Pemkab Kubu Raya dan Kodam XII Tanjungpura Gelar Salat Istisqa

istisqa
SALAT ISTIQA: Para jemaah mengikuti salat istisqa di halaman Kantor Bupati Kubu Raya

Harapkan Kemarau Berakhir

RATUSAN masyarakat Kubu Raya, Rabu pagi sekitar pukul 07.30 memenuhi halaman Kantor Bupati Kubu Raya. Bersama bupati, wakil bupati dan jajaran pegawai di lingkungan Pemerintah Kubu Raya mereka melaksanakan salat istisqa.

Pantauan di lapangan, kendati dikepung kabut asap, namun tak menyurutkan antusias dan kekhusyukan para jemaah untuk melakukan salat meminta turunnya hujan ini.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengatakan bencana kabut asap dan kemarau panjang yang berujung pada pelaksanaan salat Istisqa menjadi bagian kolektif yang harus menjadi refleksi semua pihak. Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut harus meningkatkan kesadaran bahwa segala suatu yang merusak alam akan membuat goncangan atau ketidakseimbangan. Jika tidak diantisiapasi dan dicegah, kata dia pada akhirnya juga akan berakibat merusak kehidupan manusia.

“Kita harus lebih banyak berikhtiar dan berharap segala sesuatunya hanya kepada Allah Taala. Kita bergantung lebih besar karena sebagai umat beriman tetap menyandarkan diri semata kepada Allah,” kata Muda setelah mengikuti salat meminta turunnya hujan yang dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kubu Raya, Zamroni Hasan.

Muda menuturkan, selain salat Istisqa dan permohonan ampun kepada Allah, upaya perbaikan yang dapat dilakukan yakni dengan memperbaiki interaksi dengan alam. Menurut dia, Istisqa bukan sekadar ritual. Melainkan harus diikuti dengan perilaku menjaga pesan peradaban unggul dari generasi terdahulu, yakni berbuat baik dan bersahabat dengan alam.

“Kita juga harus punya kearifan di dalam menjaga keseimbangan alam. Jangan merusak. Kita perlu menjaga keseimbangan, termasuk juga di dalam melakukan langkah-langkah untuk bagaimana mengembalikan keseimbangan tersebut,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo yang berharap kemarau panjang yang terjadi hingga saat ini bisa berakhir. “Tentunya kita juga sama-sama berharap melalui doa dan yang kita lantunkan pada salat istisqa ini diijabah Allah dan akan segera turun hujan, sehingga bencana kabut asap juga segera teratasi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kubu Raya Zamroni Hasan menambahkan, saat ini peristiwa bencana seperti bencana asap telah terjadi. Maka yang harus dilakukan adalah upaya untuk meredam bencana tersebut.
“Upaya meredam ini pun sebagaimana petunjuk Allah Taala juga. Istigfar itu salah satu solusi yang Allah tawarkan untuk segera terhindar dari bencana, musibah, dan bala,” ucapnya.

Pilihan kedua yang dapat dilakukan untuk meredam bencana lanjut Zamroni, yakni dengan melakukan ritual qunut nazilah. Ritual tersebut, menurutnya, dapat dilakukan di setiap salat fardu lima lima waktu.
“Pelaksanaannya seperti qunut subuh. Jadi di rakaat terakhir dibaca doa qunut dan ditambah doa permohonan hujan. Itu bisa dilakukan secara personal di masjid-masjid hingga hujan turun dan bencana asap reda,” jelasnya.

Sehari sebelumnya, yakni pada Selasa (17/9) Kodam XII Tanjungpura juga menggelar Shalat Istisqa dan doa bersama di lapangan keras Makodam XII Tanjungpura untuk meminta turunnya hujan. Di sisi lain, pada hari yang sama, umat Kristiani juga melakukan doa bersama di Aula Kodam XII Tanjungpura, Jalan Arteri Alianyang, Kubu Raya dan untuk yang beragama Hindu di Pura Giripati Mulawarman, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya.

Salat meminta turunnya hujan yang dipimpin Ustadz Luqmanulhakim ini diikuti para personel TNI, PNS, Persit Kodam XII Tanjungpura dan masyarakat sekitar.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII Tanjungpura, Kolonel Inf Aulia Fahmi Dalimunthe, mengatakan, Salat Istisqa adalah Shalat untuk memohon diturunkannya hujan, dengan tujuan sebagai solusi mengatasi bahaya asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan agar cepat teratasi dan padam.

Menurut Aulia Fahmi Dalimunthe, hingga saat ini upaya pemadaman Karhutla masih terus dilakukan di titik-titik api serta melakukan pendinginan agar api tidak kembali menyala. Untuk mencegah kembali bertambahnya titik api, dia mengajak semua lapisan masyarakat untuk dapat bersinergi dalam menjaga dan menciptakan wilayah Kodam XII Tanjungpura yang bebas dari asap. “Pada dasarnya agar terhindar dari bencana asap ini sangat mudah dilakukan, misalnya dengan tidak sembarang membakar hutan dan lahan, karena dampaknya akibat membakar hutan dan lahan sangatlah merugikan kita semua,” ungkapnya.

Kapendam XII Tanjungpura ini pun mengingatkan, tidak sekedar mengakibat terjadinya bencana asap, namun juga sanksi berupa pidana akan diberikan bagi yang melakukan pembakaran hutan dan lahan.

“Kami berharap, semoga dengan dilaksanakan salat Istisqa ini, Allah Subhanuwat’ala senantiasa menurunkan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan, dengan harapan kabut asap yang menyelimuti wilayah Kodam XII Tanjungpura yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan bisa segera teratasi dan api yang membakar segera padam,” pungkasnya. (ash)

loading...