Pembelajaran Era Covid–19 Berbasis Budaya Lokal

Tri Margawati, S.Pd. SD

Oleh: Tri Margawati, S.Pd. SD.*

MEWABAHNYA Coronavirus Disease 2019 (Covid–19) di Indonesia menyebabkan pembelajaran semakin tertantang dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) daring atau online. Pembelajaran daring menciptakan keutuhan pada konteks pembelajaran baru pada kurikulum yang diterapkan. Seperti perubahan kurikulum 2013, menjadi sempurna dengan diterapkankannya di era Covid–19. Terjadi penyesuaian pada media dan sumber belajar.

Pendidikan mengubah mindset seseorang agar bisa lebih kritis, logis dan kreatif. Sehingga dapat menciptakan sebuah perubahan. Bagaimanapun kondisinya, pendidikan Indonesia terus berlanjut pada seperangkat ketaatan aturan atas dasar bahan pelajaran, isi, dan hakikat tujuan, teknik serta berguna baik berdasarkan pedoman program kegiatan pembelajaran untuk mencapai makna dasar dari pendidikan. Pembelajaran dilaksanakan pada penerapan scientific yang cocok diperankan yang orientasinya ditujukan pada peserta didik.

Pembelajaran daring menjadi teknologi informasi yang aktif pada peran pembelajaran. Dahulu, dasar metode yang sering dilakukan berupa ceramah, tetapi saat ini dengan pembelajaran jarak jauh dibutuhkan fasilitas seperti g–form dan  google classroom, juga aplikasi belajar gratis yang lain untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan. Dalam pembelajaran, peserta didik diharapkan sebagai pembelajar dengan mendapat kunci dari hasil pembelajaran.

Pada pembelajaran daring menghendaki guru untuk berinovasi dengan bahan ajarnya. Termasuk juga dengan sumber dan media yang digunakan sebagai bentuk penyesuaian dengan situasi saat ini. Pembelajaran juga dapat berkaitan dengan lingkungan sekitar, yang selaras dengan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah seperti hutan adat, aset–aset kebudayaan lokal atau historigrafi budaya sungai yang memiliki kaitan erat dengan budaya lokal.

Materi pembelajaran daring didalamnya memuat lingkungan maupun ekologi serta terkait akan kearifan lokal dalam kebudayaan sekitar peserta didik, dapat mengajarkan peserta didik untuk peduli dan peka terhadap lingkungan sekitar dan juga permasalahan yang ada. Selain itu juga mengajarkan peserta didik untuk mencari solusi terbaik dari masalah yang terjadi. Berpikir kritis dan inovatif.

Dengan begitu guru berperan untuk memasukan budaya lokal sekitar seperti halnya akan memperkaya pemahaman tentang salah satu, konsep sosial yang mencakup keunikan budaya lokal masing–masing di dalamnya yang dapat dimengerti dan dapat diperkaya dengan mengamati tanpa mengabaikan pembelajaran yang diberikan guru.

Percampuran pada segi muatanya mencakup akan adanya nilai budaya yang dicari pada masyarakat agar dapat menghasilkan insan Indonesia yang berguna atas dasar kecerdasan kompetitif serta menghadapi kemampuan daya saing nasional maupun internasional. Adanya pengembalian pembelajaran pada budaya lokal akan memberikan pemahaman generasi muda maupun pengalaman terhadap jenis budaya baru. Sehingga dengan hal ini perlu adanya pembelajaran yang diterapkan pada saat Covid–19, potensi mengarah peran anak bangsa memiliki hak akan kembalinya jati dirinya pada bangsa dengan identitas kultur nasional maupun budaya lokal.

Partisipasi belajar akan budaya lokal membuat bahan ajar diberikan memicu  semangat untuk di mengerti dan dipahami oleh peserta didik. Pengaruh teknologi yang dimanfaatkan dengan menyokong pembelajaran layaknya sekolah seperti video atau WhatsApp sehingga teknik dianjurkan sesuai keperluan peserta didik terpenuhi dengan lingkungan agar peserta didik mengerti dan menerima keadaan sekitar masyarakat menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar seperti layaknya di sekolah.

Arah pembelajaran sosial ditujukan kepada kesadaran lingkungan sekitar. Sistem pendidikan mencakup masukan, yang diproses dalam pendidikan dengan membentuk kehidupan baru akan tatanan kehidupan manusia yang berkualitas sesuai tujuan dari makna pendidikan nasional maupun global. Komponen kolaborasi teknologi dan kearifan lokal pada masa pandemi memberikan pelajaran baru agar peserta didil ;ebih peduli dan kritis.

Peran guru dalam upaya peningkatan pembelajaran dilihat pada kualitas kenampakan yang terjadi antara guru dengan peserta didik dengan menciptakan suatu kenyamanan atas terjadinya suatu kendala yang tercipta didalam pembelajaranya.

Budaya lokal membentuk persepsi sosial baru dalam pembelajaranya, dengan mengenali kualitas kemampuan peserta didik secara optimal dan efesien. Perkembangan teknologi dalam menunjang pembelajaran dapat menunjukkan sikap dan perilaku simpatik. Semangat dalam mengajar dan belajar berbasis kearifan lokal, menciptakan ruang kepedulian bagi generasi milenial.

 

*Penulis, Guru di SDN 45 Sungai Bemban

error: Content is protected !!