Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Aswandi

Oleh: Aswandi*

SELAMA kurang lebih 1,5 tahun ini, dunia dihadapkan pada masalah yang sama, yakni pandemi wabah Covid-19. Wabah tersebut tidak semata merenggut jutaan nyawa manuisia, melainkan juga berdampak buruk bagi hampir seluruh sendi kehidupan.

Dilaporkan penularan wabah ini dari hari ke hari meningkat. Hingga saat ini belum ditemukan obat mujarab yang dapat digunakan, baik untuk pencegahan maupun pengobatan.

Di tengah kondisi belum aman dari wabah ini, pemerintah pada Ajaran Baru 2021/2022  merencanakan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.

Penulis memahami dan menyadari bahwa di saat kondisi pandemi wabah Covid-19 belum mereda, melaksanakan kembali pembelajaran tatap muka adalah keputusan yang sulit dan dilematik.

Baik dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas maupun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berbasis daring, luring dan blended Learning, proses pembelajaran harus mengikuti beberapa prinsip berikut ini: (1) kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan adalah yang pertama dan utama; (2) sekalipun dalam suasana menghadapi wabah Covid-19 dengan segala keterbatasannya, bukan berarti proses pembelajaran dilaksanakan seenak dan seperlunya, melainkan proses pembelajaran tetap diusahakan berjalan efektif; dan (3) proses pembelajaran dilaksanakan tanpa diskriminatif.

Ada pendapat mengatakan bahwa, “Sekalipun anak kita tidak mengalami pembelajaran efektif (lost learning) akibat atau dampak Covid-19 belumlah berarti anak kita menjadi bodoh secara permanen untuk selama-lamanya, melainkan masih bisa diperbaiki atau bisa dididik ulang (re-educating). Akan berbeda, jika anak kita terserang wabah Covid-19 kemudian meninggal. Semuanya telah berakhir, yang tinggal adalah penyesalan”.

Sementara, proses pembelajaran jarak jauh berbasis daring, luring dan balended learning selama ini belum berjalan efektif, lost learning, tidak sedikit berdampak pada putus sekolah, nikah pada usia dini dan sebagainya. Memperhatikan kondisi seperti ini, dapat dipahami sebagian orang tua dan peserta didik ingin secepatnya kembali pada pembelajaran tatap muka.

Memperhatikan kondisi pandemik wabah Covid-19 saat ini, sesungguhnya kita belum siap untuk memulai pembelajaran tatap muka secara masif, Namun pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas dapat saja dilaksanakan.

Asumsi tersebut di atas penulis dasarkan, antara lain: William Bridge (2005) dalam bukunya; “Managing Transitions” bahwa sesungguhnya masalah kita hingga saat ini bukanlah kurang dan rumitnya perubahan itu, melainkan ketidakefektifan mengelola setiap fase perubahan.

Setidaknya ada dua fase perubahan yang harus dilalui sebelum melakukan fase permulaan baru (new normal), yakni fase pertama: fase pengakhiran, kemudian dilanjutkan fase kedua, yakni fase transisi, yakni suatu proses dimana orang keluar dari dunia lama dan masuk ke dunia baru atau dimulai dengan suatu pengakhiran dan diakhiri dengan suatu permulaan.

Permulaan sangat tergantung pada pengakhiran, Namun sayangnya banyak orang tidak suka mengakhirinya, karena telah terperangkap dalam “zona kenyamanan” atau tersanda oleh sebuah pola pikir, sikap dan kebiasaan yang tidak mendukung sebuah perubahan.

Penulis amati, mengapa kita sulit melawan wabah Covid-19 ini. Satu jawabannya adalah kita sulit keluar dari fase pertama. Faktanya, di fase pertama kita harus meninggalkan kebiasaan lama yang kurang baik dan belum berdisiplin mengikuti protokol kesehatan, dampaknya menjadi sulit memasuki fase-fase berikutnya, yakni fase transisi, apalagi fase permulaan baru (new normal).

Kita paksakan secara bertahap memasuki fase kedua (fase transisi) dimana pemerintah merencanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Namun harus diingat, jika gagal melaksanakan perubahan di fase transisi tersebut, maka kita akan terpuruk jauh ke jurang dan sangat sulit untuk kembali bangkit menuju fase permulaan baru (new normal), sebaliknya jika berhasil menjalani fase transisi tersebut, maka tidak mustahil akan terjadi lompatan yang sangat cepat menuju fase permulaan baru (new normal). Itulah sebabnya, penulis memandang pentingnya mempersiapkan dan melaksanakan program Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dasar pertimbangan berikutnya, Sonny Harry B. Harmadi selaku Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 menegaskan bahwa “Penanganan Covid-19 tidak cukup hanya bergantung pada upaya kesehatan, seperti vaksinasi dan pengobatan. Penelitian membuktikan, 99% resiko penularan dapat dicegah melalui perilaku atau kebiasaan (disiplin) masyarakat melaksanakan protocol kesehatan.”

Rahmi Dianty, puteri penulis dari Osaka Jepang menceritakan hal yang sama. Di tempat mereka tinggal, tidak seorangpun masyarakat tertular wabah Covid-19, dan tak seorangpun masyarakat tidak divaksin, Namun masyarakat penuh disiplin menjalankan protocol kesehatan. Terbukti berdisiplin melaksanakan protocol kesehatan lebih efektifr dalam mencegah wabah virus corona.

Pada awalnya, puluhan bahkan ratusan tahun diyakini oleh sebagian masyarakat bahwa mengubah kebiasaan buruk itu adalah sulit. Belakangan ini, terungkap bahwa merubah kebijasaan buruk tersebut adalah mudah selama mengikuti tiga unsur penting berikut ini: (1) komitmen atau janji kepada diri sendiri untuk berubah, (2) modifikasi lingkungan sebagaimana diperlukan untuk sebuah perubahan, dan (3) monitoring dan evaluasi terhadap perubahan yang diinginkan.

Jika kita telah berusaha melakukan perubahan, namun tidak memperoleh hasil sebagaimana diharapkan, maka hampir dapat dipastikan tiga unsur perubahan tersebut belum berjalan efektif.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini: (1) bangunkan kesadaran dan komitmen bersama orang tua, sekolah dan masyarakat untuk mensukseskan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas; (2) mempersiapkan pembelajaran tatap muka dengan mempertimbangkan aspek epidemiologi, sistem kesehatan dan surveilans yang tidak sama di setiap daerah guna memastikan lingkungan sekolah sudah dalam keadaan aman; (3) disiplin melaksanakan protokol kesehatan, antara lain: menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, tidak berkerumun, dan tetap menjaga pola hidup sehat dan bersih; (4) dilakukan Pembelajaraan Tatap Muka (PTM) Terbatas secara bertahap dengan melibatkan (kolaborasi) stakeholder sekolah; (5) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.

*Penulis, Dosen FKIP Untan

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!