Pemerintah Bikin Hujan Buatan

kabut asap

SEADANYA: Warga Perumahan Nuansa Serdam bekerja keras memadamkan api dengan alat seadanya sebelum para pemadam datang. Api hanya berjarak 10 meter dari permukiman warga,sementara sumber air sulit didapat. SHANDO SAFELA/ PONTIANAK POST

Semai 800 Kilogram NaCl  di Langit Kalbar

PONTIANAK – Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai dilakukan di langit Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (19/9). Upaya untuk mempercepat terjadinya hujan ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Kalbar selama penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2019.

Kepala BPBD Provinsi Kalbar, Lumano menjelaskan TMC yang dilaksanakan kemarin hanya satu sorti dengan bahan semai sebanyak 800 kilogram. Hal itu karena melihat awan potensial yang masih terbatas. Penyemaian dilakukan di langit di wilayah Kabupaten Landak, Sanggau dan Sekadau.

“Rencana hanya satu sorti pukul 14.00 WIB. Hanya mereka juga melihat ada atau tidaknya awan. Lokasinya di Sanggau, Sekadau, dan Landak. Di situ yang dilihat ada awan,” ungkap Lumano kepada Pontianak Post, Kamis (19/9).

Ia menjelaskan, pesawat CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio (CN) milik TNI AU yang digunakan untuk operasi TMC sebenarnya sudah tiba di Kalbar sejak, Selasa (17/9). Namun, pesawat baru bisa beroperasi kemarin karena menunggu adanya awan potensial untuk disemai. “Kalau ada (awan) biasanya ditabur tiga sorti atau dua sorti. Jadi ini harus melihat kondisi awan,” terangnya.

Sementara untuk operasi penanganan lainnya, kata Lumano, sampai saat ini masih terus berjalan. Satgas udara dengan helikopter water bombing juga tetap beroperasi. Bahkan satu helikopter disimpan di Kota Singkawang untuk menjaga agar asap tidak menyebar sampai ke wilayah perbatasan negara.

“Satu (helikopter water bombing) ke Singkawang, bisa menangani Sambas dan Bengkayang juga. Karena (dekat) perbatasan Malaysia, harus dijaga. Prioritas untuk perbatasan,” pungkasnya. Seperti diketahui, BMKG Supadio memprediksi hujan alami baru akan turun hari ini, Jumat (20/9). Pada Jumat (20/9) pukul 07.00 WIB sampai dengan Sabtu (21/9) pukul 07.00 WIB, hujan lokal diperkirakan akan terjadi di tiga kabupaten, yakni Sambas, Kapuas Hulu dan Melawi. Sementara di daerah lainnya sebagian hanya berawan dan cenderung masih diselimuti asap.

Sedangkan dari data prakiraan yang berlaku mulai Sabtu (21/9) pukul 07.00 WIB sampai Minggu (22/9) pukul 07.00 WIB, hujan mulai merata terjadi di seluruh wilayah Kalbar. Hujan dengan intensitas sedang, lebat hingga petir bakal terjadi di beberapa wilayah seperti Sanggau, Ketapang, Sintang, Kapuas Hulu, Sekadau, Kayong Utara, Kubu Raya dan Pontianak. Sementara di wilayah kabupaten/kota lainnya hanya akan terjadi hujan lokal.

Melihat kondisi tersebut, BMKG telah memberikan peringatan untuk mewaspadai potensi hujan yang disertai petir/kilat pada malam dan dini hari. Adapun wilayah yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas lebat terjadi di sebagian Ketapang dan Kayong Utara.

Apresiasi Pernyataan Gubernur

Pernyataan Gubernur Kalbar, Sutarmidji yang menilai peladang bukanlah penyebab bencana kabut asap dari karhutla mendapat apresiasi Persatuan Peladang Tradisional Kalbar. Pernyataan jujur tersebut dinilai baru pertama kali disampaikan kepala daerah di provinsi ini.

“Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi atas pernyataan Pak Gubernur yang tidak ikut-ikutan menuduh peladang penyebab karhutla dan bencana asap,” ungkap Ketua Persatuan Peladang Tradisional Kalbar Yohanes Mijar Usman melalui keterangan tertulisnya, Kamis (19/9).

Dari pernyataan itu, Mijar menilai bahwa gubernur sangat memahami dinamika yang dihadapi peladang. Karena itu, gubernur juga diminta dapat memberdayakan peladang dengan mau menghormati kearifan lokal yang selama ini mewarnai praktik bertani secara turun-temurun.

Sementara terhadap bencana asap yang diakibatkan kebakaran lahan pada konsesi di puluhan perusahaan, pihaknya mendukung upaya penegakan hukum. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi penilaian negatif terhadap peladang sebagai penyebab karhutla. Mijar yang juga temanggung Melona di Menukung, Kabupaten Melawi itu berharap penilaian yang sama juga diungkapkan oleh para pejabat maupun kepala daerah lain di provinsi ini.

Sebagaimana diketahui, Menko Politik Hukum dan Keamanan RI, Wiranto sempat menyampaikan tudingan bahwa peladang adalah penyebab karhutla. Penilaian miring itu kemudian disambut protes oleh Persatuan Peladang Tradisional Kalbar dan sejumlah organisasi masyarakat sipil, ormas maupun organisasi kepemudaan.(bar)

Read Previous

Warga Terpaksa Mengungsi

Read Next

Cara Mudah Bayar Pajak Tanpa Ke Kantor Pajak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular