Pemusnahan Rokok Ilegal di Kantor BC Kalimantan Bagian Barat

ROKOK ILEGAL: Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat saat memusnahkan 1.8 juta batang rokok ilegal, Selasa (9/6) lalu. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Temukan Potensi Kerugian Negara Mencapai Ratusan Juta

Letak geografis Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Negara Malaysia, menjadi daerah yang cukup rawan penyelundupan. Tidak terkecuali rokok.  Aktivitas peredaran rokok illegal ini berpotensi merugikan keuangan Negara hingga ratusan juta rupiah. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Wilayah Bea Cukai, Kalimantan Bagian Barat Suparyanto, kemarin.

Arief Nugroho-Pontianak

Terbukti belum lama ini, Kantor Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat memusnahkan sebanyak 1,8 juta batang rokok illegal. Pemusnahan jutaan batang rokok ilegal itu dengan cara dibakar, sehingga tidak bisa lagi dimanfaatkan. Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Wilayah Bea Cukai, Kalimantan Bagian Barat Suparyanto mengatakan, barang bukti rokok ilegal ini, merupakan hasil tangkapan sejak September 2018 hingga September 2019 yang sudah memiliki kekuatan hukum untuk dimusnahkan.

“Barang bukti ini merupakan hasil tangkapan selama satu tahun terakhir, yakni 2018-2019 dan sudah memiliki kekuatan hukum tetap,” katanya. Suparyanto menjelaskan, selain memusnahkan rokok ilegal, pihaknya juga memusnahkan MMEA (minuman mengandung etil alkohol) sebanyak 2,5 liter dengan cara dibuang dan dilakukan perusakan terhadap kemasannya sehingga juga tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Memasukan rokok ilegal, kata Suparyanto, melanggar UU No. 11 tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan UU No. 39 tahun 2007. “Barang bukti rokok dan MMEA tersebut hingga dilakukan pemusnahan tidak diketahui pemiliknya, sehingga ditetapkan sebagai barang milik negara, dan untuk barang tersebut menurut aturan harus dimusnahkan, dan tidak boleh dimanfaatkan,” katanya.

Menurut dia, akibat aktivitas ilegal tersebut telah merugikan negara sekitar Rp200 juta, sehingga memang harus diberantas dalam menekan seminimal mungkin aktivitas ilegal tersebut. Menurut dia, barang-barang itu masuk melalui pintu-pintu perbatasan, dan juga di pintu-pintu pelabuhan baik dari darat maupun laut sehingga merugikan negara dari sektor pajak dan lainnya. “Pada saat ditemukan, rata-rata barang ilegal itu ditemukan dalam keadaan ditinggal oleh pemiliknya, sehingga ditetapkan sebagai barang sitaan negara, sehingga tidak bisa dimanfaatkan atau dihibahkan dan harus dimusnahkan,” ujarnya.

Dia mengimbau, kepada pelaku usaha agar mentaati aturan, sehingga tidak merugikan negara, dan juga tidak mudah dikelabui oleh para oknum yang memanfaatkan ketidaktahuan pemilik resmi pita cukai rokok atau lainnya. Sebelumnya, 20 April 2020, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat juga memusnahkan barang milik Negara berupa 77. 904 batang rokok illegal dan 54 bal pakain bekas serta 4 bal sepatu bekas hasil penindakan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat tahun 2017. Pemusnahan barang illegal tersebut dengan cara dicacah untuk menghilangkan fungsinya dan dibakar.

Dikatakan Suparyanto, barang illegal terutama rokok dan barang bekas berpotensi merugikan keuangan Negara. Dimana, kata dia, sekitar 70 persen pendapatan Negara diperoleh dari situ. Baik itu dari sisi pajak, maupun cukainya. Sementara untuk pakaian bekas, berpotensi menularkan penyakit. “Potensi kerugian negaranya cukup jelas. Karena sekitar 70 persen menjadi pendapatan Negara. Sedangkan untuk pakaian bekas, berpotensi menularkan penyakit. Terlebih pada saat sekarang,” pungkasnya. (**)

loading...