Peduli Pandemi, Anak Muda Produksi Masker Kain Sendiri

MOTIF LUCU: Masker motif lucu buatan Ayu A. Rachmanda. Ayu menjahit sendiri masker yang dipakainya, ia juga membagikannya ke teman-temannya.

PONTIANAK – Masker sekarang sudah menjadi benda yang wajib dimiliki. Hal tersebut diungkapkan Ketua Bidang Ketenagakerjaan Vokasi dan Kesehatan HIPMI Sari W. Pramono. Sejak pandemi, demand terhadap masker naik hampir 77 persen sehingga banyak pebisnis konveksi yang banting setir memproduksi masker. Sama halnya dengan para desainer yang kini berlomba-lomba membuat masker dengan desain yang cantik.

“Pemerintah harus mendukung dan menggerakkan UKM ini agar produksi lokal, terutama konveksi, tetap bisa menggerakkan roda ekonomi,” ujar Sari.

Hal ini mendorong anak-anak muda untuk berkreasi. Sebagai opsi yang dianggap paling baik, masker kain sebagai ganti masker medis saat ini jelas sangat dicari. Selain mudah didapat, masker kain juga mudah dibuat serta lebih hemat karena dapat dipakai berulang kali. Masyarakat pun mulai gencar mencari masker kain untuk penggunaan sehari-hari. Catlin  salah satu yang membaca peluang tersebut.

“Saya memproduksi masker kain ini karena kebutuhan masyarakat akan masker meningkat. Selain itu saya juga ingin membantu pemerintah yang mewajibkan pemakaian masker,” ujar alumnus Poltekkes Kemenkes Pontianak ini.

Masker kain yang diproduksi Catlin tidak hanya motif polos. Ia berusaha melakukan inovasi pada produknya yaitu dengan menghadirkan motif-motif nusantara. Motif batik hingga corak insang khas Melayu Kalimantan Barat turut meramaikan model masker kain produksinya. Katanya, agar si pemakai tetap fasionable.

“Penjualan masker kain ini cukup dapat tanggapan yang baik dari masyarakat. Motif-motif nusantara ini bisa membuat pemakai lebih fashionable sekaligus tidak menghilangkan identitas sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan budaya,” jelas pemilik nama lengkap Lidwina Gressilda Catlin ini.

 

JAHIT: Catlin memproduksi masker kain sendiri untuk dipakai sendiri dan dijual. Tak hanya motif polos, ia memproduksi beragam motif, salah satunya motif batik nusantara.

Masker kain buatan Catlin dibanderol 8-10 ribu tergantung model dan bahan kain yang digunakan. Ada yang bisa diselipkan tisu di dalamnya. Pasarnya tidak hanya di Pontianak, ia sudah melakukan pengiriman hingga ke Kabupaten Sanggau. Penjualan ia lakukan melalui WhatsApp dan Instagram.

Kreativitas membuat masker kain ini juga bermula dari kesulitannya bekerja di luar rumah sehingga menemukan aktivitas yang bermanfaat yaitu menjahit masker. Catlin harus dihadapkan kendala pada saat proses produksi. Kebutuhan untuk menjahit masker kain ini terkendala karena masyarakat juga banyak yang mulai memproduksi sendiri.

Sebagai pengguna masker sehari-hari, Ayu A. Rachmanda, berinisitif untuk membuat sendiri maskernya. Bermodalkan iseng dari YouTube akhirnya Ayu mulai memproduksi dan menggunakannya untuk keperluan pribadi.

“Semenjak mewabah virus Corona, saya iseng menjahit masker kain. Modalnya cuma YouTube sama kain sisa yang ada, lalu dibagikan ke teman-teman terdekat,” ujar Ayu.

Dijelaskan Ayu, manfaat yang bisa dirasakannya ketika membuat sendiri masker kain ini jelas lebih hemat karena penggunaannya bisa berkali-kali.

“Habis dicuci dapat dipakai kembali. Saya bisa pilih motif sendiri sesuai keinginan, saya pilih yang lucu-lucu pokoknya,” tambah Ayu.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam The Annals of Occupational Hygiene, ternyata masker kain dapat memberikan perlindungan terhadap nanopartikel, termasuk dengan ukuran partikel yang mengandung virus dalam nafas yang kita hembuskan dan droplet yang kita keluarkan. Jadi, masih jauh lebih baik daripada tidak memakai masker sama sekali yang berisiko tertular dan meularkan virus lewat droplet.  (mya/sya)

error: Content is protected !!