Pendidikan dan Hidayah

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Hermansyah

Selalu dikatakan bahwa pendidikan tak hanya untuk konsumsi fisik dan akal, tetapi juga menyentuh nurani dan rasa. Namun kenyataannya ukuran keberhasilan pendidikan sepenuhnya diukur dengan angka-angka. Kalaupun ada penilaian sikap, tidak menyentuh substansinya. Peserta didik dianggap berhasil, jika laporan hasil belajar mata pelajaran menunjukkan angka-angka kuantitatif yang baik. Tidak dipersoalkan apakah pemilik angka-angka itu jujur, rendah hati, berfikiran positif, dan lain sebagainya. Singkatnya pendidikan tidak dirancang untuk memperbaiki akhlak manusia.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda,“Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk, niscaya dia tidak bertambah dekat melainkan bertambah jauh dari Allah. (HR. Ad-Dailami dan Ibnu Hibban). Artinya sangat mungkin seorang berilmu, tetapi perilaku semakin buruk, serta memanfaatkan ilmu dan gelar akademisnya untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan manusia dan agama.

Sementara dalam pandangan Islam dinyatakan bahwa tujuan beragama adalah untuk memperbaiki akhlak. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Ahmad).

Sejatinya pendidikan pun harus diorientasikan untuk memperbaiki akhlak. Menurut para ulama, akhlak adalah sisi batin manusia yang mendorong perbuatan yang bersifat lahiriah. Dalam konteks ini, umumnya lahir penanda batin. Namun, tidak selalu begitu. Sesorang yang rajin bersedekah belum tentu menandakan bahwa ia memiliki sifat pemurah atau penyayang terhadap sesama. Boleh jadi motivasi atau niatnya karena ingin dipuji. Oleh karena itu, dalam ilmu akhlak yang dibahas adalah sisi dalam manusia yakni sifat-sifatnya seperti ikhlas, zuhud, tawakkal, ridha, iri, dengki, marah, dan sifat-sifat batin lainnya.

Akhlak yang baik identik dengan batin yang baik. Kemuliaan batin hanya mungkin terjadi jika sesorang terhubung kepada Allah SWT. Ilmu yang dapat mendatangkan hidayah bukan sekedar kumpulan pengetahuan, tetapi ilmu diperoleh dan didorong oleh keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (ilmuwan)” (QS Al Faathir [35]:28).

Umar RA berkata, “Yang paling saya takutkan kepada umat ini, ialah orang munafiq yang berilmu.” Hadirin bertanya, “Bagaimana ada orang yang munafiq berilmu?”

“Berilmu di lidah, bodoh di hati dan diperbuatan,” jawab Umar.

Dari sini dipahami ternyata pelaku kejahatan bukan karena ketidaktahuan, tetapi ketiadaan petunjuk. Karena sumber dari segala kejahatan adalah hati. Sementara hanya Allah yang dapat membatasi manusia dari kejahatan yang yang dibisikkan ke dalam hatinya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24). Dan Dia pulalah yang memberikan petunjuk kepada hati manusia. Bahkan, ketika manusia mempelajari ayat-ayat Tuhan, belum tentu ia mendapat petunjuk. Jika ini terjadi, ada kemungkin manusia mendebatkan ayat-ayat Tuhan. Tujuannya tidak lain hanya untuk kebesaran diri dan kelompok, bukan untuk memperbaiki niat dan amalnya.

FirmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka, melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Mukmin: 56).

Ada sebuah hadis yang dikutip berkali-kali oleh al-Ghazali. “Aktsar ahli al-jannati al-bulhu (sebagian besar orang-orang yang akan masuk surga nanti adalah “al-bulhu“/orang bodoh)”.

Dalam pandangan kaum arif di antara makna orang bodoh adalahmereka menyadari bahwa hakikat pemilik itu adalah Allah. Karena itu mereka tidak merasa memiliki ilmu. Umar bin Khattab menjelaskan 3 tahap dalam menuntun ilmu. Pertama, orang akan menjadi sombong. Kedua, menjadi tawadhu atau rendah hati. Ketiga, orang tidak mengetahui apa-apa atau merasa bodoh.

Jika seseorang sombong dengan ilmunya baik duniawi ataupun agama sejatinya, masih pada tahap awal orang yang menuntut ilmu. Walaupun pengetahuannya banyak dan ia telah lama menuntut ilmu.

Sebagian orang ilmu yang diperolehnya akan menjadikannya menjadi rendah hati atau tawadhu. Orang ini berada pada tahap kedua. Terakhir orang yang justru merasa bodoh setelah belajar dan mendapatkan ilmu, karena ia menyadari bahwa ilmunya adalam milik Allah. Inilah yang disebut oleh Nabi sebagai orang-orang bodoh, penghuni surga terbanyak. **

Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Read Previous

Dorong Tenun Khas Daerah Jadi Batik PNS

Read Next

Surpres Jokowi Khianati Rakyat

Tinggalkan Balasan

Most Popular