Pelaku Skimming di ATM Pontianak; BRI Janji Uang Nasabah Kembali

BERI KETERANGAN : Pimpinan BRI Kantor Cabang Pontianak Respandi Novianto memberikan keterangan pers kepada awak media di Kantor BRI Cabang Pontianak, Jalan Barito, Jumat (6/12). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Pontianak memberikan penjelasan terkait raibnya uang nasabah yang terindikasi menjadi korban tindak kejahatan skimming. Sudah bisa dipastikan bahwa lokasi automated teller machine (ATM) yang digunakan ada di Kota Pontianak.

Hal itu diungkapkan Pimpinan BRI Kantor Cabang Pontianak Respandi Novianto, Jumat (6/12). Meski tidak menyebut secara jelas, namun ia memastikan ATM yang terindikasi digunakan untuk tindak kejahatan skimming berada di Kota Pontianak.

Respandi menyatakan, pihaknya tidak bisa memberikan penjelasan secara detail terkait kasus ini. Sebab, semua kewenangan untuk memberikan penjelasan secara detail ada di kantor pusat Jakarta. Termasuk mengenai data-data terkait pelaporan, lanjut Respandi, semuanya sudah disampaikan ke pusat.

“Kantor cabang hanya membantu memberikan atau meneruskan laporan dari nasabah, nanti kantor pusat yang menyelidiki karena kami tidak punya kewenangan di sana,” ungkapnya saat memberikan keterangan pers di Kantor BRI Cabang Pontianak, Jalan Barito, Jumat (6/12).

Pada intinya, lanjut dia, setiap nasabah yang mengajukan komplain pasti akan diproses oleh pihak bank. Baik itu nasabah yang terindikasi menjadi korban skimming maupun tidak.  Maka dari itu, pihak bank perlu waktu untuk melaksanakan proses investigasi.

“Nah untuk prosesnya ini kami perlu waktu, karena tidak semua pengaduan nasabah ini terkait skimming. Kami perlu waktu untuk investigasi, maksimal (waktunya) sesuai aturan OJK adalah 20 hari kerja,” jelasnya.

Dari hasil investigasi tersebut, jika memang terbukti hilangnya uang nasabah terindikasi skimming, pihak BRI berjanji melakukan penggantian. Uang yang hilang dipastikan kembali terkredit sesuai nominal sebelumnya. “Kalau memang terindikasi (skimming) uangnya akan dikembalikan ke rekening nasabah masing-masing,” tegasnya.

Sampai saat ini menurutnya semua laporan yang masuk masih diselidiki. Dan yang sudah terbukti mengalami skimming, uangnya sudah dikembalikan. Sementara untuk jumlah laporannya sendiri, ia tidak bisa menyebutkan secara pasti, yang jelas laporan diketahui mulai masuk sejak 29 November 2019 lalu.

“Yang (sudah) dikembalikan itu memang terbukti bahwa itu terindikasi jadi langsung dikembalikan. Jadi memang perlu diteliti lebih dulu setiap laporan apakah skimming atau bukan. Karena setiap penggantian langsung masuk ke rekening nasabah masing-masing, jadi selama nasabah tidak komplain artinya (uang) sudah masuk kembali,” paparnya.

Untuk mengantisipasi hal serupa kembali terulang, pihak BRI mengimbau agar nasabah selalu berhati-hati. Terutama dalam setiap memberikan data-data pribadi kepada pihak lain atau pihak manapun juga, data pribadi adalah kunci dari transaksi keuangan nasabah.

Selain itu, dalam bertransaksi juga disarankan selalu mengecek kondisi ATM yang akan digunakan. “Kalau bisa juga harus cek lagi apakah ada kamera atau apa yang bisa merekam pin-nya. Maka kami imbau mengganti pin secara berkala. Intinya masyarakat harus hati-hati,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu korban, Dino (25) mengaku saldo di rekeningnya sudah kembali. Pengembalian terhitung hanya butuh waktu sekitar satu hari dari terakhir ia melapor ke pihak bank. “Saya kehilangan pada 4 Desember, uang sudah kembali pada 5 Desember,” katanya, Jumat (6/12).

Jumlah uang yang kembali sesuai dengan yang hilang yakni Rp2 juta. Hal itu diketahuinya dari SMS banking yang masuk. “Ada transaksi kredit Rp2 juta itu jam 17.00 WIB pada Kamis (5/12),” terangnya.

Dengan kasus yang menimpanya ini, Dino berharap keamanan dari pihak bank bisa semakin ditingkatkan. Karena dengan keamanan yang meningkat otomatis kepercayaan masyarakat juga bakal meningkat. “Karena dengan kasus ini kan akan menjadi catatan nasabah,” tutupnya.

Dijual di Online Shop

Tindak kejahatan siber atau fraud cyber crime di sektor jasa keuangan dan perbankan kian sering ditemukan. Didi ST, ahli IT perbankan lulusan dari ITB menyebutkan bahwa tindak kejahatan siber di sektor jasa keuangan secara umum terbagi atas dua jenis, yakni social engineering dan skimming.

Skimming sendiri diartikan tindakan pencurian informasi dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu debit atau kartu kredit secara ilegal.

Untuk kasus skimming sendiri berkat kemajuan teknologi, ternyata peralatannya dijual bebas di toko online semacam alibaba Indonesia. Cukup ketik jual skimmer, maka bermunculan berbagai jenis peralatan di dalamnya. Harganya mulai dari Rp143.809 hingga Rp2.157.147. Alat skimmernya dari yang modern hingga berteknologi sedang.

”Alat tersebut bisa dipakai dan diletakkan di ATM yang penjagaannya kurang. Maka kalau sudah terjadi, nasabah bakalan menjadi korban,” ujarnya. “Model begini juga mengundang pelaku cenderung mempelajari dan mempraktekan karena alatnya dijual bebas di toko online,” lanjutnya.

Sementara untuk social engineering ialah bagaimana manipulasi psikologis seseorang dengan tujuan mendapatkan informasi tertentu atau melakukan hal tertentu dengan cara menipu secara halus, baik disadari atau tidak melalui telepon atau berbicara langsung.

Untuk teknik dasar memperoleh informasi dengan modus social engineering bermacam-macam. Setidaknya tiga hal paling lumrah.

Pertama vishing, yakni upaya penipu melakukan pendekatan terhadap korban untuk mendapatkan informasi atau mempengaruhi korban untuk melakukan tindakan. Biasanya komunikasi dilakukan melalui telepon.

Kedua, phising yakni pengelabuan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi rahasia seperti password dengan menyamar sebagai orang atau bisnis terpercaya dalam sebuah komunikasi elektronik. Saluran yang digunakan seperti email, layanan pesan instan (SMS), atau penyebaran link palsu di internet guna mengarahkan korban ke website yang telah dirancang untuk menipu.

Selanjutnya, impersonation, yakni upaya penipu berpura-pura menjadi orang lain dengan tujuan mendapatkan informasi rahasia. Modus social engineering yang kerap dilakukan penipu di antaranya seperti fraud internet banking dan transaksi online menggunakan kartu kredit/kartu debit.

Biasanya pelaku mengaku sebagai pegawai bank yang menginformasikan adanya perubahan biaya layanan SMS/internet banking, pemberian bonus pulsa, pembagian hadiah undangan, dan lain-lain,” ucapnya.

Selanjutnya Penipuan penawaran pinjaman online dengan bunga murah. Ada juga cara contact center bank. Biasanya penipu memanipulasi mesin ATM agar korban gagal bertransaksi dan kartu tertelan di mesin. Pada saat bersamaan, anggota tim penipu standby di sekitar ATM guna mengarahkan korban menghubungi nomor call center palsu. “Tim yang berpura-pura menjadi call center palsu memberitahukan bahwa ATM telah diblokir,  kemudian meminta korban memberikan identitas pribadi termasuk nomor PIN ATM. Dan pelaku yang berada di sekitar korban kemudian mengambil kartu ATM milik korban yang tertelan di mesin,” tukasnya.

Ada lagi Fraud SMS penipuan. Untuk satu ini korban menerima konten SMS yang berisi iming-iming hadiah, diskon, bonus pulsa, paket tur wisata, pinjaman online, dan lainnya. Dalihnya mencairkan hadiah. Korban akan dipancing ke mesin ATM dan diarahkan mengikuti instruksi yang diberikan pelaku seperti melakukan transfer dana atau top-up saldo e-commerce. “Jadi berhati-hatilah para nasabah,” pesannya. (bar/den)

 

 

 

 

 

 

 

loading...