Pasien Covid-19 Sudah Bisa Jalan

PONTIANAK POST RAKOR : Gubernur Kalbar Sutarmidji saat memimpin rakor pembentukan gugus tugas kewaspadaan dan kesiapsiagaan penanganan Covid-19 di Kalbar, Senin (16/3). BIRO ADPIM FOR

RS Terapkan Larangan Besuk Pasien 

PONTIANAK – Satu warga Kota Pontianak yang positif terpapar corona (Covid-19) masih terus dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Soedarso. Kondisi yang bersangkutan sudah semakin membaik dan menuju proses penyembuhan. Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson, mengatakan pasien laki-laki berusia 34 tahun itu kini sudah bisa berjalan-jalan di kamar isolasinya.

“Tapi kamarnya tetap dikunci agar tidak keluar,” ungkap Harisson kepada awak media, Senin (16/3).  Mengenai penanganan selanjutnya, pemeriksaan laboratorium terhadap pasien dilakukan setiap dua hari sekali. Apabila dalam pemeriksaan yang dilakukan Balitbangkes, Kemenkes, Jakarta itu hasilnya negatif dua kali berturut-turut maka pasien dianggap sembuh. “Mudah-mudahan pasien cepat sembuh,” harapnya.

Sementara itu, upaya penelusuran terhadap orang-orang yang sempat kontak dengan pasien tersebut juga sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kalbar dan Kota Pontianak. Sampel atau spesimen dari keluarga pasien yang terdiri dari isteri, satu orang anak dan satu orang keluarga dekat yang tinggal serumah telah diambil.”Spesimen nasofaring yang telah diambil itu kemudian dikirim ke laboratorium di Balitbangkes, Jakarta untuk diperiksa,” katanya.

Selain itu, penelusuran di salah satu rumah sakit swasta (Kharitas Bhakti Pontianak) yang pernah merawat pasien tersebut juga telah dilakukan. Sebanyak 32 tenaga kesehatan dan tenaga penunjang di RS dimaksud telah menjalani pemeriksaan laboratorium. Mereka juga diminta mengisolasi diri di rumah masing-masing sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium itu keluar.

Harisson juga mengungkapkan perkembangan terbaru kasus Covid-19 di Kalbar. Sampai kemarin, terdapat satu pasien positif, empat pasien dalam pengawasan dan diisolasi, serta 110 dalam pemantauan. Sejauh ini hasil pemeriksaan laboratorium Balitbangkes, Jakarta terhadap sampel pasien-pasien tersebut belum keluar.

Ruang Isolasi Baru

Sementara itu, sebagai langkah antisipasi beberapa RS telah mengeluarkan kebijakan baru. Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sudarso misalnya, ruangan isolasi baru untuk pelayanan pasien pengidap corona (Covid-19) telah dibuka. Gedung tersebut mampu menampung maksimal sebanyak 200 tempat tidur. “Gedung ini mempunyai kapasitas 108 tempat tidur. Dapat dimaksimalkan menjadi 200 tempat tidur,” ungkap Harisson.

Gedung isolasi yang baru ini sudah disiapkan beserta tenaga kesehatannya. Penambahan ruang isolasi dilakukan demi mengantisipasi jika ada penambahan pasien Covid-19 di Kalbar. Seperti diketahui, Kalbar saat ini sudah memiliki empat RS rujukan untuk penanganan Covid-19. Selain RSUD Sudarso, ada RSUD Abdul Aziz Singkawang, RSUD Agoesdjam Ketapang dan RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang.

Untuk mencegah wabah Covid-19 makin meluas, RSUD Sudarso juga mengeluarkan kebijakan melarang masyarakat mengunjungi atau menjenguk pasien yang dirawat di sana. Kebijakan ini mulai berlaku, Senin (16/3) sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Kepala Bidang Pengendalian RSUD Sudarso, Diah Kusuma Wardani mengungkapkan, pasien yang dirawat di sana hanya boleh ditemani maksimal dua anggota keluarga yang memang bertugas menjaga pasien. Sementara orang lain yang ingin menjenguk untuk sementara waktu tidak diperkenankan. Hal tersebut demi mencegah dan meminimalisir kemungkinan penyebaran Covid-19 di kawasan rumah sakit.

Kebijakan ini menurutnya akan dievaluasi kembali dalam dua minggu ke depan. Ia mengimbau masyarakat dapat memaklumi. Jika ada yang belum mengetahui informasi ini dan masih datang untuk menjenguk ke RS maka yang bersangkutan akan diminta pulang. “Kami akan evaluasi dalam dua minggu. Jika sudah tidak ada pasien dalam pengawasan (Covid-19), mungkin akan ditinjau ulang,” ungkapnya.

Rumah Sakit Umum (RSU) Santo Antonius Pontianak juga mengeluarkan kebijakan serupa. Masyarakat untuk sementara dilarang mengunjungi atau menjenguk pasien yang dirawat. Kebijakan itu mulai berlaku, Selasa (17/3) hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Direktur Utama RSU Santo Antonius, Gede Sandjaya menyebutkan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran tentang tata tertib pengunjung dan penunggu pasien di RSU Santo Antonius. Dalam surat bernomor 1.003/DIR/RSSA/SE/III/2020 ada sembilan langkah yang menjadi kebijakan RS untuk menyikapi perkembangan penyebaran virus corona (Covid-19).

Pertama, pasien tidak diperkenankan dibesuk mulai Selasa (17/3). Kedua, setiap pengunjung yang akan berobat, pengantar, tamu dan karyawan yang akan memasuki gedung RS wajib menjalani pengukuran suhu tubuh oleh satpam. Mereka juga diwajibkan mencuci tangan menggunakan cairan pembersih yang disediakan.

Pengunjung yang akan konsul/berobat dengan suhu di bawah 38 derajat celcius dapat langsung diarahkan ke Poliklinik Spesialis. Sementara jika suhu tubuhnya 38 derajat celcius ke atas maka akan langsung diarahkan ke IGD untuk dilakukan skrining. Tamu yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat celcius tidak diperkenankan masuk ke gedung RSU Santo Antonius.

Poin ketiga, penunggu pasien hanya diizinkan maksimal dua orang dan akan diberikan kartu tunggu. Keempat, setiap kepala unit wajib menginformasikan kebijakan ini kepada keluarga pasien yang sedang dirawat. Kelima, satpam wajib selalu siap di depan pintu masuk. Keenam, pintu masuk akan selalu dikunci untuk menghindari pengunjung memasuki gedung RS.

Poin ketujuh, penunggu pasien yang mengalami demam dengan suhu di atas 38 derajat celcius dan batuk tidak diperkenankan masuk ke area rawat inap RS dan disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kemudian di poin kedelapan, medical representatif  untuk sementara tidak diperkenankan berada di area RSU Santo Antonius. Poin terakhir, seluruh pihak diminta memperhatikan dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab isi dari surat edaran tersebut. “Ini untuk memutus mata rantai corona. Bersama, Indonesia bisa atasi corona,” ujar Gede.

 Jaga Stok Bahan Pokok

Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji angkat bicara melihat fenomena masyarakat yang melakukan aksi borong bahan kebutuhan pokok pasca ditetapkannya satu pasien positif corona (Covid-19) di Kota Pontianak. Ia meminta seluruh agen dan distributor bahan kebutuhan pokok agar tidak melakukan penimbunan dan menaikkan harga seenaknya.

“Agen dan distributor jangan timbun bahan pokok dan naikkan harga seenaknya,” kata Midji, Senin (16/3).

Selain itu, Perum Bulog Divre Kalbar diharapkan untuk selalu memantau kondisi pasar. Jangan sampai terjadi kelangkaan jenis bahan pokok tertentu di pasaran. “Lakukan tindakan yang membuat pasar tetap stabil. Beras dan gula harus dipantau fluktuasi harganya,” pintanya.

Midji juga secara resmi melarang operasional bus lintas negara dari dan menuju Kuching, Sarawak- Malaysia serta Brunei Darussalam. Penghentian sementara tersebut berlaku mulai Selasa (17/3) sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Di akun media sosial pribadinya “Bang Midji”, ia juga menuliskan tentang ini dan mencantumkan konsekuensi bagi pihak yang melanggar.

“Saya sudah minta Damri dan jenis angkutan umum untuk tidak ke Brunei dan Kuching. Kalau berani berangkat, sopir dan kernet dikarantina 28 hari dan bus-nya dikandangkan,” tulisnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kalbar, Manto Saidi telah mengeluarkan surat penghentian sementara operasional bus angkutan Antar Lintas Batas Negara (ALBN). Surat bernomor 551.21/186/DISHUB-E.1 yang bersifat penting itu ditujukan kepada seluruh operator bus ALBN (antar lintas batas negara) di Kalbar.

Surat tersebut menindaklanjuti Surat Gubernur Kalimantan Barat Nomor : 800/0829/ Kesra-B tanggal 13 Maret 2020 tentang Kewaspadaan dan Kesiapan terhadap Penyebaran dan Penularan Virus Corona di Provinsi Kalbar.

Adapun jumlah bus yang selama ini beroperasi di rute Pontianak-Kuching (PP) ada 12 unit, dengan operator Damri, Eva, Bintang Jaya, Tebakang dan Biaramas. Sedangkan untuk rute Pontianak-Sarawak-Brunei Darussalam (PP), setiap hari hanya ada satu bus dengan operator Damri dan seminggu dua kali dengan operator ADBS.

“Penghentian sementara tersebut berlaku mulai 17 Maret 2020 sampai dengan waktu yang belum ditentukan hingga kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat akibat Covid-19 di Kalbar mereda,” tulis Manto dalam surat tersebut.(bar)

 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!