Pejuang Pendidikan Daerah Kepulauan, Setiap Hari Sebrangi Lautan

MUHAMMAD Zaenal Mustofa, ia merupakan guru SDN 2 Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata,  Kabupaten Kayong Utara.  Ia merupakan satu diantara pejuang pendidikan di daerah kepulauan.

Hampir setiap hari dirinya bersama guru lainnya dan sejumlah siswa harus menyebarangi lautan agar tiba di sekolah menggunakan motor air.

Demi mencerdaskan anak bangsa di daerah kepulauan,  sepeti Desa Pelapis,  Kecamatan Kepulauan Karimata merupakan impian bagi seorang guru. Seperti yang sedang dijalani Muhammad Zaenal Mustofa beserta para dewa guru lainnya betugas di kepulauan. Ini semua merupakan perjuangan pendidika  di daerah kepulauan.

Sejak 2014 hingga saat ini (2020) dirinya terus bertekat berjuang bersama guru lainnya demi pendidikan.  Walau dengan segala keterbatasan yang ada, namun itu bukan menjadi penghalang.

“Ia saya Pegawasi Negeri Silil (PNS). Insya Allah yang penting untuk kebaikan, demi penjuangan tanpa batas mencerdaskan anak bangsa. Saya bertugas sebagai guru di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata sejak tahun 2014 lalu, jadi hingga saat ini sudah 6 tahun,” terangnya kepada Pontianak Post, Minggu (19/4).

Satu hal yang menjadi tantangan saat akan ke sekolah,  tentunya pasti ada sukaduka  dan juga dirasakan sejumlah dewan guru maupun siswa yang ada.  Setiap hari harus menyebrang lautan. Pukul 6 pagi ia sudah harus siap menunggu kumpul anak-anak.  Sebab,  lanjut dia,  ada yang jauh rumahnya kurang lebih 2,5 km.

“Ada yang jalan kaki, ada yang bermotor, ada juga yang menggunakan motor air,” ungkapnya. Ia menceritakan,  jika hujan turun hingga pukul 7 pagi belum juga reda, maka kata dia dipastikan libur. Karena tidak bisa menyebrang lautan. Belum lagi kalau musim selatan air surut.

“Kami turun dari motor air harus berjalan lagi melewati bebatuan di pantai. Karena tidak bisa merapat.  Gelombang pun besar. kami menyebrang bertaruh nyawa.  Alangkah nyamanya jika ada jembatan walaupun berjalan kaki, apalagi bisa menggunakan sepeda motor mungkin bisa menjadi alternatif. Namun disana tidak ada jalur darat,” ulasnya.

Namun demikian, ia mengaku tidak mengeluh bertugas di daerah kepulauan. Sebab, semua itu merupakan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang guru harus dapat dilalui. “Semoga saja tunjangan terpencil jangan sampai dihapus, dan semoga bisa mendapatkan kenaikan pangkat dan juga beasiswa pendidikan,” doanya.

Dijelaskan dia, kenapa harus berangkat ke sekolah dengan jalur air, karena lokasi pulau terpisah, antara pulau tempat tinggal dan juga pulau lokasi sekolah. Namun dalam satu Desa.

“Ia pulau tempat kami tinggal dan sekolah terpisah, jadi harus menyebrang,” kata dia.

Selain itu, dirinya pun berharap, semoga bagi guru yang bertugas di kepulauan bisa mendapatkan penghargaan walau itu dari mana. Tetapi dalam hal ini ia tidak menyalahkan pemerintah, bahkan ia sangat berterimakasih.

“Kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada kepala Dinas Pendidikan Kayong Utara, bapak Ismail yang sudah memperjuangkan untuk membantu motor air sebagi sarana tarasportasi kami,” lanjutnya.

Ia mengatakan, untuk jumlah siswa dari SD SMP dan PAUD kurang lebih terdapat 60an siswa. “Ada kurang lebih 60 siswa. SD, SMP dan PAUD,” tutupnya.

(danang prasetyo/kepulauan karimata)

loading...