Pelestarian Kepiting Bakau Jadi Penghasilan Tambahan Neyalan

Oka Pransiska

Oleh: Oka Pransiska

DENGAN adanya tingkat kerusakan hutan berbagai upaya perbaikan dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang lingkungan. Munculnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P 83 /MENLHK/SEKJEN/KUM.1/10/2016 tentang Perhutanan Sosial dengan salah satu skemanya adalah Hutan Desa bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan serta mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari, hutan negara dapat dikelola untuk kesejateraan desa melalui hutan desa.

Hal ini dilatarbelakangi oleh masalah yang tejadi yaitu masalah ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan akses pemanfaatan hasil hutan yang masih terbatas (P.83/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/10/2016).

Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) terutama hasil perairan yaitu kepiting bakau masih dilakukan dengan alternatif yangbelum memperhatikan pelestarian agar kepiting bakau bisa dipanen secara berkelanjutan, hal ini dikarenakan sistem alat tangkap yang belum ramah lingkungan dan tidak memperhatikan ukuran kepiting pada saat ditangkap dengan menggunakan bubu kepiting size waring yang ukuran kecil.

Keberadaan masyarakat yang tinggal di desa-desa sekitar hutan desa kawasan pesisir tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi terhadap tingkat kelestarian kepiting bakau di kawasan tersebut ataupun sebaliknya, keberadaan/penetapan kawasan hutan selama ini dianggap masyarakat menjadi kawasan konservasi tentunya akan berdampak pada kehidupan masyarakat yang tinggal di desa-desa sekitar hutan desa kawasan pesisir tersebut terlebih lagi memengaruhi pendapatan sebagian nelayan kepiting yang secara musiman.

Yayasan Planet Indonesia (YPI), 2016, mengajak masyarakat Sungai Nibung, menjaga hutan mangrove dengan sistem buka tutup sungai kemudian menetapkan kawasan penangkapan dan larangan menangkap. Larangan penangkapan ini tak permanen.

“Hanya tiga bulan, agar memberikan kesempatan satwa (kepiting bakau (Scylla.sp)) di kawasan itu berkembang biak dan mencapai ukuran tertentu,” kata Miftah.

Sistem buka tutup ini mengacu pada kalender musim kepiting. Pertengahan Desember-Februari adalah puncak musim kepiting sedangkan Maret-Mei, merupakan musim kepiting berkembang biak, hingga dianjurkan tidak melakukan penangkapan, dan Juni-Agustus, musim air pasang malam. Kesepakatan bersama dibentuk masyarakat yang berisi enam poin, antara lain, mengenai pelarangan menangkap ikan, kepiting, dan hasil sungai lain pada masa penutupan sungai, kewajiban masyarakat menjaga kelestarian sungai dan hutan mangrove, serta sanksi kepada mereka yang melanggar kesepakatan.

Dengan sistem ini, hasil tangkap nelayan pun meningkat, bisa dua kali lipat. Kemudian muncul lah ide untuk memberikan label pada kepiting bakau (Scylla.sp) dari Sungai Nibung, sebagai kepiting ramah lingkungan (www.mongabay.co.id/2019/03/11).

Bentuk upaya yang dilakukan dalam pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) terutama kepiting bakau (Scylla.sp) dilakukan oleh kelompok masyarakat di sekitar hutan desa dengan pendampingan-pendampingan yang dilakukan oleh pihak tekait seperti beberapa lembaga yang bergerak di bidang lingkungan, hal ini tentunya akan diharapkan bisa membantu membantu peningkatan pendapatan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir khususnya yang berpenghasilan dari memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu berupa kepiting bakau(Scylla.sp).

Dapat disimpulkan bahwa bentuk pelestarian kepiting bakau (Scylla.sp) di hutan desa dengan menggunakan sistem buka tutup sungai merupakan salah satu sistem yang ramah lingkungan dan mampu membantu peningkatan hasil tangkapan kepiting dengan ukuran dan berat kepiting yang lebih besar. Namun tidak semua masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan bisa menerima sistem ini begitu saja karena pada saat sungai ditutup untuk sementara secara tidak langsung mata pencaharian lain harus tersedia untuk membantu memenuhi kebutuhan secara ekonomi, alternatif mata pencaharian lain berupa pertanian, perkebunan dan nelayan ikan, udang (Penaeidae) dan kepiting bakau (Scylla.sp).

Di sungai yang tidak ditutup masih bisa dilakukan selama menunggu waktu sungai dibuka. Jika hal tersebut dilakukan secara konsisten dan keberlanjutan, lestarinya kepiting bakau (Scylla.sp) dan pendapatan masyarakat sekitar hutan bisa berkelanjutan.**

*Penulis, Mahasiswi Program Pasca Sarjana Magister Kehutanan, Universitas Tanjungpura Pontianak.

error: Content is protected !!