Melihat Sumber Listrik dari Air dan Biogas
Pasokan Listrik ke Sistem Khatulistiwa

Operator sedang menjelaskan kerja sistem kelistrikan pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Riam Merasap

Gemuruh air terjun Riam Merasap terdengar dari kejauhan. Destinasi wisata di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Bengkayang. Tapi tahukah kalau obyek wisata alam ini tak hanya menawarkan pesonanya, tapi menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat.

Air terjun Riam Merasap merupakan sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Riam Merasap 1,5 megawatt. Pembangkit ini milik PLN. Kapasitasnya 2×750 kilo watt atau 1.500 kilo watt. Beroperasi sejak tahun 2010. Namun proses pembangunan mulai dilakukan sejak tahun 2007.

Ketinggian air terjun ini sekitar 20 meter dengan lebar delapan meter. Penduduk setempat memberi nama riam berasap karena percikan dari hantaman air terjun yang jatuh dari ketinggian 20 meter, menyerupai kabut asap.

Perjalanan ke air terjun dari Kota Pontianak memakan waktu delapan jam. Ada dua alternatif jalan yang bisa ditempuh. Bisa melintasi rute, Pontianak, Karangan, Landak, Bengkayang. Atau melalui Pontianak, Mempawah, Singkawang dan Bengkayang. Sementara jarak dari PLTM ke lokasi air terjun hanya sekitar 300 meter.

Saat ini listrik yang dihasilkan dari air terjun ini sudah terkoneksi dengan sistem khatulistiwa. Suplai listrik itu masuk ke Gardu Induk Bengkayang. Seperti diketahui sistem khatulistiwa merupakan interkoneksi listrik yang mengalir di enam kabupaten/kota. Bengkayang, Sambas, Singkawang, Mempawah, Pontianak, Kubu Raya, Landak, dan Sanggau.

Sebelum bergabung dengan sistem khatulistiwa, PLTM ini 3.000 pelanggan di wilayah paket dan dawar. Jumlahnya sekitar 3.000 pelanggan. “Sejak 2020 sudah sinkron dengan sistem khatulistiwa,” kata Supervisor Pengelolaan Unit Tersebar Sanggau Ledo ULP Bengkayang, Rahmad Mulyadi, saat diwawancarai di PLTM, Desa Sahan, beberapa waktu lalu.

Secara sederhana, proses menghasilkan listrik diawali dari bendungan. Fungsinya untuk mengatur air yang masuk ke kawasan pembangkit. Pengaturan air yang masuk itu menggunakan pintu kanal yang di sekitar air terjun. Pengaturan air itu kemudian masuk melalui pipa besar ke turbin yang kemudian diubah menjadi energi listrik dari generator.

Namun demikian sejumlah tantangan dihadapi. Misalnya ketika air surut. Secara otomatis akan mengalami penurunan daya. Dalam kondisi itu, listrik yang bisa dipasok hanya sekitar 250 kilowatt untuk satu pembangkit.
“Pernah terjadi di bulan Agustus,” kata Rahmad.

Begitu juga saat curah hujan tinggi. Sumber air yang melimpah juga menjadi kendala. Kondisi itu menyebabkan banjir yang berpengaruh pada pintu air. “Jadi tidak bisa maksimal dengan daya 750 kilowatt. Pintu air tak bisa dibuka 100 persen,” kata Rahmad.

*Potensi Listrik dari Limbah Sawit
Pemanfaatan air terjun sebagai sumber listrik memaksimalkan potensi energi terbarukan. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro merupakan yang pertama dimiliki PLN di Kalimantan Barat.

Selain dari air, PLN juga menerima pasokan listrik dari biogas. Namun pasokan itu datang dari pihak swasta yang bekerjasama dengan PLN. Sumber listrik dari limbah kelapa sawit milik PT Sarana Esa Cita (SAC), Sambas.

Perusahaan sawit yang tergabung dalam Musim Mas Group mulai membangun pembangkit listrik biogas ini sejak tahun 2018. Biogas ini berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Proses menghasilkan listrik dengan memanfaatkan gas metana pada limbah cair perkebunan kelapa sawit. “Limbah cair umumnya diolah di kolam yang ditutup dengan membran. Dari kolam itu kemudian menghasilkan gas metan untuk mendapatkan energi listrik,” kata Senior Mill Manager PT Sarana Esa Cita, Sudarman.

Listrik yang dihasilkan itu disuplai untuk kebutuhan karyawan di perumahan perusahaan. Selain itu dijual ke PLN. Perusahaan ini memiliki dua mesin yang masing-masing memiliki kapasitas listrik satu megawatt. Artinya secara total dua megawatt. Sementara listrik yang dijual ke PLN sebesar 500-1000 kilowatt.

Sudarman mengatakan suplai limbah menentukan seberapa banyak gas yang dihasilkan. Dari jumlah gas itu yang kemudian menentukan seberapa banyak listrik yang bisa disalurkan. “Jadi suplai limbah tergantung tandan buah segar dan disini tidak ada kendala soal itu. Per hari kita tanda buah segar 450 ton,” kata dia.

Sudarman menambahkan pemanfaatan limbah ini sebagai komitmen mendukung peningkatan energi terbarukan. Penerapan energi biogas bisa menurunkan emisi gas rumah kaca dalam operasional perusahaan secara signifikan.
“Kami percaya strategi terbaik untuk memastikan sustainable adalah menjalankan perusahaan mengutamakan kelestarian, bertanggung jawab, bermanfaat positif bagi masyarakat dan lingkungan,” jelas Rahmad.

Manager PLN ULP Sambas Agung Priambodo mengatakan energi listrik yang dihasilkan dari PT Sarana Esa Cita (SAC) sinkron dengan sistem khatulistiwa. Listrik itu akan langsung menyuplai ke wilayah Subah dan sekitarnya.
“Sinkron langsung dengan sistem yang ada saat ini. Artinya memperkuat sistem khatulistiwa,” kata Agung.

Ia melanjutkan sekitar 300-400 kwh yang disalurkan ke pelanggan. Secara jumlah sekitar 3.600 pelanggan. “Jadi sekitar satu kecamatan,” pungkasnya. (mse)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!