Pelajar Dilarang Demo

kapolresta pontianak
Kapolresta Pontianak AKBP Ade Ary Syam Indradi

“Semuanya sepakat pelajar dilarang demo. Pertama karena memang belum waktunya, masih anak-anak dan agar fokus belajar”

1.200 Personel Polresta Disiagakan

PONTIANAK – Polisi bekerja cepat merespon beredarnya pesan ajakan kepada pelajar SMA untuk mengikuti demonstrasi di Gedung DPRD Kalimatan Barat, Senin 30 September. Seluruh kepala sekolah menengah atas (SMA) sederajat se-Kota Pontianak dan Kubu Raya langsung dikumpulkan Kapolresta Pontianak, AKBP Ade Ary Syam Indradi. Pertemuan pun dilaksanakan di Warkop Upgrade, Jalan Suprapto, Pontianak Selatan, Minggu (29/9).

Kapolresta Pontianak, AKBP Ade Ary Syam Indradi mengatakan, ajakan demonstrasi untuk pelajar tersebut adalah kabar tidak benar atau hoaks. Namun, lanjut Ade, untuk mengantisipasi keterlibatan pelajar dalam aksi Senin 30 September, dilakukanlah pertemuan antara pihak kepolisan dan sekolah. Dari hasil pertemuan itu disepakati bahwa pelajar dilarang untuk ikut aksi demonstrasi.

“Semuanya sepakat pelajar dilarang demo. Pertama karena memang belum waktunya, masih anak-anak dan agar fokus belajar,” kata Ade saat ditemui usai pertemuan. Selain itu, pihak sekolah juga diminta mengawasi siswa siswinya serta membangun komunikasi dengan orang tua murid agar ikut memantau aktivitas anaknya setelah jam pelajaran selesai.

“Senin pagi kepala sekolah akan kembali memberikan imbauan dan larangan di sekolahnya masing-masing. Kapolsek beserta jajarannya akan datang ke sekolah yang ada di wilayahnya masing-masing,” ucapnya.

Disinggung soal pengamanan aksi pada saat pelantikan anggota DPRD Provinsi Kalbar, Ade menambahkan, pihaknya akan menyiagakan 1.200 personel dari setiap Polsek dan Polresta Pontianak. Ade memastikan seluruh anggota yang diturunkan untuk mengamankan aksi tidak akan dibekali dengan senjata api.

“Saya berharap demonstrasi besok damai. Semua pihak menjaga keamanan dan ketertiban. Saya sudah perintahkan kepada anggota untuk senyum saat mengawal aksi,” tuturnya. Sementara itu, Kepala SMK Negeri 1 Sungai Raya, Anis Sarifudin Adi mengatakan, sejak Jumat 27 September lalu, sudah beredar pesan singkat di WhatsApp. Isinya mengajak para pelajar ikut dalam aksi 30 September.

“Informasi itu beredar melalui media sosial. Kami kepala sekolah sudah meminta kepada wali kelas untuk mengidentifikasi apakah ada anaknya yang aktif dalam rencana aksi itu,” kata Anis. Pihaknya juga sudah meminta orang tua murid untuk ikut mengawasi anak-anaknya dan agar dapat memberi informasi jika anaknya tidak pergi ke sekolah.

“Anak-anak tidak diizinkan meninggalkan sekolah. Tidak diizinkan meninggalkan pelajaran,” ucapnya. Anis menyatakan, untuk mengantisipasi ada pelajar yang turun aksi, pihaknya juga akan menurunkan beberapa guru ke lapangan untuk melakukan pemantauan. (adg)

loading...