Pelayanan KB DAS di Nanga Lebang Mesti Berkelanjutan

SINTANG-Kepala Puskesmas Nanga Lebang Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Rio Martadi Nurmansyah mendukung program pelayanan KB Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dilakukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat. Pasalnya sudah hampir 10 tahun kebelakang, kegiatan KB DAS tidak dilakukan di Nanga Lebang.

“Kegiatan ini dapat memudahkan masyarakat yang ingin menggunakan kontrasepsi sejenis implan maupun IUD yang terkendala waktu dan jarak untuk ke fasilitas kesehatan,” kata Rio Martadi Nurmansyah, saat kegiatan pelayanan KB DAS di Desa Nanga Lebang, Senin (21/9).

Ia berharap kegiatan ini bisa kembali dilakukan di Nanga Lebang. Disebutkannya Puskemas Nanga Lebang membawahi empat desa yang berada di jalur air. Diantaranya Desa Karya Jaya Bakti, Nanga Lebang, Sungai Lais dan Mandiri Jaya. Selama ini pelayanan kepada masyarakat dihadapi dengan kendala infrastruktur. Karena akses jalan wilayah tersebut harus menggunakan jalan milik perusahaan.

“Namanya jalan perusahaan tidak setiap saat dipelihara, tapi apapun kendalanya kami tetap berusaha memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Untuk mengatasi kendala tersebut pihaknya menjalankan pelayanan jemput bola melalui posyandu dan puskemas keliling setiap bulan. Pihaknya mempersiapkan dua speed boat dan satu puskemas keliling darat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kemudian untuk tenaga bidan ada tujuh orang, bidan tersebut ada yang ditempatkan di puskemas dan postu. Bidan-bidan yang ada di Puskemas Nanga Lebang kata dia memerlukan pembinaan lebih lanjut. Sekarang yang perlu ditingkatkan bidan yakni kemampuan. “Makanya saya menyarankan kepada organisasi profesi bidan. Bila ada pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan bidan maka kami akan siap mengikuti pelatihan tersebut,” ungkapnya.

Karena untuk tahap pelayanan masyarakat terkendala akses. Sehingga dilakukan pelayanan penjemputan kepada masyarakat. Untuk pelayanan KB umumnya masyarakat masih menggunakan sistem pil, kondom dan suntik. Sehingga dengan adanya kegiatan pelayanan KB DAS akan membuka wawasan masyarakat. Akseptor dengan resiko tinggi bisa menggunakan alat kontrasepsi yang non hormonal seperti IUD dan implan.

Salah satu masyarakat Desa Nanga Lebang, Sri (43) mengatakan pada kesempatan program pelayanan KB DAS ini dirinya memasang IUD. Sebelum menggunakan IUD dirinya sempat menggunakan implan dan pil KB. Sejak awal dirinya memang berniat untuk menggunakan IUD.

“Karena hipertensi, jadi untuk menghindari itu saya gunakan yang aman yakni IUD,” katanya.

Sri mengungkap berdasarkan penjelasan yang didapatkan, penggunaan IUD aman bagi penderita hipertensi. Saat ini dirinya sudah memiliki dua anak dengan umur anak terakhir 13 tahun. Untuk sementara dirinya masih belum berencana untuk menambah anak.

Dikatakannya penggunaan IUD aman untuk wanita di usia seperti dirinya. Untuk penderita hipertensi penggunaan IUD bisa dikatakan aman. Dirinya menggunakan KB untuk menjarangkan jarak kelahiran sehingga mempermudah kegiatan sehari-hari.(iza)

error: Content is protected !!