Pendidikan Keluarga di Era Digital

opini pontianak post
ilustrasi opini

Oleh Heriyanto

PEMBENTUKAN karakter bangsa kini menghadapi tantangan serius. Serius sekali. Situasinya sudah mengkhawatirkan. Terutama sejak meluasnya perkembangan internet dan teknologi informasi. Kini ada banjir yang begitu dahsyat: banjir informasi. Banjir itu melanda dengan begitu derasnya. Datang seperti air bah. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik. Kita sudah tidak bisa lagi membendungnya.

Kini, lebih dari setengah penduduk Indonesia sudah terhubung internet. Itu berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Jumlahnya mencapai 132,7 juta pada 2016 lalu. Naik 51,8 persen dibandingkan survei pada 2014 lalu. Pada tahun itu, pengguna internet baru 88 juta. Penduduk Indonesia sendiri menurut data BPS mencapai 256,2 juta.

Lantas apa yang menyebabkan jumlah pengguna internet melesat naik? Telepon pintar (smart phone). Kini penggunaan smart phone memang mewabah. Terutama di perkotaan. Di desa pun tak terhitung warga yang sudah menggunakannya. Tidak hanya orang tua, smart phone juga digilai anak-anak.

Kini, sebanyak 63,1 juta atau 47,6 persen orang di Indonesia mengakses internet dari smartphone. Sisanya dari personal komputer dan laptop.

Banjir informasi sebenarnya bisa menjadi berkah. Kini semua orang bisa mengakses informasi dengan cepat dan murah. Juga sangat mudah. Informasi berada di ujung jari kita. Tinggal mengklik tautan, informasi itu bisa segera dibaca. Warga di kampung bisa mendapatkan informasi tentang harga cabai, beras, atau karet dengan cepat. Mereka juga bisa memasarkan produknya dengan lebih mudah.

Dulu, orang berkirim informasi begitu susahnya. Sebelum ada telepon seluler, orang biasa berkirim informasi lewat surat atau telegram. Untuk berkirim surat harus pakai perangko dan dikirim lewat pos. Suratnya berhari-hari baru bisa diterima. Kini semua informasi bisa dikirim dengan begitu cepatnya.

Tapi banjir informasi bisa jadi bencana. Mengapa? Banjir, di mana pun kejadiannya akan selalu menghasilkan air yang keruh. Tidak jernih. Begitu pun banjir informasi. Yang berseliweran di dunia maya adalah informasi yang belum tersaring kejernihannya. Antara informasi yang benar dan palsu saling berkelindan.

Tantangan Orang  Tua

Tantangan menjadi orang tua di masa kini jauh lebih berat. Rasa khawatir menghampiri setiap hari. Betapa tidak, setiap waktu ada saja berita yang membuat kita mengelus dada. Kita kerap terhenyak saat menonton berita di televisi. Ada anak-anak yang tega berbuat asusila dengan temannya, yang juga masih anak-anak. Di berita lain, ada anak-anak yang bersama teman-temannya, yang juga masih di bawah umur, mencabuli temannya sendiri. Yang juga masih anak-anak. Mereka melakukannya seperti tanpa rasa bersalah.

Kini semakin banyak saja berita mencemaskan itu. Data menunjukkan kekerasan yang dilakukan anak-anak terus meningkat. Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seperti dikutip dari laman Liputan6.com menyebutkan, angka korban pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun. Yang sungguh miris, peningkatan kasusnya mencapai 100 persen, baik mereka yang jadi korban mau pun pelaku. Misalnya yang terjadi pada tahun 2013 ke 2014.

Selain kemajuan teknologi dan kurangnya pengetahuan orangtua dalam mengasuh dan mendidik anaknya, lingkungan pergaulan juga menjadi penyebabnya.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, terutama sejak munculnya internet, tak dipungkiri sangat mempengaruhi perubahan perilaku generasi muda saat ini.

Internet di satu sisi bisa membawa dampak yang positif jika mampu memanfatkannya dengan baik. Namun di sisi lain, internet juga bisa membawa dampak sangat buruk.

Kini anak-anak dengan sangat mudah mengakses internet, terutama melalui telepon pintar mereka. Hampir setiap anak kini memiliki gawai atau gadget. Dengan perangkat tersebut, mereka bisa mengakses internet kapan pun dan di mana pun. Dan kita, sudah tak bisa lagi membendung atau melarang anak-anak tidak menggunakan telepon pintar (smart phone). Mereka bisa ngambek, dua hari dua malam, jika dilarang menggunakannya.

Generazi Milenial

Sejak munculnya Teori Generasi, kita diperkenalkan dengan istilah generasi X, Y dan Z. Ada lima generasi yang lahir setelah perang dunia kedua yaitu Baby Boomers (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980), Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Generasi Z (lahir tahun 1995-2010) dan Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025).

Masing-masing generasi ini memiliki perbedaan perilaku dalam mengakses informasi. Generasi X sangat akrab dengan media konvensional, seperti koran, majalah, atau buku.

Bisa dibilang mereka adalah mayoritas pembaca media konvensional tersebut dibandingkan generasi setelahnya. Sementara itu, generasi Y, sangat mayoritas merupakan pengakses televisi.

Bagaimana dengan generasi Z? Generasi Z, adalah generasi yang pada 2018 ini merupakan kelompok remaja. Generasi ini lahir setelah internet sudah mulai mewabah.

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi Z memiliki hidup yang sangat digital karena mereka dekat sekali dengan akses internet. Generasi X dan Y punya lebih banyak waktu produktif lain dalam kehidupannya. Sementara generasi Z, banyak ruang kosong untuk mereka mengakses informasi. Dan akses terdekat dengan mereka adalah internet.

Berbeda dengan generasi X dan Y, generasi Z cenderung mendapatkan informasi sesuai keinginannya. Tidak ada yang memaksa mereka untuk mendapatkan suatu informasi. Jadi generasi ini sangat leluasa mengakses informasi apa saja yang mereka inginkan.

Karena keinginan dan akses internet yang sangat mudah tersebut, generasi ini bisa dengan mudah mengadopsi tren yang ada di dunia. Apalagi kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Snapchat yang kian digandrungi remaja.

Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk berinteraksi dengan ponsel pintarnya, searching di dunia maya dan ‘romantis’ dengan media sosialnya.

Kondisi inilah yang memunculkan dilema. Ada sisi positif dan ada pula sisi negatif. Positif, jika mereka menggunakan ponsel dengan baik. Misalnya untuk mendapatkan informasi yang berguna. Belajar ilmu pengetahuan, atau mencari bahan bacaan tugas sekolah.

Sebaliknya, sisi negatif-lah yang didapat, jika internet itu digunakan untuk melihat konten porno, misalnya. Sejumlah anak bisa saja terjerumus atau tergoda untuk membuka-buka konten video atau foto yang mengandung unsur pornografi.

Dalam banyak kasus, pemerkosaan yang melibatkan anak-anak ternyata terjadi usai mereka menonton video porno tersebut. Apa jadinya negara ini di masa depan jika generasi mudanya rusak gara-gara tontonan tersebut? Jika itu terjadi, kita mungkin hanya akan mendapati negara ini menjadi bangsa yang terpuruk, hancur, dan kalah dari berbagai sisi.

Generasi mudalah yang kelak akan menggantikan generasi saat ini. Karena itu, jika generasi muda kita rusak, maka akan rusaklah bangsa ini di masa depan. Sebaliknya, jika ingin bangsa ini menjadi bangsa yang kuat, maka tidak ada cara lain, kita harus menyiapkan generasi muda kita sebaik mungkin.

Era Industri 4.0

Era globalisasi saat ini memang tidak bisa kita bendung. Penggunaan teknologi semakin canggih. Negara-negara di berbegai belahan dunia berlomba-lomba menciptakan perangkat teknologi canggih.

Kita mengenal apa yang disebut era revolusi industri 4.0. Di mana di dunia ini perang sesungguhnya saat ini bukanlah dengan menggunakan senjata militer, namun perang dalam bentuk ekonomi digital, big data, hingga kecerdasan buatan.

Menurut data dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, kesiapan Indonesia dalam menghadapi diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi. Meski masih di bawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara. (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id)

Pendidikan Keluarga

Pendidikan generasi muda harus dimulai dari keluarga. Sejak mereka masih bayi. Dalam buaian orang tua. Mengenalkan anak pada agama juga harus dimulai dari sejak kecil. Itulah peran orang tua, terutama ibu. Anak-anak harus dibentuk ahlak dan budi pekertinya sejak masih kecil. Secara telaten dan penuh kasih sayang. Tidak bisa pendidikan anak itu ujuk-ujuk diserahkan pada institusi sekolah. Keluarga adalah yang paling berperan dalam pembentukan karakter anak.

Orang tua semestinya proaktif untuk tahu mana yang baik bagi anak. Salah satunya mengontrol penggunaan gadget pada anak-anak mereka. Melarang sama sekali anak-anak mengggunakan gadget tentu saja bukan solusi. Di zaman saat ini, kita tidak bisa menolak masuknya teknologi informasi. Yang perlu dilakukan adalah memberi pengertian pada anak-anaknya agar bisa menggunakan gadget itu secara bermanfaat.

Orang tua juga harus bisa mengawasi apa saja konten yang diakses anak. Ada konten yang positif bagi anak, sebaliknya ada pula yang negatif. Menggunakan gadget untuk mencari informasi terkait ilmu pengetahuan, misalnya, tentu sangat dianjurkan. Itu sangat bernilai positif bagi anak. Sedangkan konten negatif bisa berupa game bertema kekerasan, video porno, dan lain-lain.

Manusia dalam tumbuh kembangnya memiliki beberapa proses sesuai usia. Ada yang disebut anak-anak, kanak-kanak, remaja dan sebagainya di setiap proses tersebut memiliki pola perkembangan masing-masing. Semestinya anak diberikan fasilitas untuk bermain sesuai dengan pola perkembangan dia.

Contohnya saja, ketika anak baru memasuki usia anak-anak, belum boleh diberikan tontonan film remaja. Hanya saja yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini tidak seperti itu. Film remaja bahkan film dewasa bisa ditonton dengan bebas oleh anak. Parahnya ketidaktahuan orangtua menyebabkan mereka tidak peduli.

Ada bermacam hal negatif yang tidak bisa dipantau langsung orang tua. Hal itu seharusnya segera dicegah. Belum lagi anak-anak yang bebas keluar masuk warnet hingga larut malam. Masyarakat seharusnya bisa melarang anak. Tetapi ketidakpedulian itulah yang menjadi penyebab.

Untuk menghentikan anak dari kecanduan gadget itu sangatlah mudah, yakni jangan memberikan smartphone pada anak. Kalaupun sudah diberikan, harus dikontrol dengan ketat. Ia mencontohkan, dia baru memberikan smartphone kepada anaknya ketika mereka sudah di bangku kuliah.

Orangtua pun dapat menjadikan dirinya contoh kepada anak sehingga anak dapat benar-benar patuh kepada orangtua. Bukannya kepatuhan semu. Anak-anak yang patuh hanya ketika berada di depan orangtua. Jangan sampai orang tua baru sadar setelah anak masuk terlalu jauh. Proaktiflah, mengantisipasi sebelum terjadi. Jangan reaktif atau pasif terhadap anak.

Pendidikan agama sejak dini juga sangat penting bagi anak-anak. Pendidikan agama sejak dini itulah yang akan membentengi anak-anak dari akses negatif teknologi informasi saat ini. Dengan benteng itu, mereka akan mampu menyaring, mana konten yang boleh diakses, dan mana yang tidak boleh. Benteng ini jauh lebih ampuh ketimbang pengawasan orang tua. Sebab orang tua tidak setiap waktu mengawasi aktivitas anak-anaknya.

Lantas bagaimana membentengi anak-anak kita agar mampu menggunakan internet dan media sosial dengan benar? Sederhananya, bagaimana memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang saat ini untuk hal positif? Bukan sebaliknya merusak karakter anak-anak?

Tidak dipungkiri, pembentukan karakter anak ada pada keluarga. Bukan sekolah yang membentuk karakter anak. Melainkan pendidikan di lingkungan keluarga sejak dini.

Sekali lagi, pendidikan keluarga juga memainkan peran, bagaimana generasi milenial mampu memanfaatkan era digital saat ini untuk mendorong peningkatan kapasitas diri. Orang tua harus mampu melihat potensi anak, terutama pada bidang teknologi agar anak bisa memanfaatkan teknologi itu untuk memperkuat keunggulan pribadinya.

Sejauh semua orang tua mampu menjadi partner penting bagi anak-anaknya dalam belajar, kita tidak akan khawatir di masa depan Indonesia kekurangan generasi penerus. (*)

Penulis adalah Alumni Pendidikan Matematikan FKIP Untan, tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat.  

loading...