Penerapan Sistem Among Ki Hajar Dewantara dengan Sikap Guru

Erlita Dian Ratri, S.Pd

Oleh : Erlita Dian Ratri, S.Pd

BU, aku ngga usah sekolah lagi aja ya ? Bill Gates dan Mark Zuckerberg berhenti sekolah tapi hidupnya sukses”. Bagaimana jawaban kita sebagai orang tua bila mendapatkan pertanyaan demikian dari Ananda? Bill Gates dan Mark Zuckerberg memang berhenti sekolah tapi mereka tidak berhenti belajar, suatu kemampuan yang tidak selalu dimiliki mayoritas orang. Perlu komitmen tinggi untuk menjalani belajar seumur hidup  secara mandiri. “Sekolah mengarahkan seseorang untuk terus belajar”

Dulu ada suatu era dimana siswa harus menempuh jarak yang jauh disertai usaha yang besar untuk menuntut ilmu. Setelah pandemi covid – 19 muncul, era berubah, para gurulah yang mendatangi siswa untuk menyampaikan ilmu. Di tempat lain dengan fasilitas teknologi yang memadai, para siswa sangat dimudahkan, tak perlu datang lagi ke sekolah. Cukup di rumah mengakses ilmu dengan demikian mudahnya. Ada yang tetap semangat belajarnya dengan menyiapkan diri selama jadwal pembelajaran daring, menyimak dan mencatat. Namun ada yang sambil lalu, sekedar absen, sambil rebahan, jika terlambat datang lalu meminta guru mengirimkan kembali file materi yang tertinggal tadi.

Generasi kita saat ini dihadapkan pada krisis karakter yang cukup memprihatinkan, dibuktikan dengan sikap ketidakjujuran, kurangnya tanggung jawab, hilangnya sikap ramah tamah dan sopan santun. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat menjadi solusi lemahnya pendidikan karakter di Indonesia dewasa ini.

Guru profesional dituntut memiliki empat kompetensi seperti yang diamanahkan oleh Undang-Undang Guru No 14 Tahun 2005, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Adapun ajaran Ki Hajar Dewantara berkaitan dengan kompetensi ini, yaitu : tertib bicara dan bertindak, salam, damai, dan bahagia. Keempat azas ini selaras dengan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, yakni menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

Ajaran kepribadian ini dijabarkan menjadi nilai-nilai yang harus dimiliki oleh pendidik, yaitu (keteladanan) Ing ngarsa sung tulada, ketika berada di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh dengan tindakan yang baik; (motivasi) Ing madya mangun karsa pada saat berada di antara peserta didik, guru harus menciptakan prakarsa dan ide; dan Tut wuri handayani, dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Tut wuri handayani di dalam pelaksanaan pendidikan disebut sistem among. Peran pamong menurut pandangan Ki Hajar Dewantara sangat mulia karena semua aktivitas pamong difokuskan untuk kepentingan pengoptimalan potensi yang ada pada diri anak didik.

Nilai-nilai luhur ajaran Ki Hajar Dewantara seharusnya mampu menembus perkembangan jaman, dengan menyesuaikan kondisi dalam jamannya termasuk didalamnya guru sebagai pendidik yang berakhlak mulia dan mampu menjadi teladan bagi siswanya. Namun faktanya menunjukkan kondisi yang berbeda.

Mengingat setiap anak mempunyai potensi sesuai dengan kodratnya, maka guru harus memberikan kesempatan dan dorongan kepada anak didik untuk mengembangkan kemampuannya, melakukan pembinaan berdasarkan kemauan dan pemahaman peserta didik sendiri. Sebagai contoh kasus anak yang seringkali datang terlambat ke sekolah. Sikap dan tindakan guru sebaiknya tidak mengambil keputusan untuk menghukum anak tersebut untuk berdiri di depan kelas. Solusi bijak dapat dilakukan dengan mencari tahu alasan siswa sering terlambat, mendengar penjelasan atas kondisinya, kemudian guru berupaya meyakinkan bahwa ia dapat sampai di sekolah sebelum jam masuk, serta penguatan ketika ia sudah menunjukkan perubahan.

Tut wuri handayani juga bermakna mengembangkan potensi daya cipta (cara berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri), daya rasa (mengembangkan perasaan positif), dan daya karsa (semangat belajar dan berkarya). Dalam hal ini siswa diarahkan pada pembelajaran yang kreatif untuk menciptakan suatu produk hasil pembelajaran.

Guru dapat melakukan analisis pada mata pelajaran tertentu yang dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas siswa. Sebagai contoh pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, guru tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat bakso, donat, pizza yang lezat rasanya dengan tekstur lembut. Guru juga membimbing anak untuk dapat berkreasi menciptakan bentuk sajian yang baru, misalkan bakso bentuk cinta yang belum ada sebelumnya serta mengasah kemampuan berpikir siswa bagaimana membuat sajian tersebut tahan lama menjadi suatu usaha frozen food sehingga memiliki daya jual yang tinggi karena kepraktisan serta rasanya yang lezat sehingga menggerakkan jiwa kewirausahaan siswa.

Dalam pembelajaran di sekolah, guru berupaya memilih dan menggunakan metode serta media bervariasi untuk mengembangkan kompetensi peserta didik. Guru adalah kunci dalam penerapan sistem among. Keberhasilan sistem among di sekolah juga bergantung dari guru di sekolah tersebut. Penerapan Tut wuri handayani dengan mengikuti perkembangan anak didik sepenuh hati, disertai penguatan lahir batin anak (membimbing dan memberikan keteladanan) diharapkan menjamin kualitas belajar siswa secara optimal. Tujuannya agar anak didik mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan kodrat tanpa paksaan, hukuman, dan ketertiban dengan disiplin pribadi (swadisiplin).

*Penulis. Guru Kimia SMA Negeri 3 Ketapang

error: Content is protected !!