Pastikan Kelengkapan Alat Pelindung Diri

PDGI Cabang Pontianak saat melakukan kunjungan ke beberapa puskesmas di wilayah kerja ( Kota Pontianak, Mempawah, Sanggau, Landak dan Kubu Raya ) untuk memastikan bahwa semua nakes gigi menggunakan APD level 3 sebagai APD pada saat bekerja melayani pasien

Banyak tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan selama masa pandemi Covid-19, termasuk dokter gigi. Tantangan ini mendapat perhatian serius dari Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Pontianak, drg. Mellisa, M.Kes. Berbagai langkah antisipasi penularan dilakukan. Salah satunya harus menggunakan alat pelindung diri (APD) saat melayani pasien.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Mellisa atau akrab disapa Lisa ini menuturkan pandemi Covid-19 menjadi perhatian semua pihak. Termasuk Pengurus Besar PDGI di Jakarta. Pada awal Agustus 2020, terbit buku dari PB PDGI mengenai panduan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi Covid-19. Diantaranya berisi tentang tata ruang poliklinik gigi seperti bagaimana sirkulasi udara, peletakan exhaust fan supaya udara yang kotor di ruangan bisa keluar.

Dalam buku panduan itu juga disebutkan supaya diusahakan ada alat suction station untuk menyedot aerosol.

Menurut Lisa, semburan air dan droplet dari bur harus disedot dengan suction. “Sehingga uap air bercampur virus dan bakteri akan disedot suction station,” katanya.

Selain itu, juga menyampaikan ke Dinas Kesehatan untuk selalu stand by dengan APD. Jangan sampai dokter gigi kekurangan perlengkapan APD.

“Pada Juli 2020, PDGI Cabang Pontianak sudah mengadvokasi dan menyoialisasikan ke para kepala dinas kesehatan seperti apa APD yang lengkap,” ungkap Lisa yang menjabat sebagai Ketua PDGI Cabang Pontianak selama dua periode ini, yakni 2014-2017 dan 2017-2020.

Ia menuturkan di tengah masa pandemi Covid-19, tepatnya bulan Juni hingga Juli, PDGI Cabang Pontianak melakukan inspeksi mendadak di wilayah kerjanya, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Landak dan Sanggau. Inspeksi ini  untuk memastikan standar tidaknya kelengkapan APD yang digunakan para anggotanya.

Menurut Lisa, untuk kasus-kasus darurat seperti pendarahan, menimbulkan rasa sakit yang kuat, pembengkakan dan lainnya tetap dilayani dengan menggunakan apd level tiga di puskemas, poliklinik, rumah sakit maupun praktik pribadi.

Namun, ada beberapa hal yang ditunda dalam rangka pengobatan yakni membersihkan karang gigi. Sebab, saat membersihkan karang gigi, banyak ludah yang terkadang tanpa sengaja berhamburan.

“Ditakutkan ada bakteri yang virus yang bisa kena ke dokter gigi. Jadi, untuk pembersihan belum dikerjakan. Ini juga bukan sesuatu yang emergency masih bisa ditunda satu tahun,” kata Lisa yang biasa memberi konsultasi jarak jauh untuk mencegah karang gigi pada pasien.

PDGI Cabang Pontianak di bawah kepemimpinan Lisa juga menjalankan sejumlah program, antara lain adalah menyejahterakan anggota. Anggota harus tetap praktik agar sejahtera. Namun, untuk berpraktik itu mereka harus mendapatkan surat izin praktik terlebih dahulu.

Menurut Lisa, anggota harus mengumpulkan satuan kredit poin (SKP) supaya surat izin praktik memenuhi syarat untuk diberikan. Lisa menjelaskan SKP itu biasanya diperoleh melalui kegiatan seminar dan bakti sosial yang diikuti.

“Yang wajib itu adalah seminar untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan. Terakhir seminar digelar Januari 2020 lalu,” ujar Lisa yang menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta, itu.

Ia menjelaskan biasanya tiga hingga empat seminar digelar dalam setahun untuk mencukupi kebutuhan SKP. Sebab, dalam kurun waktu lima tahun itu harus tercukupi minimal 30 SKP. Baksos biasanya digelar tiga kali dalam setahun yakni saat World Oral Health Day (WOHD) di Bulan Maret, Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) pada September-Oktober, serta bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Hanya saja, di masa pandemi (Covid-19) ini sudah lama tidak mengadakan seminar dan baksos,” katanya.

Lisa menambahkan masalah kesehatan gigi yang paling banyak ditemukan adalah karies atau lubang gigi. Namun, saat ini masyarakat sangat sadar dan paham akan kesehatan gigi. Jika dulu masyarakat baru ke dokter gigi ketika gigi harus dicabut, tetapi sekarang juga mendatangi dokter ketika mendapat masalah lainnya. “Ketika merasa sedikit ngilu atau karang giginya sudah mulai banyak, langsung ke dokter gigi untuk membersihkan karang, menambal yang berlubang, maupun merapikan giginya yang sudah berantakan,” jelasnya.

Lisa mengatakan untuk mencegah kalkulus gigi, pasien harus banyak mengonsumsi makanan berserat, buah, dan sayur.

“Penting juga mengurangi makanan yang dapat memperbanyak plak pada gigi, dan melakukan sikat gigi yang benar. Jika perlu ditambah benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi,” kata Lisa. **

 

loading...