Pengakuan Pemesan Amonium Nitrat

A Lebanese army soldier walks amidst the debris at Beirut port on August 7, 2020, three days after a massive blast there shook the Lebanese capital. - The explosion of a huge pile of ammonium nitrate that had languished for years in a port warehouse served as shocking proof to many Lebanese of the rot at the core of their system, with seething anti-government protests erupting late Thursday near parliament. World leaders have joined the chorus of Lebanese in the country and abroad demanding an international probe into a blast that killed nearly 150 and wounded at least 5,000 people. At least 300,000 were left temporarily homeless, including nearly 80,000 children, the United Nations' child agency has said, warning that many have been separated from their families. (Photo by JOSEPH EID / AFP)

Penyebab Ledakan di Lebanon

JAKARTA— Perusahaan pemesan ammonium nitrat yang menyebabkan ledakan di Beirut, Libanon buka suara. Pemilik bahan tersebut adalah Fabrica de Explosivos Mocambique (FEM), perusahaan manufaktur bahan peledak Mozambik.

FEM mengatakan pihaknya membeli amonium nitrat tersebut dan meninggalkannya di Pelabuhan Beirut selama hampir tujuh tahun. Bahan peledak itu dibeli untuk membuat bahan peledak bagi perusahaan tambang di Mozambik.

“Kami dapat memastikan bahwa iya, kami memang memesannya,” kata juru bicara FEM yang dilindungi identitasnya, dikutip CNN pada Sabtu (8/8).

Kendati memesan untuk dikirim ke Mozambik, FEM mengatakan bahan peledak tersebut tak pernah sampai. Ini merupakan satu-satunya bahan kimia pesanan perusahaan yang dipesan pihaknya namun tak pernah tiba.

“Biasanya ketika Anda memesan apapun yang Anda beli, tidak umum Anda tidak mendapatkan barangnya. Ini kan [dikirim menggunakan] kapal, bukan seperti barang yang hilang melalui pos. Ini besar kuantitasnya,” ujar dia.

Juru bicara FEM mengaku sudah bekerja di perusahaan itu sejak 2008. Dan sejak itu tidak pernah ada pengiriman gagal yang ia dapati menurut kesaksiannya.

Bahan peledak itu pertama kali dikirim dari tempat produksi di Georgia pada September 2013. Pengirimannya menggunakan kapal Rusia, Rhosus, yang kemudian berlabuh di Beirut.

FEM bekerja sama dengan perusahaan perdagangan luar dalam pengiriman amonium nitrat tersebut. Namun perusahaan perdagangan tersebut mengatakan bahan yang dipesan tidak akan tiba karena kendala logistik.

“Kami baru saja diberitahu oleh perusahaan perdagangan itu, ada masalah dengan kapan, pesanan Anda tidak akan dikirim. Jadi kami tidak pernah membayarnya, kami tiak pernah menerimanya,” ujar dia.

Akhirnya FEM kembali memesan bahan amonium nitrat lain sebagai gantinya. Hingga terjadi ledakan, yang perusahaan tersebut ketahui kapal pembawa bahan peledak mereka ditahan di Beirut dan isinya disita pejabat Libanon.

Ia pun mengakui pihaknya terkejut ketika mengetahui bahan amonium nitrat yang mereka pesan disimpan dengan waktu lama di pelabuhan. Ia mengatakan amonium nitrat tidak seharusnya disimpan tanpa digunakan.

“Ini adalah bahan yang sangat serius dan Anda perlu mengangkutnya dengan standar transportasi yang sangat ketat,” kata dia.

Bahan tersebut, katanya, bisa sangat berbahaya dan menghasilkan bahan peledak jika teroksidasi. Meskipun sifatnya lebih stabil dibanding bahan peledak lain, seperti bubuk mesiu.

Terdapat 2.750 metrik ton amonium nitrat yang dipesan FEM dalam kapal tersebut. Jumlah tersebut, menurut juru bicara FEM, tergolong kecil untuk pengiriman komersial.

Pihak FEM sendiri baru menyadari bahwa bahan amonium nitrat yang meledak merupakan pesanan mereka karena pemberitaan media.

Sebelumnya Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan ledakan pada Selasa (4/8) lalu disebabkan oleh timbunan amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan tanpa pengamanan selama bertahun-tahun.

Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.

Ledakan hebat tersebut menyebabkan setidaknya 154 orang meninggal dunia dan lebih dari lima ribu orang terluka. Wilayah sekitar pelabuhan juga hancur terbakar. (ist/**)

error: Content is protected !!