanjut sebab dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki momen lebaran.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas di Lampung sekaligus Peneliti Senior Insitute Development of Economics and Finance (Indef) Bustanul Arifin mengatakan bahwa berdasarkan studi terbaru yang dia dapat, virus corona berpotensi memukul dua sektor yang cukup signifikan yakni pangan dan pariwisata. ”Sektor pariwisata kalau di kita sudah jelas terlihat betul-betul terdampak,” ujarnya, di Jakarta, kemarin (7/3).

Sementara untuk sektor pangan, menurut Bustanul memang saat ini kondisi stok dan suplai pangan di Indonesia masih terpantau normal. Berbagai komoditas strategis seperti beras, gula, bawang, cabai, dan sebagainya dilaporkan tidak ada kendala. ”Ini penting untuk terus dijaga karena pemerintah harus bisa membuat masyarakat confident,” beber Bustanul.

Namun demikian, Bustanul tetap memberi catatan pada pemerintah khususnya terkait dengan komoditas bawang putih. Menurut dia, jika wabah Korona terus terjadi dalam waktu yang panjang, ada potensi impor bawang putih Indonesia dari Tiongkok akan terganggu. ”Indonesia mengimpor sekiranya sebanyak 95 persen dari Tiongkok. Bawang putih bukan kebutuhan pokok tapi kebutuhan strategis karena bisa mengerek inflasi. Kepastian harus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas,” bebernya.

Adapun untuk kebutuhan pokok yang lain seperti beras dan gula menurutnya tak perlu dikhawatirkan. Menurut Bustanul, untuk beras tak begitu besar pengaruhnya sebab impor bukan dari Tiongkok. Hal yang sama untuk komoditas gula. “Jadi konteksnya kebutuhan pokok dan strategis adalah ketersediaan dan stabilitas harga. Policy-nya bagaimana penyerahan dilakukan dan pemerintah harus tetap responsif terhadap apa yang terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Eka Sastra menegaskan bahwa adanya wabah virus Korona bisa menjadi titik poin evaluasi tata produksi dan distribusi di Indonesia. Sebab dalam sisi produksi, Indonesia dianggap memiliki tingkat efisiensi yang jauh lebih rendah dibandingkan beberapa negara. “Produksi kita lebih tinggi dari negara lain. Kita butuh efisiensi dari sisi produksi,” ujar Eka.

Eka menambahkan bahwa saat ini kondisi sektor pariwisata sudah lesu. Sementara dari sisi aktivitas impor, terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku produksi. Begitu juga dengan ekspor yang disebut tertahan di beberapa titik. Mengatasi hal ini, Eka mengungkapkan bahwa pengusaha akhirnya mencari pasar ekspor baru. “Harapan kita agar situasi kembali normal sehingga kita bisa mengeksekusi semua rencana dan beberapa kontrak kontrak yang sudah berjalan saat ini,” beber Eka.

Sementara itu, Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebutkan pemerintah perlu mengeluarkan berbagai kebijakan guna mengantisipasi perlambatan ekonomi yang diakibatkan oleh virus corona. Berdasarkan perhitungan yang ia lakukan virus corona berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi nasional hingga 0,6 persen. “Pemerintah harus segara melakukan policy respon atau kebijakan yang memastikan ekonomi kita bergerak,” ujarnya.

Salah satu kebijakan yang disarankan Sandi adalah dengan mengubah sistem perizinan impor pangan. Menurutnya, sistem perizinan impor yang ditentukan oleh kuota tidak lagi cocok dengan model pasar nasional. “Ganti kuota menjadi tarif, kita bisa lakukan satu kebijakan yang menstimulus dalam keadaan seperti ini,” kata dia.

Kebijakan itu dinilai perlu untuk mencegah terjadinya kelangkaan suplai komoditas akibat lambatnya proses perizinan impor. “Sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia itu kan 50 persen lebih di konsumsi dan itu akan terdampak, saya rasa konsumsi turun karena ada disrupsi di suplai, tapi yang paling penting lagi masyarakat daya belinya terganggu,” urainya.

Sandi juga menyarankan kepada perbankan untuk menjadwalkan kembali pembayaran perusahaan yang terdampak virus Korona. “Jadi perbankan bisa lakukan melalui guidance OJK untuk melakukan rescheduling daripada membayar cicilan pokok dan pengurangan cicilan bunga,” pungkasnya. (byu/lyn/mia/agf)

error: Content is protected !!