Pendidikan Lingkungan Lewat Teach4Future

Adela Abdullah // Co-Founder & Project Leader Teach4Future

Adela Abdullah menunjukkan rasa cinta terhadap lingkungan bukan hanya aksi melestarikan. Namun, lewat program Teach4Future yang digagas bersama kedua temannya, dia mengakomodir beberapa guru untuk mengimplementasikan pendidikan lingkungan di sekolah.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Rasa cinta Adela Abdullah pada lingkungan tumbuh sejak di bangku SMA. Kala itu, perempuan yang akrab disapa Dela ini pernah jadi salah satu kader generasi cinta laut Jakarta. Saat pindah ke Pontianak, Dela mendapat kesempatan menjadi bagian Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak Tahun 2015. Ia pun berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Tahun 2016 Dela mendaftarkan diri untuk ikut program yang diadakan Young South East Asian Leaders Initiatives (YSEALI), Academic Fellowship Program dari kedutaan Amerika di Indonesia.

Dela berhasil terpilih menjadi salah satu dari empat anak muda asal Indonesia yang diberangkatkan ke United States untuk belajar tentang Global Environmental Issues di University of Montana.

Ketika mengikuti ajang tersebut, Dela semakin sadar jika isu lingkungan sangat ‘alarming’. Semua orang bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Tak kenal batas negara.

Sejak itu, Dela berkomitmen untuk terus mengedukasi lebih banyak, berkaitan dengan isu lingkungan. Karena berdasarkan research, tingkat kesadaran lingkungan di Indonesia masih rendah.

Pertengahan 2017 sampai 2018, Dela berkesempatan magang di Green School Bali yang disponsori oleh YSEALI. Di sini Dela mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak lokal Bali.

“Program Bahasa Inggris disini unik karena menggabungkan eco literacy. Posisi saya waktu itu English and Sustainability Teacher,” cerita Dela.

Selesai mengajar, Dela sempat pulang ke Pontianak menjadi volunteer di UPT Bahasa Universitas Tanjungpura. Pada Januari 2019, ia kembali lagi mengajar di Green School Bali higga July 2020.

Pengalaman mengajar di Bali membuat Dela merefleksi diri bahwa di Indonesia masih banyak sekolah yang ketinggalan mengenai Sustainable Development Goals dari PBB.

“Padahal targetnya itu harus tercapai di tahun 2030,” ucapnya.

Berkaca dari permasalahan tersebut, Dela mengajak dua temannya, yakni Mujahidah dan Abid yang juga mengajar di Green School Bali untuk membuat project workshop  yang dinamakan Teach4Future. Dela dan dua temannya mendaftarkan Teach4Future ini pada program YSEALI Seeds for The Future Grants tingkat ASEAN. Di mana program terpilih akan diberikan uang inisiatif.

“Saya, Mujahidah dan Abid merancang proposal dan kegiatan selama satu tahun,” kata Dela.

Awal tahun 2020, project Teach4Future yang digagas ketiganya berhasil memperoleh kesempatan mendapatkan uang inisiatif dari program YSEALI tersebut. Ketiganya pun diberangkatkan ke Vietnam untuk mengikuti pelatihan awal dan menerima uang inisiatif. Setelah itu, ketiganya mulai menjalankan project implementasi selama satu tahun.

Berbicara mengenai program, Teach4Future ini menyasar sekolah yang berkomitmen untuk punya project yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan dan isu keberlanjutan secara general. Teach4Future ini berangkat dari beberapa masalah. Salah satunya karena kurangnya pelatihan yang berkaitan dengan penerapan dan pendidikan lingkungan di sekolah untuk guru.

Dela mengungkapkan ada 10 sekolah dari beberapa provinsi di Indonesia yang turut bekerja sama dengan Teach4Future. Salah satunya Sekolah Cerlang di Pontianak.

Dela menjelaskan ada tahapan yang dilewati sekolah sebelum terpilih. Pertama, melalui tahap administrasi, dimana sekolah harus mengirimkan dua essay mengenai isu yang akan diangkat.

“Di dalam essay itu juga disertakan solusi apa yang ingin dilakukan,” ungkap Dela.

Dela ingat saat itu ada 60 tim yang mendaftar. Satu tim terdiri dari dua orang. Setelah dilakukan seleksi administrasi, terpilih sekitar 30 tim yang diundang untuk seleksi wawancara.

Akhirnya, terpilih 10 tim (20 guru) dari beberapa provinsi di Indonesia. Dela menambahkan setiap sekolah diberikan seed grants sebesar Rp5juta untuk penerapan project mereka.

Co-Founder & Project Leader Teach4Future ini menuturkan awalnya ia dan kedua temannya ingin mengundang beberapa guru untuk datang ke Bali. Namun, karena pandemi Covid-19, seluruh kegiatan dilakukan secara daring.

“Kami melangsungkan kegiatan daring pada bulan Oktober 2020 lalu,” tuturnya.

Lewat program ini, Dela dan kedua temannya ingin memberikan lebih banyak guru yang punya akses ke pendidikan lingkungan dan bagaimana cara penerapannya secara praktik dan teori. Ada beberapa materi yang dikenalkan, khususnya isu yang ada di Indonesia. Karena di Indonesia sudah ada program adiwiyata dan juga secara global, yaitu SDGs dari PBB.

Dela yakin lewat program Teach4Future akan banyak guru yang sadar tentang isu lingkungan dan pentingnya integrasi lingkungan dan program yang ada di sekolah tersebut.

Di sisi lain, guru yang mengikuti program ini bisa membantu mentransfermasi dan mengimplementasikan pendidikan lingkungan ini pada siswa yang diajak.

“Diharapkan siswa bisa terbangun lagi kesadarannya terhadap lingkungan,” ujarnya.

Dela tak menampik kebanyakan project pengenalan pendidikan lingkungan banyak dilakukan oleh NGO yang langsung diberikan kepada siswanya. Dela melihat dari sisi keberlanjutannya terasa kurang.

Ketika siswa lulus, ilmu yang didapat bisa saja ada yang diimplementasikan, tapi ada yang tidak. Namun, jika diberikan kepada guru, tentu guru akan membagikan secara terus-menerus pada siswanya.

“Sehingga, lebih banyak siswa yang memiliki pemikiran lebih terhadap lingkungan,” ungkap Dela.

Alumnus Jurusan Bahasa Inggris FKIP Untan ini berharap lewat program Teach4Future ini warga sekolah secara menyeluruh juga sama-sama menjadi contoh dan peduli pada lingkungan. Dia “Terakhir, semoga Teach4Future bisa jadi komunitas dan initiatif berkelanjutan, menghubungkan pendidik, aktivis, ahli di bidang pendidikan, lingkungan dan sustainability di Indonesia untuk perubahan arah pendidikan kedepannya,” harapnya.**

error: Content is protected !!