Pendidikan di Tengah Pandemi; Anak Tidak Belajar hingga Rentan Alami Eksploitasi

RUMAH BACA: Komunitas Love Borneo mengajak anak belajar sambil bermain di rumah baca di Dusun Pempadang, Mandor.

Sejak pandemi Covid-19, dampak pendidikan terasa bagi anak-anak di sejumlah daerah. Tidak ada proses belajar mengajar di sekolah, orang tua mereka di rumah tidak mendampingi belajar, waktu mereka lebih banyak dihabiskan bermain dan menonton. Bahkan berpotensi mengalami eksploitasi, pekerja anak, perkawinan anak, dan kekerasan lainnya.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

KOMUNITAS Love Borneo kembali mengunjungi beberapa rumah baca binaannya di daerah pedalaman Kalbar, setelah beberapa bulan terhenti akibat pandemi. Kedatangan mereka disambut bahagia anak-anak setempat.

Seperti kunjungan biasanya, Komunitas Love Borneo mengajak anak-anak ini bermain sambil bernyanyi, membaca dan memberikan bimbingan belajar seperti dasar matematika juga Bahasa Inggris.

“Kasihan anak-anak ini, tidak sekolah, orang tua di rumah tidak dampingi belajar. Jadi waktu ketemu kami mereka senang banget,” ucap Raynaldo Ginting kepada Pontianak Post.

Raynaldo prihatin, saat mengetahui sebagian besar dari anak-anak ini tidak belajar sama sekali di rumah. “Jadi waktu ketemu Sabtu lalu, saya dapati beberapa ngomongnya kasar dan banyak ngomong hal-hal yang dari sinetron. Jadi pasti nonton TV terus, sedih sih. Bersyukur sudah bisa kunjungi beberapa kampung sekarang ini,” katanya.

Raynaldo khawatir, jika semakin lama proses belajar melalui daring, semakin lama pula anak-anak ini tidak belajar. “Untuk anak-anak kota yang bisa online dan orang tuanya sadar mendampingi belajar anak sih tidak apa-apa. Tapi untuk anak di daerah belajar di rumah berarti tidak belajar sama sekali,” jelasnya.

Raynaldo, menyarankan pihak terkait dan dinas pendidikan bisa mengarahkan guru-guru yang lebih aktif berkomunikasi dengan orang tua murid. Cara dengan memberikan tugas dan melibatkan pengurus desa untuk memonitor atau menyemangati para orang tua mendampingi anak-anaknya belajar atau mengerjakan tugas.

“Juga bisa melibatkan gereja atau masjid untuk membuka bimbel buat anak-anak di daerah. Paling tidak insting belajarnya tidak mati ya,” ulasnya.

Raynaldo menyoroti, masih banyak anak yang dijumpainya belum bisa membaca dengan lancar. Padahal sudah kelas 4, 5 bahkan kelas 6 SD. Apalagi jika belajar dari rumah diperpanjang.

“Jadi efek Corona ini terasa sekali dari sisi pendidikan untuk anak-anak yang di pedalaman.Mungkin Karena secara ekonomi tidak terasa langsung, jadi di anggap tidak apa-apa. Padahal nanti anak-anak ini akan kesulitan waktu sekolah di luar saat SMP, SMA. Karena belajarnya waktu SD tidak tuntas,” ucapnya.

Komunitas ini ingin menggiatkan mencari sukarelawan. Berharap semakin banyak rumah baca di pedalaman yang bisa dibangun, dikunjungi dan memberikan bimbingan belajar. Meskipun sulit memberdayakan sukarelawan lokal, tetapi juga aka  dilakukan, terutama remaja setempat.

Sementara itu, enam peneliti muda dampingan Wahana Visi Indonesia berusia 14-17 tahun dari enam kabupaten/kota di Indonesia melakukan penelitian kualitatif sebagai pelapor dan pelopor pemenuhan hak dan perlindungan anak untuk mengetahui apa saja dampak dari pandemi Covid-19 yang dialami oleh anak rentan.

Hasilnya, ditemukan bahwa anak-anak yang mengalami tantangan belajar dari rumah karena tidak rutinnya aktivitas belajar mengajar, juga memiliki potensi yang rentan mengalami eksploitasi, pekerja anak, perkawinan anak dan kekerasan lainnya.

Penelitian ini digawangi oleh perwakilan forum anak dari Bengkayang dan Kubu Raya di Kalimantan Barat, dari Ende, Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur, serta Jakarta Timur.Penelitian dimulai sejak awal Juni 2020, masing-masing anak mewawancarai teman sebayanya yang menjadi subyek penelitian mereka, melakukan pengamatan langsung dan melakukan diskusi kelompok kecil.

Hasil wawancara yang dilakukan oleh Sherly (16) mendapatkan bahwa memang tidak semua anak mendapatkan kemewahan pembelajaran jarak jauh yang teratur. Banyak guru yang tidak mengajar karena tidak ada fasilitas pendukung sehingga anak-anak merasa seperti berlibur. Karena aktivitas sekolah yang tidak berjalan lagi, Ivon (13) dari Ende, mendapati adanya anak yang bekerja di kebun padi seharian selama musim panen.
Anak-anak usia 9 tahun ke atas itu dibayar Rp 30.000-50.000 per-hari/pikul untuk memanen padi.

Akibatnya, kegiatan belajar di rumah menjadi terabaikan. Grace (15) dari Sumba Timur juga menemukan adanya anak-anak di Waingapu yang beralih bekerja di pasar dan jalan raya. “Anak-anak menjual dagangan sirih pinang dengan menghentikan kendaraan di jalan sejak pagi hingga malam. Sangat besar risiko terjadi kekerasan fisik dan seksual,” kata Grace.

Anak yang harus bekerja selama masa belajar di rumah juga ditemukan oleh Novita (17) dari Bengkayang. Anak mengalihkan kesibukan dengan membantu orang tua bekerja di kebun sawit seharian untuk membantu ekonomi orangtua.

Demikian juga di Jakarta, Khusnul (16) menemukan fakta anak-anak yang mengalihkan aktivitas denganmengamen di jalanan dengan menjadi manusia silver makin banyak. “Selain cat tubuh itu berbahaya bagi kesehatan, anak juga rentan mengalami pelecehan di jalanan,” kata Khusnul.

Isak (17) dari Timor Tengah Selatan juga menemukan bahwa anak-anak disabilitas dan anak pekerja migran Indonesia juga mendapatkan dampak dari Covid-19.

Analis Kebijakan Publik WVI, Tira Maya Malino mengungkapkan, dampak COVID-19 yang membuat anak-anak tidak bersekolah secara aktif, dengan kegiatan belajar mengajar yang minim membuat anak-anak rentan mengalihkan kesibukannya ke aktivitas lain. Bagi mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, anak-anak berpotensi rentan mengalami eksploitasi dan pekerja anak. UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 dan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sudah mengatur bahwa anak-anak dibawah usia 18 tahun tidak boleh bekerja lebih dari 3 jam/hari atau 15 jam/minggu.

“Bahkan anak-anak yang ikut membantu orang tua bekerja tidak boleh membahayakan kesehatan, keselamatan dan moral anak, apalagi kalau bekerja untuk mencari nafkah. Meskipun pada sebagian besar anak-anak ini bekerja dengan keinginan sendiri karena tidak lagi disibukkan disekolah, anak-anak tersebut rentan mengalami eksploitasi, hak pendidikan dan bermainnya bisa terabaikan,” pungkasnya. (*)

 

loading...