Pendidikan Karakter di Era Digital

Asteria, S.Pd

Oleh: Asteria, S.Pd.

DALAM Kongres Taman Siswa tahun 1930, Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak. Maka pendidikan dipersepsikan sebagai sebuah usaha sadar dalam proses pembelajaran baik akademik maupun non–akademik bertujuan agar para peserta didik mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku menjadi lebih baik.

Salah satu yang harus selalu ada dalam perkembangan dan pertumbuhan generasi adalah pendidikan karakter. Proses pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini dan sudah harus dimaksimalkan pada usia sekolah dasar. Potensi yang baik sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir, tetapi potensi tersebut harus terus dibina dan dikembangkan melalui sosialisasi baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Di era globalisasi ini manusia dengan mudahnya menggunakan teknologi yang ada bukan hanya orang dewasa namun juga anak–anak. Teknologi saat ini digunakan dalam dunia pendidikan karena sangat membantu proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, teknologi juga mampu digunakan sebagai alat komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Namun, bagaimanapun juga teknologi mempunyai dampak positif maupun negatif dalam ranah pendidikan. Khususnya pada generasi muda, penerus bangsa harus dikendalikan dengan baik dan bijak.

Konsep dasar pendidikan karakter tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti tahun 2015. Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) salah satunya bertujuan untuk menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Karakter bentuk dari kegiatan yang dilakukan secara berulang dan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan inilah yang menempel dan menjadi karakter seseorang.

Penanaman dan pengembangan karakter di lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya guru namun juga kerjasama dari murid dan orangtua. Bagaimanapun juga perkembangan karakter di sekolah hanya menjadi suplemen bagi peserta didik. Sementara makanan pokok perkembangan karakter yang sebenarnya ialah di rumah. Dimana, keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik seorang anak di rumah.

Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat membentengi diri dalam menghadapi kemajuan teknologi informasi. Orangtua dan pendidik sangat berperan dalam hal ini. Pendidik bukan sekadar berperan mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga membangun karakter peserta didik. Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang baik dalam menanamkan karakter siswa. Dengan demikian, harusnya segala kegiatan yang ada di sekolah, baik kegitan pembelajaran maupun kegitan pembiasaan-pembiasaan semestinya dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter.

Pendidikan karakter merupakan usaha bersama seluruh warga sekolah untuk mewujudkan dan menciptakan suatu kultur baru di sekolah, yaitu kultur pendidikan karakter. Penanaman dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah melalui lingkungan pendidikan dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung dan akhirnya terbentuklah suatu kultur sekolah.

Salah satu tujuan penanaman pendidikan karakter untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensil ulusan pada satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter peserta didik dapat mengembangkan potensi kalbu/nurani sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai–nilai budaya dan karakter bangsa.

Perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai–nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas serta peduli secara mendalam tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam.

Penggunaan internet bukan hanya sekedar dapat melakukan interaksi dengan orang lain, akan tetapi juga dijadikan sebagai alat bersosialisasi dalam dunia maya. Media sosial merupakan sebuah aplikasi online dimana seseorang dapat membuat akun pribadi maupun dapat terhubung dengan siapapun orang yang tergabung dalam ranah media sosial itu sendiri.

Pemanfaatan media sosial sendiri tidak mengenal suatu batasan waktu, setiap orang dapat mengakses media sosial saat kapanpun dan dimanapun. Penggunaan media sosial ini dapat menyebabkan ketagihan untuk selalu ingin mengakses media tersebut. Penanaman–penanaman nilai karakter tersebut dapat diimplementasikan dan dijadikan budaya sekolah. Proses yang efektif untuk membangun budaya sekolah adalah dengan melibatkan dan mengajak semua pihak atau pemangku kepentingan untuk bersama–sama memberikan komitmennya.

Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah, seperti nilai peduli dan kreatif, jujur, tanggung jawab, disiplin, sehat dan bersih, saling peduli antar sesama. Sekolah adalah laksana taman atau lahan yang subur tempat menyemaikan dan menanam benih–benih nilai tersebut. Maka dari itu, pendidikan karakter di sekolah adalah tugas bersama.

Sebagai seorang pendidik dan seorang orangtua, harus menjadi panutan dan role model yang baik untuk anak demi membentuk kepribadian dan karakter yang baik. Apalagi, di era digital ini sangat mudah untuk menggali dan mendapatkan informasi di internet. Sebagai pendidik ataupun orangtua sudah seharusnya menjadi pengawas dan pembimbing yang baik untuk anak–anak dalam mendapatkan infromasi. Apalagi, usia anak–anak sekolah dasar yang masih belum mampu membedakan mana hal yang baik dan buruk. Dikhawatirkan, dengan teknologi yang ada, anak–anak justru terkena dampak negatif dari teknologi itu sendiri karena kurangnya pantauan pendidik maupun orangtua.

Karakter seseorang akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang–ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter. Maka dari itu, pendidikan karakter harus dilakukan sedini mungkin agar anak mampu menanamkan karakter yang baik sehingga mereka bisa membawanya hingga usia dewasa.

*) Penulis : Guru di SMP Negeri 1 Parindu

error: Content is protected !!